EDUKASI
Pertemuan Budaya Nusantara dengan Budaya Islam
Khazanah

Pertemuan Budaya Nusantara dengan Budaya Islam

Hubungan antara Islam dengan isu-isu lokal adalah kegairahan yang tak pernah usai. Hubungan intim antara keduanya dipicu oleh kegairahan pengikut Islam yang mengimani agamanya dengan slogan: shalihun li kulli zaman wa makan yang artinya selalu baik untuk setiap waktu dan tempat. Islam akan senatiasa dihadirkan dan diajak bersentuhan dengan keanekaragaman konteks. Fakta yang tidak bisa dipungkiri adalah bahwa kehadiran Islam tersebut dalam setiap konteks tertentu tidak nihil dari muatan-muatan lokal yang mendahului kehadiran Islam.

Islam tidak datang ke sebuah tempat dan di suatu masa yang hampa budaya. Dalam ranah ini, hubungan antara Islam dengan anasis-anasir lokal mengikuti model keberlangsungan (al-namudzat al-tawashuli), ibarat manusia yang turun-temurun lintas generasi, demikian juga kawin-mengawini antara Islam dengan muatan-muatan lokal. Di sisi lain, Islam merupakan agama yang berkarakteristik universal, dengan pandangan hidup mengenai persamaan, keadilan, takaful, kebebasan dan kehormatan serta memiliki konsep teosentrisme yang humanistik sebagai nilai inti dari seluruh ajaran Islam. Oleh karenanya selalu menarik menjadikannya tema dalam studi peradaban Islam. Pada saat yang sama, dalam menerjemahkan konsep-konsep langitnya ke bumi, Islam mempunyai karakter dinamis, elastis dan akomodatif dengan budaya lokal, selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam itu sendiri. Permasalahannya terletak pada tata cara dan teknis pelaksanaan.[1]

Upaya rekonsiliasi memang wajar antara agama dan budaya di Indonesia dan telah dilakukan sejak lama serta bisa dilacak bukti-buktinya. Masjid Demak adalah contoh konkrit dari upaya rekonsiliasi atau akomodasi itu. Ranggon atau atap yang berlapis pada masa tersebut diambil dari konsep meru dari masa pra-Islam (Hindu-Budha) yang terdiri dari sembilan susun. Sunan Kalijaga memotongnya menjadi tiga susun saja. Hal ini melambangkan tiga tahap keberagamaan seorang muslim yaitu iman, islam dan ihsan. Pada mulanya, orang baru beriman saja, kemudian ia melaksanakan islam ketika telah menyadari pentingnya syari’at, barulah ia memasuki tingkat yang lebih tinggi lagi (ihsan) yaitu dengan jalan mendalami tasawuf, hakikat dan makrifat.

Kasus ini memperlihatkan bahwa Islam lebih toleran terhadap budaya lokal. Budha masuk ke Indonesia dengan membawa stupa, demikian juga Hindu. Islam, sementara itu tidak memindahkan simbol-simbol budaya Islam Timur Tengah ke Indonesia. Dengan fakta ini, terbukti bahwa Islam tidak anti budaya.[2] Semua unsur budaya dapat disesuaikan dalam Islam. Pengaruh arsitektur India misalnya, sangat jelas terlihat dalam bangunan-bangunan masjidnya. Demikian juga pengaruh arsitektur khas Mediterania yang menunjukkan bahwa budaya Islam memiliki begitu banyak varian.

Yang patut diamati pula, kebudayaan populer di Indonesia banyak sekali menyerap konsep-konsep dan simbol-simbol Islam, sehingga seringkali tampak bahwa Islam muncul sebagai sumber kebudayaan yang penting dalam kebudayaan populer di Indonesia. Kosakata bahasa Jawa maupun Melayu banyak mengadopsi konsep-konsep Islam. Misalnya, dengan mengabaikan istilah-istilah kata benda yang banyak sekali dipinjam dari bahasa Arab, bahasa Jawa dan Melayu juga menyerap kata-kata atau istilah-istilah yang berkenaan dengan ilmu pengetahuan. Istilah-istilah seperti wahyu, ilham atau wali misalnya, adalah istilah-istilah pinjaman untuk mencakup konsep-konsep baru yang sebelumnya tidak pernah dikenal dalam khazanah budaya lokal populer.

