EDUKASI
Khazanah

Tradisi Intelektual Ulama Nusantara-Timur Tengah

Oleh: Muhammad Tuwah*

Dari “tradisi kecil Islam” ke “tradisi besar keilmuan Islam” dan “tradisi lokal”

Jika abad ke 17 dan 18 sering dianggap sebagai masa kemunduran tradisi politik Islam secara keseluruhan, tidak demikian halnya menyangkut tradisi intelektualnya. Kajian komprehensif oleh Azra telah meyakinkan kita betapa abad ke 17 dan 18 merupakan salah satu periode sejarah intelektual Islam yang paling penting dan dinamis melalui jaringan intelektual ulama yang berpusat di Makkah dan Madinah (Haramain).[1]

Jaringan tersebut terbentuk berkat sejumlah ulama yang datang dari berbagai belahan dunia Islam, termasuk di dalamnya para ulama dari dunia Melayu-Nusantara yang membawa semacam “tradisi kecil Islam” dari wilayah asalnya, dan kemudian berinteraksi dengan sejumlah tradisi kecil Islam lain, sehingga pada akhirnya membentuk sebuah “tradisi besar Islam” yang sangat kosmopolit, dan kemudian tersebar kembali ke berbagai wilayah melalui jaringan keulamaan yang terbangun.

Dalam konteks dunia Islam Melayu-Nusantara, apa yang terjadi kemudian adalah munculnya proses transmisi “tradisi besar Islam” tersebut dari Haramain ke wilayah ini, terutama melalui sejumlah ulama terkemuka yang terlibat dalam tradisi tersebut, antara lain Nuruddin al-Raniri (w. 1658), Abdurrauf al-Sinkili (1615-1693), dan Muhammad Yusuf al-Makassari (1629-1699) pada abad 17; Abdu Shamad al-Palimbani, Shaikh Arshad al-Banjari (1710-1812), dan Shaikh Dawud al-Patani (w. 1847), pada abad abad ke-17 dan 18 M. selanjutnya, pada awal abad 19 M terdapat Syekh Nawawi al-Bantani (1813-1879), Ahmad Rifa’i Kalisalak (1786-1870), Syekh Ahmad Khatib Sambas (1803-1875) dan pada abad ke-19 M, terdapat Muhammad Saleh Darat al-Samarani (w. 1903M), Shaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi (1860-1916), dan Muhammad Yasin al-Padani (1917-1990) pada abad 20, serta sejumlah ulama lainnya.

Jaringan intelektual ulama atau disebut juga dengan jama’at al-Jawiyyin di kalangan ulama Haramain ini beberapa kali terekam dalam sejumlah manuskrip. Di antaranya, Ithaf al-Dhaki, al-Kurani sendiri misalnya, juga diketahui pernah menulis sebuah risalah berjudul al-Jawabat al-Garawiyah ‘an al-Masa’il al-Jawiyah al-Jahriyah.[2]. Namun patut disayangkan hingga saat ini belum diketahui ada sarjana yang pernah menjumpai salinan karya ini, baik dalam bentuk naskah tulisan tangan apalagi cetak. Selain karya di atas, aktivitas keilmuan para ulama Melayu-Nusantara juga terabadikan dalam sebuah naskah karangan Syekh Sulaiman al-Kurdi (1715-1780), guru bagi sejumlah murid Jawi pada abad ke-18, yang berjudul al-Durrah al-Bahiyah fi Jawab al-As’ilah al-Jawiyah.[3]

Penulisan karya-karya tersebut mengindikasikan kedekatan hubungan antara murid dari Melayu-Nusantara (baca: Jawi) dan ulama-ulama yang terkait dalam tradisi intelektual di Haramain. Kedekatan itu membuat mereka tidak segan-segan untuk menyatakan atau melaporkan perkembangan kehidupan keagamaan di tanah Melayu-Nusantara  atau Jawi sendiri. Selain itu, para murid ini juga diyakini sering meminta fatwa kepada para ulama tersebut atas berbagai peristiwa di dunia Melayu-Nusantara.

