EDUKASI

Strategi Bangsa Mongol Mengguncang Dunia dan Kisah-Kisah Keruntuhannya

Judul                          : Jenghis Khan (Kisah Penaklukkan dunia dan Keruntuhan Mongolia)         

Penulis           : Muhammad Muhibbuddin         

Penerbit         : Araska Publisher   

Cetakan          : Nopember, 2018

Tebal              : 291 halaman

ISBN               : 978-602-2580-5660

Peresensi       : Abdul Warits

Di balik kejayaan Bangsa Mongol pada masa silam, pasti terdapat pemimpin yang menggerakkan dan berjiwa besar sehingga bisa senantiasa berkorban dan berjuang penuh semangat menggelora kepada bangsanya. Itulah yang digambarkan dalam buku ini tentang potret kehidupan Jenghis Khan yang berhasil membawa bangsa Mongol hingga ke puncak kejayaan dunia. Maka buku ini akan memperlajari bagaimana seni kepemimpinan dan politik yang mengagumkan sekaligus kontroversial Jenghis Khan membangun imperium dan peradaban Mongol.

 Mengenal sosok kepemimpinan Jenghis Khan sebagai pemimpin dunia itu memang membangun bangsa Mongol dari nol. Jenghis Khan tidak dilahirkan dari istana mewah bergelimang kekayaan, kemegahan dan keindahan.  Tetapi, ia dilahirkan di sebuah perkemahan suku nomaden yang hidup di padang rumput mongol. (hal. 03). Karena pekerjaan utama bangsa mongol adalah berburu. Hidup mereka sepenuhnya bergantung pada alam, termasuk dalam hal makanan (hal. 11)

Artikel Terkait  Rekontruksi Kontekstualisasi Novel Sejarah

Namun, siapa sangka, pemimpin yang lahir dari suku nomaden dan tak kenal peradaban itu bisa mengguncang dunia. Pada mulanya strategi yang ia lakukan adalah menyatukan seluruh suku dan klan di Mongol. Maka, mongolia tidak bisa dilepaskan dari nama Jenghis Khan bahkan ia menjadi orang yang disakralkan oleh masyarakatnya di penjuru Mongolia. Jenghis Khan adalah sebuah ikon atau simbol kebanggsan yang sangat kuat hingga wajahnya banyak dipasang di lembaran uang, bahkan di stiker vodka. Meski Jenghis Khan berwasiat agar makamnya dirahasiakan dan tidak ditemukan hingga kini. Meski beberapa pakar dari luar negeri dan pakar teknologi canggih luar angkasa sudah dikerahkan untuk melacaknya. Namun, hingga kini usahanya masih belum menemukan hasil. (hal. 200)

Jenghis Khan ketika memerintahkan pasukannya untuk menyerang Georgia, ia tidak merusak bangunan-bangunan yang ada, mengingat bangunan-bangunan yang ada di Georgia merupakan aset peradaban yang tinggi nilainya (hal. 186).  Sikap ini tentu perlu ditiru oleh pemimpin masa kini agar tidak sembarangan dalam melakukan kebijakan-kebijakan yang merugikan peradaban. Maka, tidak heran jika Jenghis Khan selain menancapkan kekuasaanya di Eropa, tepatnya di Georgia dan Rusia, dari cita-citanya ketika masih remaja sekadar menyatukan suku-suku nomaden di daratan mongol, kini usahanya telah berkembang menjadi imperium besar, dari Mongol menyeberang ke Tiongkok hingga menembus ke daratan eropa. (hal. 191) Maka dengan ini bisa dikatakan bahwa Jenghis Khan bukan hanya mempelopori, melainkan juga turut memgembangkan berdirinya imperium Mongol.

Artikel Terkait  Menimbang “Peremajaan Istilah” Bahasa Indonesia Di Kalangan Pemuda

Kendatipun, Bangsa Mongol mengekpansi dan menaklukkan banyak wilayah di timut, Eropa (barat) dan Timur Tengah. Akan tetapi, dalam sejarahnya Bangsa Mongol gagal menancapkan kekuasaannya di bumi nusantara. Hal ini terjadi pasca kematian Jenghis Khan yang digantikan oleh beberapa putranya. Salah satunya beberapa kali utusan bangsa Mongol mendatangi kerajaan Singasari dengan perjanjian kerajaan Singasari harus tunduk dibawah kekuasaan Mongol. Tetapi, utusan bangsa Mongol ini ditolak keras oleh Kertanegara, raja Singasari karena hal tersebut menurutnya merupakan bentuk imperialisme. (hal. 241)

Tidak tanggung-tanggung, bahkan utusan tersebut kembali hingga ketiga kalinya dan tetap ditolak bahkan dipermalukan. Selain menolak, kerajaan Singasari juga marah dan geram dengan sikap bangsa Mongol. Meski kedatangan bangsa Mongol ke bumi nusantara disinyalir karena ingin menguasai perdagangan laut, bahkan ada yang menduga akan mendominasi perdagangan rempah-rempah di bumi nusantara. Buku ini menarik jika dikaitkan dengan bagaimana eksistensi masyarakat politik (political society) karena bangsa Mongol telah berhasil membangun komunitas politik dari awal hingga mencapai perkembangannya lewat pemimpin yang sangat berpengaruh dan berjiwa besar bernama Jenghis Khan.     

Artikel Terkait  Mendeteksi Infiltrasi dan Kontaminasi Penafsiran Al-Quran

*Pernah Aktif di LPM Fajar Instika.  

ARTIKEL LAIN