Dalam hal penggunaan istilah-istilah yang diadopsi dari Islam, tentunya perlu dibedakan mana yang arabisasi dan mana yang Islamisasi. Penggunaan dan sosialisasi term-term Islam sebagai manifestasi simbolik dari Islam tetap penting dan signifikan serta bukan menyibukkan dengan masalah-masalah semu atau hanya bersifat pinggiran. Begitu juga penggunaan term shalat sebagai ganti dari sembahyang (berasal dari istilah jawa nyembah sang Hyang)[3] adalah proses Islamisasi bukannya arabisasi. Makna substantif dari shalat mencakup dimensi individual-komunal dan dimensi pribumisasi nilai-nilai substansial ini ke alam nyata.

Di masa sekarang, khususnya di Jawa, sulit bagi kita untuk menemukan bentuk Islam yang asli dan orisinil. Ini dikarenakan, sebelum Islam masuk ke Indonesia, di Jawa sudah berkembang tradisi Hindu dan kejawen yang sangat mengakar kuat di masyarakat.[4] Hal ini kemudian sangat mempengaruhi perkembangan penyebaran Islam. Model dakwah kultural dengan cara damai yang dikembangkan oleh para penyebar agama Islam yang dalam hal ini adalah walisongo sangat berpengaruh pada eksistensi Islam saat ini.[5] Dengan cara mengisi seluruh elemen budaya dan kehidupan dengan nilainilai Islam tanpa harus menghilangkan dan merubah budaya tersebut, menyebabkan Islam bisa diterima dengan mudah oleh masyarakat. Implikasi logis dari model dakwah tersebut, yakni terjadinya akulturasi Islam dengan budaya lokal.

Artikel Terkait  'Membumikan' Kembali Pemikiran Gus Dur di Tengah Kuatnya Formalisasi Syariat

Asimilasi budaya lokal pertama dilakukan oleh para pedagang muslim yang datang ke Nusantara. Pedagang menyapa untuk mempromosikan dagangannya sekaligus menawarkan keyakinan keislamannya. Kekuatan ekonomi sebagai simbol kesejahteraan dan keimanan atau kepercayaan sebagai dasar kedamaian berdialektika secara bersamaan oleh para juru dakwah kepada masyarakat. Kesejahteraan dan kedamaian tersebut dimantapkan secara sosio-religius dengan ikatan perkawinan yang membuat tradisi Islam Timur Tengah menyatu dengan tradisi Nusantara atau Jawa.[6] Akulturasi budaya ini tidak mungkin terelakkan setelah terbentuknya keluarga Muslim yang merupakan nucleus atau awal komunitas Muslim dan selanjutnya memainkan peranan yang sangat besar dalam penyebaran Islam. Akulturasi budaya ini semakin menemukan momentumnya saat para pedagang ini menyunting keluarga elit pemerintahan atau keluarga kerajaan yang berimplikasi pada pewarisan kekuatan politik di kemudian hari.[7]

Tiga daerah asal para pedagang tersebut dari Arab (Mekah-Mesir), Gujarat (India), dan Persia (Iran) telah berhasil menambah varian akulturasi budaya Islam Nusantara. Hal ini bisa dirujuk dengan adanya gelar sultan al-Malik bagi raja kesultanan Samudra Pasai. Gelar ini mirip dengan gelar sultan-sultan Mesir yang memegang Madzhab Syafi’iyyah, gaya batu nisan menunjukkan pengaruh budaya India, sedangkan tradisi syuroan menunjukkan pengaruh budaya Iran atau Persia yang syi’i. Di saat para pedagang dan komunitas muslim sedang hangat memberikan sapaan sosiologis terhadap komunitas Nusantara dan mendapatkan respon yang cukup besar sehingga memiliki dampak politik yang semakin kuat, di Jawa, kerajaan Majapahit pada abad ke-14 mengalami kemunduran dengan ditandai candra sangkala, sirna ilang kertaning bumi (1400/1478 M) yang selanjutnya runtuh karena perang saudara. Setelah Majapahit runtuh, daerah-daerah pantai seperti Tuban, Gresik, Panarukan, Demak, Pati, Yuwana, Jepara, dan Kudus mendeklarasikan kemerdekaannya kemudian semakin bertambah kokoh dan makmur.

Dengan basis pesantren, daerahdaerah pesisir ini kemudian mendaulat Raden Fatah yang diakui sebagai putra keturunan Raja Majapahit menjadi sultan kesultanan Demak yang pertama. Demak sebagai simbol kekuatan politik hasil akulturasi budaya lokal dan Islam menunjukkan perkawinan antara pedagang Muslim dengan masyarakat lokal sekaligus melanjutkan warisan kerajaan Majapahit yang dibangun di atas tradisi budaya Hinduis-Budhis yang kuat. Peradaban yang berkembang selanjutnya terasa berbau mistik-panteistik dan mendapat tempat yang penting dalam kehidupan keagamaan Islam Jawa sejak abad 15 dan 16. Hal ini bisa ditemukan dalam karya sastra Jawa yang menunjukkan dimensi spiritual mistik yang kuat.