Jika dalam Ithaf al-Dhaki para ulama Melayu-Nusantara (Jawi) meminta al-Kurani menulis penjelasan atas doktrin Martabat Tujuh yang terdapat dalam kitab al-Tuhfah al-Mursalah, maka dalam al-Durrah al-Bahiyah,misalnya, Syekh Arshad al-Banjari antara lain meminta fatwa gurunya itu berkaitan dengan kebijakan Kesultanan Banjar saat itu yang lebih mendahulukan pajak daripada zakat.[4]

Hubungan erat ulama Melayu-Nusantara dengan sejumlah ulama terkemuka di Haramian, khususnya dalam kehidupan intelektual-keagamaan, juga terlihat dalam pengalaman Kesultanan Banten. Sultan Abdul Qadir (1626-1651), misalnya, diketahui pernah menitipkan sejumlah pertanyaan tentang karya al-Ghazali, Nasihat al-Muluk kepada delegasi khusus yang datang ke Makkah pada tahun 1638 M, dan kemudian diajukan kepada Syekh Muhammad ibn ‘Ali ibn ‘Allan al-Siddiqi (1588-1647), ulama terkemuka lain dalam tradisi intelektual keislaman di Haramain. Untuk memenuhi permintaan Sultan Abdul Qadir tersebut, ibn ‘Alan menulis sebuah kitab yang berjudul al-Mawahib al-Rabbaniyyah ‘an al-As’ilah al-Jawiyyah.[5].

Artikel Terkait  Mengenali Ideologi Anti NKRI

Mempertimbangkan semua kenyataan itu, jelas bahwa setidaknya sejak abad ke-17 M, sejumlah ulama Melayu-Nusantara telah memberikan kontribusi bagi terbentuknya tradisi besar keilmuan Islam yang saat itu berpusat di Haramain. Pada gilirannya, berkat murid-muridnya ini yang berperan sebagai transmiter, tradisi besar yang seringkali berisi gagasan pembaharuan intelektual-keagamaan yang berkembang di Haramain ini segera menyebar di kawasan Melayu-Nusantara

Jika yang terjadi di Haramain adalah pertemuan berbagai ‘tradisi kecil Islam’ yang kemudian membentuk sebuah “tradisi besar keilmuan Islam”, maka ketika rihlah ilmiyah yang dilakukan oleh para pembawa tradisi kecil itu berakhir, sebagian besar mereka pun kembali ke wilayah asalnya masing-masing dan kemudian menyebarkan serta ‘menerjemahkan’ tradisi besar tersebut menjadi tradisi lokal yang sangat beragam.

Syekh Abdurrauf Ali al-Jawi, misalnya, setelah 19 tahun belajar agama pada tidak kurang dari 15 orang guru, 27 ulama terkenal, dan 15 tokoh mistik kenamaan di Jeddah, Mekkah, Madinah, Mokha, Bait al-Faqih, dan lain sebagainya,[6] ia kemudian kembali ke Aceh, menjadi ulama paripurna dan terkemuka, serta didatangi oleh sejumlah murid yang juga ingin belajar ilmu pengetahuan agama, seperti Syekh Burhanuddin Ulakan dari Sumatra Barat.[7] dan Syekh Abdul Muhyi Pamijahan dari Jawa Barat.[8] Pada gilirannya, murid-murid semacam Burhanuddin Ulakan dan Abdul Muhyi ini juga memiliki sejumlah murid di daerahnya masing-masing, dan demikian seterusnya hingga terbentuknya tradisi Islam lokal yang sangat dinamis dan beragam.

Dalam konteks Melayu-Nusantara, yang dimaksud dengan penerjemahan tradisi besar Islam itu tidak hanya sebatas penerjemahan kitab-kitab berbahasa Arab ke dalam berbagai bahasa lokal, melainkan lebih penting dari itu adalah penerjemahan gagasan-gagasan keilmuan Islam ke dalam konteks lokal, sehingga muncullah kemudian berbagai corak pemikiran keislaman, baik di bidang fikih, tafsir, tasawuf, hadis, dan sebagainya, dengan karakteristik yang khas dan bersifat lokal. Hal ini merupakan salah satu indikasi yang menunjukkan betapa perkembangan Islam di dunia Melayu-Nusantara ini telah memperlihatkan respon yang kreatif dan dinamis dalam meresepsi Islam.

