EDUKASI
Umat Islam Yang semakin Memprihatinkan
Pendapat

Umat Islam Yang semakin Memprihatinkan

Ada andigum populer mengatakan ‘sejarah akan terulang, dengan cerita yang berbeda’. Ya, walaupun Francis Fukuyama dengan angkuhnya mengatakan sejarah telah berakhir ditandai runtuhnya komunisme. Menurun Doi, sejarah telah berakhir ditutup oleh sistem sosial politik ekonomi kapitalistik libralisme. Namun ekstrimisme beragama yang menyebabkan terbunuhnya Ali, penyiksaan terhadap Imam Hambali dan pengusiran Fazlur Rahman dari Pakistan akan terus berulang sampai sejarah manusia berakhir.

Oleh karena kita tidak membicarakan sejarah perang dingin, maka cerita mengenai Fukuyama cukup di pembukaan saja. Fokus diskusi saat ini kita hanya mengomentari isu terkini dari pernyataan Ibu Shinta Nuriah Wahid, istri Gusdur. Kontroversial ini ada saat wawancara Dedy Combuser untuk Chanel Youtube Dady, disana muncul pernyataan ibu Shinta ‘jilbab dalam makna bahasa Indonesia penutup kepala bagi perempuan tidaklah wajib’

Lantas, munculah komentar di lini massa sebenarnya diniatkan membela islam, tapi sangat tidak islami, miris banget ya (liat foto) fenomena ini menurut pak Qurais Shihab pakar tafsir Indonesia, disebabkan oleh dua hal. Pertama, karena kebodohan, kedua karena emosi keagamaan yang meluap-luap. Jika dilihat kedua penyebab ini saling berkelindan satu sama lain, kebodohan akan menyebabkan emosi serampangan, emosi yang serampangan akan menyebabkan keangkuhan yang pada akhirnya membuat seseorang tidak lagi mau belajar, inilah pangkal dari kebodohan.

Artikel Terkait  Wabah, Agama, Sejarah

Padahal, jika kita mau sedikit belajar, meminta referensi dari ibu Shinta dan para pakar yang lain. Apakah ada landasan epistimologis yang otoritatif mengenai pernyataan ibu Shinta itu? Mungkin ini sedikit yang bisa saya jelaskan. Menurut kiyai Khusain Muhammad, sebenarnya ayat mengenai jilbab turun karena fenomena ketika istri nabi keluar rumah di malam hari, istri nabi diganggu oleh orang Munafik. Ketika di verifikasi orang tersebut mengatakan ‘saya kira istri sampean budak nabi’ lalu turunlah ayat 59 surat Al-Ahzab. Malah ada suatu kisah ketika Umar pernah memukul budaknya gara-gara budak menggunakan jilbab, Umar mengatakan ‘apakah kamu mau menyerupai perempuan merdeka?’. Bukankah alasan sosiologis hukum (i’llat) tersebut sekarang berubah, bukankah sudah terkenal dalam benak santri atau yg pernah belajar usul Fiqih ‘hukum itu berputar bersama i’llatnya, ada atau tiadanya i’llatnya tersebut.

Artikel Terkait  Bombastis, Hadapi Isu dengan Diskusi Super Sehat, Super Ahsan

Sumber otoritatif lain, menurut penulis ada dalam pendekatan hermeneutik Muhammad Syahrur, menurut beliau ada dua kategori dalam hukum sosial Alquran yaitu tahkiman dan takliman. Kategori pertama ketentuan hukum, yang ketika dilanggar ada sangsi sosial dan agamanya, seperti berzina dan mendhihar istri. Kategori kedua hanya sebagai bimbingan akhlak saja, tidak ada kewajiban dan tuntutan. Karena tidak ada sangsi sosial dalam zaman Nabi bagi pelanggarnya, jilbab masuk dalam kategori ini.

Semoga argumentasi diatas dapat membantu kita memahami alasan dibalik pernyataan Ibu Shinta, karena bagaimanapun pernyataan beliau di depan umum ada landasan yang kokoh, walaupun landasan itu tidak semua bisa disetujui banyak kalangan, terlebih pernyataan tersebut merupakan berbeda dari pendapat khlayak. Bagaimana mungkin istri dari ulama (Gusdur) dengan Ayahnya yang ulama (Wahid Hasyim) dan juga kakeknya Ulama (Hasyim As’Ariy) bisa membuat pernyataan serampangan? Mari beragama dengan ilmu dan hati yang ikhlas.

Artikel Terkait  Menyeru Kepada Khilafah, Menyeru Kepada Makhluk

Oleh Alfatih Muin: Penggerak GUSDURian Bangkalan yang sekaligus Koordinator Daerah Foorum Komunikasi Mahasiswa Tafsir Hadis Jawa Timur (FKMTH Jatim)

Author Profile

Alfatih Muin
Alfatih Muin

ARTIKEL LAIN