Islam yang telah berinteraksi dengan budaya Arab, India, dan Persia dimatangkan kembali dengan budaya Nusantara yang animis-dinamis dan Hinduis-Budhis. Jika ditarik pada wilayah lokal Jawa, masyarakat muslim Jawa menjadi cukup mengakar dengan budaya Jawa Islam yang memiliki kemampuan yang kenyal (elastis) terhadap pengaruh luar sekaligus masyarakat yang mampu mengkreasi berbagai budaya lama dalam bentuk baru yang lebih halus dan berkualitas. Asimilasi dan akomodasi budaya pada akhirnya menghasilkan berbagai varian keIslaman yang disebut dengan Islam lokal yang berbeda dengan Islam dalam great tradition. Fenomena demikian bagi sebagian pengamat memandangnya sebagai penyimpangan terhadap kemurnian Islam dan dianggapnya sebagai Islam sinkretis. Meskipun demikian, banyak peneliti yang memberikan apresiasi positif dengan menganggap bahwa setiap bentuk artikulasi Islam di suatu wilayah akan berbeda dengan artikulasi Islam di wilayah lain.

Berikut ini adalah contoh budaya yang mengalami asimilasi:

  1. Upacara khitanan

Upacara khitanan ini dilakukan pada saat anak laki-laki dikhitan. Khitanan sebenarnya sudah muncul sebelum islam lahir, dalam kitab Mughni al-Muhtaj dikatakan bahwa orang laki-laki yang pertama kali melakukan khitan adalah Nabi Ibrahim as. Dan dari kalangan wanita yang melakukan khitan adalah Siti Hajar.[8]

Dari berbagai penelitian tentang masalah khitan yang melalui organisasi kesehatan duni menyebutkan bahwa di Mesir tradisi khitan ini telah dilakukan jauh sebelum Islam lahir. Data telah menunjukkan bahwa praktek khitan ini sudah ada sejak 6000 tahun yang lalu di selatan Afrika, inipun dibuktikan adanya bukti-bukti gambar relief dari zaman Mesir pada tahun 2800 SM.[9]

Sementara di Indonesia mengenal tradisi khitan ssebelum adanya Islam, seperti halnya masyarakat Banten, dalam sejarah permulaan masuknya Islam dii wilayah kerajaan Pajajaran Kropok 406 ini adalah sebuah naskah cerita parahiayangan mengungkapkan bahwa “Sumbelihan niat inya bresih suci wasah, disunat ka tukangnya jati sunda teka” (Disunat agar terjaga dari kotoran, bersih bila dibasuh. Disunat pada ahlinya, merupakan kebiasaan adat sunda yang sesungguhnya). [10]

Artikel Terkait  Islam Nusantara di Minangkabau dan Jawa

Dari keterangan diatas menjelaskan bahwa tradis khitan telah dikenal lama oleh orang sunda sebelum ajaran Islam menyebar luas diwilayahnya. Kedatangan Islam yang memuat tentang khiitan terutama khitan laki-laki merupakan penyempurnaan religi atas adat dan tradisi yang telah lama dipegangnya.

  • Upacara Kematian

Upacara yang dilaksanakan saat mempersiapkan penguburan orang mati yang ditandai dengan memandikan, mengkafani, menshalati, dan pada akhirnya menguburkan jenazah kepesarean (pemakaman). Selama sepekan setelah penguburan diadakan tahlilan tiap malam hari yang dinamakan slametan mitung dino, yaitu kirim do’a kepada si jenazah yang didahului dengan acaan tasybih, tahmid, takbir, tahlil dan shalawat pada Nabi Muhammad saw. Sebagaimana budaya Jawa, slametan ini dilakukan sampai mendaknya orang yang meninggal. Di samping itu juga ada upacara nyadran yaitu upacara ziarah kubur pada waktu menjelang bulan Ramadhan.

Selain dari beberapa upacara-upacara tersebut, ada juga upacara yang berkaitan dengan lingkaran hidup yaitu upacara atas kekeramatan bulan-bulan hijriyah dan upacara tahunan. Pada kekeramatan bulan-bulan hijriyah ada upacara ba’da besar, suranan, rejeban, syawalan (kupatan), dan Safaran yang didalamnya terdapat  ritual  Rebo Pungkasan, lebih mudahnya hari Rabu akhir dibulan Safar. Kata Rebo mengisyaratkan hari Rabu dan kata Wekasan berasal dari kata pungkasan atau pamungkas yang berarti terakhir.[11] Rebo Wekasan ini dirayakan oleh sebagian ummat Islam diIndonesia , terutama di Palembang, Lampung, Kalimantan Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DIY, dan kemungkinan sebagian kecil masyarakat Nusa Tenggara Barat.