Sebagaimana telah disinggung pada pembahasan sebelumnya, kota Haramain adalah sebutan untuk dua kota, yaitu Makkah dan Madinah. Haramain adalah pusat intelektual Muslim dunia, di mana para ulama, filosof, sufi, penyair, pengusaha, sejarawan muslim, bertemu untuk saling menukar informasi. Faktor inilah yang menjadikan para penuntut ilmu berbondong-bondong belajar di Haramain. Adapun kebangkitan jaringan ulama sendiri disebabkan oleh beberapa faktor penting, tidak hanya keagamaan, tetapi juga ekonomi, sosial dan politik. 

Karakteristik dasar jaringan ulama dan transmisi keilmuan adalah terbentuknya hubungan guru-murid secara gradual mengajarkan keilmuannya kepada muridnya. Ini berlaku tidak hanya dalam wilayah Haramain saja, tetapi juga setelah dia kembali ke tanah kelahirannya. Hubungan semacam ini, pada akhirnya membentuk jaringan intelektualisme yang berskala internasional. Pola penyebaran keilmuan juga dilakukan lewat tarekat dan tasawuf. Seperti tarekat Syattariyah, Naqsyabandiyah dan lain sebagainya.

Salah satu tanda bangkitnya keilmuan di Haramain adalah berdirinya madrasah sebagai lembaga pendidikan tipikal Muslim. Selain madrasah terdapat ribath dan zawiyyah. Baik madrasah maupun ribath kebanyakan didirikan oleh penguasa non Hijazi. Ribath adalah pusat kaum sufi. Sedangkan madrasah di Haramain  memiliki ciri khusus, yakni; kosmopolitisme. Di mana madrasah berdiri di isi oleh guru-guru dan murid-murid di luar Hijaz. Adapun pendanaan madrasah di Haramain selain wakaf orang-orang kaya juga ditanggung oleh kekhilafahan utamanya khilafah Ustmani. 

Kemajuan dibidang ilmu dan perdagangan di Haramain terus meningkatkan kuantitas ulama yang datang ke Haramain. Demikian pula jumlah jamaah haji juga terus bertambah. Voll membagi menjadi 3 tipe imigran Asia Selatan yang datang ke Haramayn. Pertama, little imigrants, yaitu orang yang datang dan bermukim di Haramain dan diam-diam terserap dalam kehidupan social keagamaan setempat. Kedua, grand immigrants,yakni ulama per excellence. Sebagian dari grand immigrants ini sangat alim dan terkenal di negeri mereka. Ketiga, ulama dan guru yang mengembara kemudian menetap di Haramain dalam perjalanan panjangnya menuntut ilmu. 

Artikel Terkait  Islam Nusantara di Minangkabau dan Jawa

Dalam konteks inilah, jaringan ulama pra abad ke-17 M dibangun dari pusat-pusat pendidikan di sekitar masjid al Haram. Namun pusat pendidikan terus berkembang ke madrasah-madrasah yang diikuti oleh ulama dari beberapa wilayah di luar Haramain. Adapun ulama Haramain pra abad ke-17 M di antaranya al-Fazi Ibn Hajar al Asqalani, Ibrahim al Kurani. Sedangkan hubungan ulama-ulama ini memliki asal usul yang kosmopolitan. Adapun dua  ulama non Hijazi yang berperang penting pada abad ke-17 M adalah Sayyid Shibghat Allah dan al-Syinnawi. Adapun yang bertangungjawab atas penyebaran ajaran Shibgat Allah adalah al-Syinnawi dan al Qusyasyi. Kemudian di wilayah Madinah murid al Qusyasyi, yaitu al Kurani. 

Sedangkan ulama yang memiliki peranan penting dalam menghubungkan ulama Mesir dengan Haramain adalah Muhammad bin ‘Ala’al Din al Babili. Adapun ulama di wilayah Afrika Utara adalah Isa al-Magribi dan Muhammad bin Sulaiman al-Magribi. Ulama-ulama ini adalah ulama grand immigrant. Adapun ulama asli asal Makkah yang berperan dalam jaringan ulama abad ke-17 M di antaranya adalah Taj al-Din bin Ahmad.

