EDUKASI
SEPI LIKE PENGAJIAN DARING GAGAL, KATA SIAPA
Khazanah Pendapat

Sepi Like Pengajian Daring Gagal, Kata Siapa?

Oleh Ayik Heriansyah

Pengurus LD PWNU Jabar

Dunia ini saja sudah maya, penuh tipuan dan kepalsuan. Apalagi dunia virtual. Lebih maya dari dunia tempat kita hidup ini. Tipuan dan kepalsuannya berlipat-lipat (eksponensial).

Jika di dunia satu orang hanya punya satu akun resmi, di dunia virtual, satu orang bisa punya 10, 100 bahkan lebih. Di dunia virtual, seorang preman bejat, bisa edit wajahnya bercahaya bak seorang wali. Sebaliknya, seorang wali bisa diedit fotonya menjadi seorang bajingan.

Dunia virtual tidak bisa dijadikan standar dan ukuran bagi dunia nyata. Jumlah like, share dan coment tidak mencerminkan realitas yang sesungguhnya. Karena itu permainan para buzzer dan influencer untuk menciptakan dan mengarahkan opini warganet.

Misalnya, satu orang buzzer dan influencer bisa membuat 100 like, share dan comment dengan akun yang berbeda. Dalam perang opini, fakta ini baik-baik saja, cuman menjadi masalah jika dijadikan tolak ukur keberhasilan dakwah dan pengajian daring.

Artikel Terkait  KHD: Kalau Saya Seorang Belanda (Als Ik Eens Nederlander Was)

Tentu saja, yang menjadi ukuran keberhasilan dakwah dan pengajian, di dunia nyata dan atau di dunia virtual adalah semakin dekatnya dan sampainya seseorang kepada Allah swt yang menunjukkan terjadi perubahan ahwal (kondisi/suasana hati) pendengar setelah cahaya-cahaya ilmu masuk ke dalam hatinya. Secara zhahir tampak dari tampilan adab dan akhlak dalam kehidupan sehari-hari.

Sampainya cahaya ilmu ke hati seseorang, ditentukan oleh sumber cahaya itu sendiri. Bukan oleh media. Syaikh Ibnu ‘Atha’illah mengatakan: “Cahaya orang bijak mendahului perkataannya. Ketika datang cahaya, sampailah pada penjelasan”

Kata Syaikh Zarruq, cahaya orang bijak adalah pengetahuan di dada mereka yang berasal dari hakikat maknawi yang dibukakan bagi mereka dari khazanah hikmah. Pada saat itu, al-Haqq bersama ucapan dan perbuatan.

Artikel Terkait  Pancasila dan NU; Adalah Sumber Kekuatan

Cahaya itu mendahului masuk ke dalam hati mereka, kemudian mereka berbicara yang sesuai dengan ahwal mereka sehingga apa pun yang mereka ucapkan sampai dan diterima telinga orang yang mendengarnya. Siapa pun yang pembicaraannya bersumber dari cahaya yang sempurna, faedah yang diterima pendengar pun sempurna.

Sebaliknya barang siapa yang pembicaraannya bersumber dari kekurangan, yang diterima pendengar pun kekurangan. Begitu pula siapa yang pembicaraanya bersumber dari nafsu, pendengar pun menerimanya dengan nafsu. Karena apa yang keluar dari hati akan masuk ke hati. Dan yang sebatas lisan hanya akan sampai di telinga. Karena kata Syaikh Ibnu ‘Atha’illah: “Setiap perkataan yang diungkapkan selalu diselimuti oleh pakaian hati yang menjadi sumbernya.”

Media sosial sebatas media, bukan sumber cahaya ilmu dan hikmah. Pengaruh dakwah dan pengajian di media sosial tergantung dari ahwal narasumber. Keberhasilan dakwah dan pengajian daring bukan ditentukan oleh jumlah like, share dan comment. Tapi lihatlah dari perubahan adab dan akhlak para pendengarnya.

ARTIKEL LAIN