EDUKASI

Rekontruksi Kontekstualisasi Novel Sejarah

Judul                : Api Tauhid    

Penulis             : Habiburrahman El-Shirazy  

Penerbit           : Republika   

Cetakan           : XVI, Januari  2018

Tebal               : 587 halaman

ISBN               : 978-602-8997-95-9

Presensi           : Abdul Warits  

 Sejarah adalah adalah kejadian atau peristiwa yang terjadi di masa lampau. Sejarah merupakan barang yang langka dan memiliki arti penting bagi umat manusia. Karenanya, novel yang berjudul Api Tauhid ini menghadirkan dua cerita yang sangat menarik di dalamnya. Cerita yang memiliki arti penting dalam membangun peradaban kebangsaan, keagamaan dengan semangat kegigihan dalam memperjuangkan melalui ilmu pengetahuan. Sejarah tentang Syaikh Badiuzzaman Said Nursi adalah “teks” yang harus ditafsirkan dan direkontruksi menjadi cerita menarik dalam sebuah novel. Sedangkan, cerita Fahmi dan Nuzula adalah cerita ”kontektual” dari kepribadian Said Badiuzaman Nursi  dengan perspektif yang berbeda, menarik, dan penuh dengan lika-liku perjuangan yang mengesankan.

 Imam Nawawi pernah mengatakan bahwa hendaklah seseorang ketika masih muda menfokuskan dirinya pada ilmu pengetahuan sehingga beliau pernah berujar dengan statemen, ”saya menikah dengan ilmu,”. Perkataan ini tentu saja mempunyai korelasi dengan kisah yang ada dalam novel sejarah ini. Seorang Badiuzaman Said Nursi adalah tokoh utama dalam melahirkan pandangan dan sudut pandang tokoh kedua yaitu Fahmi yang menjadi peran “kontektual” bagaimana kepribadian Badiuzaman Said Nursi juga bersemayam dalam dirinya.

Artikel Terkait  Dahsyatnya Eksistensi Cinta dan Kasih Sayang

Di dalam novel ini, dipertemukan sebuah peradaban Indonesia dengan Turki yang mempunyai sejarah masa silam yang cukup berharga sehingga pembaca juga diajak mengamati pemahaman antar peradaban. Bahkan, hampir secara gamblang, penulisnya menggambarkan kondisi bumi Indonesia dan Turki secara bersamaan. Misalnya menggambarkan kabupaten Lumajang sebagai kota yang terkenal dengan lumbung pisang di Jawa Timur. (hal. 33). Bahkan, di dalam novel ini juga disebutkan tentang karakter masyarakat jawa. “orang jawa bicaranya kadang seperti guyon, tapi serius.” (hal. 34). Ini digambarkan dalam situasi keluarga Fahmi di Indonesia.    

Novel ini tentu saja membuat pembaca semakin tertarik karena di dalamnya  terdapat nilai-nilai perjuangan, cinta, kasih sayang, dan nilai-nilai religius yang menghiasi novel fenomenal ini. Tidak heran, jika novel ini telah dicetak oleh penerbit sampai belasan kali membuktikan bahwa perjuangan yang disertai dengan perasaan cinta adalah cara terbaik seseorang dalam mengobarkan api tauhid di zaman kontemporer ini. Dalam pengantarnya, Yon Mahmudi, Ph.D mengatakan bahwa kekuatan sebuah novel sejarah tentu terletak pada kemampuannya dalam menampilkan peristiwa sejarah secara indah dan menawan yang berfungsi untuk menjadikan peristiwa masa lalu (mati) dalam novel ini menjadi hidup kembali (living history). Hal tersebut betul-betul terjadi dalam novel ini ketika tokoh Fahmi menjadi tokoh paling berperan dalam menghidupkan kehidupan Badiuzzaman Said Nursi.     

Artikel Terkait  Menyemai Sikap Kepedulian Kepada Sesama Sejak Remaja

Satu kisah kontekstual dari Fahmi yang meniru tirakat Kiai Munawwir Krapyak Yogyakarta dengan perjuangannya dalam mengkhatamkan Al-quran di Masjidil Haram. Selain itu, sikap kehati-hatiannya dalam bergaul dengan perempuan meniru tingkah laku Badiuzaman Said Nursi dan menuntut ilmu sebanyak-banyaknya menjadi sesuatu yang hidup dan menjadi makna yang kaya akan berbagai pelajaran hidup kepada manusia kekinian.

Kekurangan yang terdapat dalam novel ini adalah bercampuraduknya cerita tentang kehidupan Badiuzaman Said Nursi dengan Fahmi dalam dua cerita yang digabung sehingga pembaca seakan-akan dibuat bingung diawal-awal. Tetapi, pembaca akan menemukan titik terang ketika dipertengahan dan menemukan pemahaman bahwa yang bercerita tentang Badiuzaman Said Nursi adalah teman Fahmi yang diceritakan sambil mengunjungi tempat bersejarah dimana Badiuzzaman Said Nursi pernah berjuang membela umat. Selain itu, novel ini juga menceritakan bagaimana kehidupan orang tua Badiuzzaman Said Nursi ketika itu.

Artikel Terkait  Belajar Strategi Dakwah yang Memikat Nurani

Ada satu pelajaran menarik yang bisa ditangkap oleh pembaca. Salah satunya kisah orang tua Badiuzzaman Said Nursi yang memang sangat wara’ dalam persoalan menggunakan barang halal dan haram. Kehati-hatian dalam menggunakan barang yang halal dan haram ini sangat berdampak postif dalam kehidupan mereka. Itu terbukti dengan lahirlah Badiuzzaman Said Nursi sebagai seorang yang alim, cerdas, kuat hafalannya, pemberani, dan sangat disegani oleh berbagi kalangan. Maka, pantas jika anaknya menjadi seorang yang benar-benar hebat di zamannya. Novel ini tidak hanya memberikan aura sejarah, cinta, kasih sayang, pelajaran hidup kepada pembaca. Akan tetapi, novel ini juga berhasil membawa emosi pembaca tenggelam ke dalam sebuah hakikat ketulusan dan kesetiaan dalam percintaan, perjuangan membangun kehidupan yang lebih bermartabat.

*Membina Komunitas Kumpulan Baca Nulis dan Diskusi (KUBA NUDISK) PP. Annuqayah Kusuma Bangsa Putri.

ARTIKEL LAIN