Hubungan di antara para ulama ini pada umumnya terbentuk dalam kaitan upaya mereka menuntut ilmu. Koneksi di antara mereka mengambil bentuk hubungan guru dengan murid (hubungan vertikal). Hubungan akademis ini juga mencakup bentuk guru dengan guru, murid dengan murid yang keduanya disebut hubungan horizontal. Adapun sarana terpentinng yang membuat hubungan ini makin solid adalah isnad hadis dan silsilah tarekat. 

Ciri yang paling menonjol dari jaringan ulama ini adalah bahwa saling pendekatan antara para ulama yang berorientasi pada syariat dan para sufi mencapai puncaknya. Sikap saling pendekatan antara syariat dan tasawuf (sufisme) dan masuknya para ulama ke dalam tarekat mengakibatkan timbulnya neo-sufisme dan jaringan Asia-Afrika abad ke-18 M. Istilah yang dimunculkan oleh Fazlur Rahman. Neosufisme memiliki pusat perhatian untuk melakukan rekontruksi sosial moral dari masyarakat muslim. Menurut Fazlur Rahman, ulama muslim yang bertanggungjawab dalam membantu merealisasikan kebangkitan neo-sufisme adalah para ahlu hadist. Kebangkitan neo-sufisme tidak pernah lepas dari peranan dari para ahli tradisi (ahl al-hadits). Para ahl al-hadits telah memiliki pengaruh kuat dalam mengembangkan dan menanamkan hukum Islam. Neo-sufisme dianggap sebagai sebuah kebangkitan gerakan ulama. Neo-sufisme ini berbeda dengan tasawuf atau sufi. 

Neo-sufisme lebih mengedepankan pada aktifisme para sufi dalam realitas sosial masyarakat, sementara tasawuf lebih menekankan pada passifisme terhadap realitas sosial, karena laku utamanya adalah menyepi dan menyendiri demi mencapai puncak ilahiyah, bertemu dengan Tuhan. Gerakan tasawuf awal lebih menekankan pada individualisme, sementara neo-sufisme menekankan pada eksistensi masyarakat. Menurut Fazlur Rahman, karakter neo-sufisme adalah puritan dan aktifisme. 

Gerakan neo-sufisme merupakan gerakan kembali pada ortodoksi Islam dengan menekankan rekonsiliasi antara aspek syari’ah dan tasawuf. Neo-sufisme dianggap sebagai gerakan yang mampu membentuk karakteristik pemikiran masyarakat muslim di dunia Melayu-Nusantara. Penyebaran pembaruan Islam lewat neo-sufisme pada akhirnya menghasilkan intensifikasi Islamisme. 

Di antara tokoh neo-sufisme adalah al-Qusyasyi yang mengetengahkan bahwa Nabi Saw adalah seorang sufi yang tidak pernah mengasingkan dirinya dari manusia. Sufi sejati adalah orang yang dapat bekerjasama dengan muslim lainnya untuk kebaikan masyarakat. Demikan pula al-Kurani menekankan pentingnya syariat tanpa perlu mengesampingkan kecintaannya pada tasawuf. Sulayman al-Maghribi juga mengetengahkan pendapat yanga menentang para sufi yang mengasingkan diri. Azyumardi Azra juga menuliskan bahwa tidak ada ulama yang mengikuti gagasan milenarianisme (pembaharuan seribu tahun). Di antara para ulama yang menjawab permasalahan yang mucul dari Jawa adalah al-Kurani, Ibn Ya’qub.

Artikel Terkait  Islam Jawa (Menurut Gus Muwafiq)
Neo-sufisme bila dihubungkan dengan organisasi tarekat maka pada abad ke-17 M ciri dari tarekat ini adalah tarekat diorganisasi secara longgar, tidak ada batasan jelas di antara sekian banyak tarekat, para syekh dan murid sufi tidak harus setia pada satu tarekat saja. Al-Qusyasyi memberikan ajaran kepada muridnya apabila ada ajaran tarekat yang keluar dari syariat Islam, maka di minta


[1]Azra, Azyumardi, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, Cet. II, (Bandung: Penerbit Mizan, 1994), hlm. 1.

[2]Ibid., 121

[3]“Jama’at al-Jawiyyin di Haramayn dan Pembentukan Tradisi Intelektual Islam di Dunia Melayu-Nusantara”, dalam https://naskahkuno.wordpress.com/2007/09/13/jama%EF%82%91at-al-jawiyyin-di-haramayn-dan-pembentukan-tradisi-intelektual-islam-di-dunia-melayu-nusantara/. Diakses 01 September 2016.

