EDUKASI
Pondok Pesantren Siwalan Panji Cetak Ulama Tokoh Bangsa, dan Pahlawan

Pondok Pesantren Siwalan Panji Cetak Ulama Tokoh Bangsa, dan Pahlawan

Pondok Pesantren Siwalan Panji, Sidoarjo, terkenal sebagai pencetak ulama besar, tokoh bangsa, pahlawan nasional, dan negarawan. Siwalan Panji adalah sebuah desa yang terletak di kecamatan Buduran Kabupaten Sidoarjo. Di desa ini berdiri Pesantren Al-Hamdaniyyah, 1787 M.

Pesantren ini memang tidak masuk dalam catatan lima pesantren tertua. Namun, peranannya tak kalah penting dibandingkan dengan pondok-pondok pendahulunya. Lima Pondok Pesantren yang tercatat sebagai pesantren tertua di Indonesia, yakni Ponpes Sidogiri (1745), Ponpes Jamsaren (1750), Ponpes Buntet (1950), Ponpes Miftahul Huda (1785), dan Ponpes Darul Ulum Banyuanyar (1987).

Disadur dari berbagai sumber, Pesantren Al-Hamdaniyyah, lahir di Siwalan Panji, Sidoarjo, pada 1787 M. Gedungnya masih ada sampai sekarang. Namun, sekilas tidak ada yang istimewa dari beberapa bangunan tua yang merupakan kompleks pesantren tersebut.

Seperti biasa, hanya ada ruang belajar santri dengan arstitektur sederhana. Sayangnya Pondok Pesantren ini pernah beberapa kali terbakar akibat serangan Belanda. Sehingga tak sedikit peninggalan sejarah yang hangus terbakar.

Saat ini ada sekitar 200 santri dari berbagai daerah belajar di tempat itu. Pesantren ini bersebelahan dengan Pondok Pesantren Al-Khoziny yang cukup besar dan masih terjalin kekerabatan dengan Siwalan Panji, mengingat KH Khozin sang pendiri adalah menantu dari KH Ya’qub.

Artikel Terkait  China dan Islam

Di balik kesederhanaannya, Al-Hamdaniyyah menjadi saksi sejarah dimana ulama-ulama besar sekaligus pejuang kemerdekaan pernah nyantri. Ada banyak nama ulama besar yang pernah belajar di tempat itu, di antaranya:’

  1. Hadratus Syekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari (1871-1947). Dia adalah pendiri Nahdlatul Ulama (NU), ormas Islam tersbesar di Indonesia. Pejuang kemerdekaan, pahlawan nasional, dan pengasuh Pesantren Tebuireng, Jombang. Beliau juga dikenal bapak kaum santri, pembela tanah air, dan pemrakarsa Komite Hijaz.
  2. Al Maghfurlah KH R. As’ad Syamsul Arifin (1897-1909). Dia adalah pengasuh Pondok Salafiyah Syafiiyyah Sukorejo Situbondo, anggota DPRD Situbondo, anggota Konstituante, dan Musytasyar PBNU.
  3. KH MUhammad Dahlan (1909-1977). Dia adalah pemrakarsa MTQ dan beridirnya PTIQ. Pernah juga menjadi menteri agama RI, Ketua Umum PBNU, anggota Konstituante, dan anggota DPA.
  4. KH Abdul Wahid Hasyim (1914-1953). Dia adalah penasihat Panglima Besar Sudirman, perintis berdirinya Hizbullah, menteri agama RI, Ketua Umum PBNU, pendiri STTI Jakarta, anggota perumus Pancasila, dan anggota termuda BPUPKI/PPKI.
  5. KH Ridwan Abdullah (1884-1962). Dia adalah pencipta lambang NU, anggota Konstituante, pendiri NU, dan A’wan Syuriah NU.
  6. KH Ahmad Sahal, Pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor.
  7. KH Anwar, Pendiri Pondok Pesantren An-Nur Bululawang Malang.
  8. KH Said, Pendiri Pondok Pesantren Agama Islam Ketapang Kepanjen.
  9. KH Alwi Abdul Aziz, Pencetus nama Nahdatul Ulama.
  10. KH Mahrus Ali, pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo.
Artikel Terkait  Humor Gus Dur, Soeharto dan Harmoko Naik Haji

Sederet nama besar tersebut, semuanya pernah mondok Pesantren Siwalan Panji. Selain mengajarkan berbagai ilmu agama, pondok itu pernah menjadi saksi sejarah perjuangan merebut kemerdekaan bangsa Indonesia.

Al-Hamdaniyyah menjadi tempat pertemuan antara presiden Soekarno, Bung Hatta dan Bung Tomo. Dari pertemuan itu lahir Laskar Hizbullah. Selain itu, Al-Hamdaniyyah juga sering menjadi tempat pertemuan tokoh-tokoh nasional pada zaman Revolusi seperti KH Wahab Hasbullah, KH.Wahid Hasyim, KH Idham Cholid, Buya Hamka dan tokoh-tokoh besar lain.

Pesantren ini didirikan oleh KH Hamdani, seorang ulama yang dikenal alim, zuhud dan bersahaja. Beliau adalah putra dari Murroddani bin Sufyan bin Khasan Sanusi bin Sa’dulloh bin Sakaruddin bin Mbah Sholeh Semendi asal Winongan Pasuruan.

Pondok pesantren itu merupakan salah satu yang tertua yang ada di Jawa Timur. KH Hamdani mendirikan pesantren sebagai sarana dakwah kepada masyarakat sekitarnya di Siwalanpanji, Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo. Dahulunya daerah itu dikenal sebagai tempat para pemabuk dan penjudi.

Artikel Terkait  Islam Banten, Sejarah dan Peninggalannya yang Tak Banyak Kita Ketahui

Saat membangun pondok, KH Hamdani mendatangkan kayu dari daerah Cepu, Jawa Tengah menggunakan perahu besar. Bangunan asrama santri berdinding anyaman bambu dan diberi jendela di setiap kamar. Bangunan juga disangga dengan kaki-kaki beton membuat asrama nampak seperti rumah joglo.

Setiap asrama di pesantren ini dibagi dalam beberapa kamar yang diisi dua hingga tiga santri dengan ukuran ruangan 2 x 3 meter. Di dalam kamar kecil itulah, tempat para santri belajar dan beristirahat .
Keunikan pondok tersebut masih dipertahankan sampai sekarang, seperti kamar KH Hasyim Asy’ari yang sengaja tidak pernah dipugar. Kamar itu masih seperti dulu agar bisa menjadi pelajaran kepada para santri, bahwa untuk menjadi tokoh besar tak perlu fasilitas mewah.

ARTIKEL LAIN