[4]Zamzam, Zafry, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary sebagai Ulama Juru Da’wah dalam Sejarah Penyiaran Islam di Kalimantan Abad 13 H/18 M dan Pengaruhnya di Asia Tenggara, (Banjarmasin: Penerbit Karya, 1979), hlm. 7.

[5]Voorhoeve, P., Handlist of Arabic MSS in the Library of the University of Leiden and Other Collections in the Netherlands, second enlarged edition, (The Hague/Boston/London: Leiden University Press (Codices Manuscripti, 7), XXIII-749 hlm. [edisi pertama, 1957], hlm. 204-205. Lihat juga Jajat Burhanudin, “Kerajaan-Oriented Islam: Study on al-Mawahib and Taj Us-Salatin”, Makalah dalam Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara VIII, (Jakarta: Wisma Syahida UIN Jakarta, 26-28 Juli 2004).

[6]Snouck Hurgronje, Aceh, Rakyat dan Adat Istiadatnya, Jilid II, diterjemahkan dari De Atjehers oleh Sutan Maimoen (Jakarta, INIS, 1997), hlm. 14; Oman Fathurahman, Tanbih Al-Masyi, Menyoal Wahdatul Wujud: Kasus Abdurrauf Singkel di Aceh Abad 17, (Bandung: EFEO & Penerbit Mizan, 1999), hlm. 3.

[7]Oman Fathurahman, “Tarekat Syathariyyah di Dunia Melayu-Indonesia: Kajian atas Dinamika dan Perkembangannya Melalui Naskah-naskah di Sumatra Barat”, Disertasi, (Depok: Universitas Indonesia, 2003).

[8]Tommy Christomy, “Shattariyyah Order in West Java: The Case of Pamijahan”, dalam Studia Islamika, Vol. 8, No. 2, (Jakarta: Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah, 2001), hlm 55-82.

  • MUHAMMAD TUWAH born February 12, 1971 in the village of Ulak-Ship (OIC). S1 graduated from the Department of Islamic Education in the Faculty of MT IAIN Raden Fatah Palembang in 1997. On writing since his student, on campus and media publishing, published in South Sumatra. From 1997-present, he is also active in research conducted local and national institutions. And since 2012 the Chairman of the Foundation Literacy South Sumatra.
    Among the papers in book form; Editor of the book Islam Humanist, Moyo Segoro Agung, Jakarta, in 2001, Books Editor J. Suyuthi Pulungan, Universalism Islam, Moyo Segoro Agung, Jakarta, in 2002, Books Editor M. Sirozi, Islamic Education Strategy Agenda, AK Group Yogyakarta, 2004, Books Editor M. Sirozi, Critical Notes Islamic Political Reform Era, AK Group Yogyakarta, 2004 Editor M. Sirozi Books, Politics and Education, Perss Rajawali, Jakarta, 2006, Editor Handbook for Preparation of Scientific Writing: Practical Tips for Preparing Thesis, Moyo Segoro Court, Jakarta, 2002, the book editor Alex Noerdin, Courage Changed: Reports of Muba, JP books, Surabaya (2008), book Editor Abd. Amri Siregar, Ibn Hazm: Concepts and Applications Methods Zahiri In Islamic law, Yogyakarta (2009), Editor of the book Alex Noerdin, People Must Sejahtera, Pustaka Indonesia One, Jakarta (2009), Author Ibn Amin: Hone Leadership Potential Towards Itself Devotion, Palembang (2005), Editor Books Syaripudin Bechar, Understanding Failure of Political Islam Modern (2009), Author of Free Schools: A Policy Populist in the Era of Regional Autonomy, Rambang, Palembang, (2008), Author Ratnawati Ibn Amin, Grassroots at Pentas politics, Jakarta (2010), Author Sea Games XXVI 2011: From Sumsel for Indonesia, Yogyakarta (2012), Author Book Character Education: Between Hope and reality (Yogyakarta, 2012), and Author of History Forum Pondok Pesantren Sumsel (Yogyakarta, 2013).

ARTIKEL LAIN