Secara umum, perkembangan upacara adat Rebo Wekasan banyak yang mengalami perubahan dalam bentuk pergeseran nilai, bahkan penambahan bentuk upacara. Perubahan yang terjadi bisa mengarah kepada kemunduran ataupun kemajuan. Tetapi secara garis besar perubahan tersebut jelas telah menyebabkan upacara Rebo Wekasan bergeser dari bentuk aslinya. Tetapi pergeseran itu memang mutlak karena kebutuhan daerah tertentu, misalkan adanya pendatang atau modernisasi (pola pikir). Tetapi sejatinya tidak merubah esensi makna Rebo Wekasan tersebut. Ritual ini merupakan suatu bentuk upacara tradisional yang dilakukan dengan maksud untuk menghindari marabahaya yang datang di hari Rabu akhir bulan Safar itu.

Rebo wekasan (hari rabu yang penghabisan dari bulan kedua) menurut Denys Lombard yaitu bulan Safar merupakan kutub negatif. Orang tidak keluar rumah dan menghindari segala kegiatan, untuk mengenang nabi Muhammad sakit. Hari itu juga merupakan hari yang kurang baik menurut penanggalan pra- Islam.[12] Dikatakan dalam penanggalan-penanggalan pra- Islam itu pertamatama menunjukan indikasi-indikasi hari yang baik dan yang buruk. Suatu indikasi waktu tertentu selalu akan tampak mengandung potensi ini dan itu, dan orang yang berkepentingan harus memperhitungkan dengan perhitungan “ala ayu” waktu karena itulah cara menghindari bencana yang mengancam. Tetapi penaggalan Islam sebaliknya, mencoba meratakan semua ketidaksamaan itu dengan tujuan menggangkat persepsi waktu yang secara mendasar bersifat netral, koheren dan seragam.

Satu hal yang menarik adalah melihat bagaimana perayaan-perayaan islam menumpangi perayaan-perayaan yang terkait dengan ritme tahun matahari, dan sedikit demi sedikit menggesernya menjadi sesuai dengan tahun Hijriyah. Bulan pertama (muharram) di Jawa dinamakan Sura, berhubung dengan hari perayaan kesepuluh (asyura). Setelah berpuasa (puasa sunat) dihidangkan bubur sura, upacara yang harus dihubungkan disatu pihak dengan perayaan kesuburan jaman pra-Islam.[13] Artinya sejarah mengatakan bahwa saat Islam datang dan masuk ke dalam budaya Jawa, Islam sendiri tidak menghapus tetapi menumpangi sehingga tidak menggeser kebudayaan di Jawa.

Dan mungkin inilah salah satunya perayaan Rebo Wekasan yang mungkin dimana Perayaan ini dibawa dari luar jawa tanpa menggeser kebudaan di Jawa. Sehingga perayaan ini masih diterima dan dijalankan oleh masyarakat muslim Jawa, karena memang sejak dari awal dipercaya bahwa pada hari itu akan diturunkan marabahaya sehingga umat muslim berbondongbondong bagaimana cara menanggulanginya. Dalam hal ini umat Islam dianjurkan untuk berdo’a dan memperbanyak amalan shalat sunnah di setiap waktunya. Tidak hanya di bulan Safar saja, namun juga di bulan-bulan yang lain, sebab melalui do’a-lah takdir Allah dapat diubah

Artikel Terkait  Kaderisasi Syaikh Abdul Qadir al-Jailani

Para walisongo pun sudah mengajarkan tradisi yang Islami bagi masyarakat Jawa seperti sedekah, shalat hajat, berdiam diri di masjid dan berdoa sebagaimana yang telah disebutkan di atas. Dengan demikian, maka akan semakin menyadarkan manusia supaya mereka yakin bahwa semua kemujuran dan kesialan adalah sepenuhnya berada pada genggaman takdir Allah SWT dengan mendekatkan diri kepada-Nya

Dalam prosesinya sendiri terdapat perbedaan antar daerah. Misalnya saja ada yang mengadakan pengajian akbar dan do’a bersama. Pengajian akbar tersebut merupakan media yang dimanfaatkan untuk melakukan syi’ar agama Islam dengan tujuan untuk menambah pemahaman masyarakat tentang agama dan memperkuat iman. Adapun  do’a merupakan prosesi yang tak dapat ditinggalkan dalam tradisi santri, terutama untuk memohon keselamatan dengan meminta berkah dari para Kyai. Ciri khas ritual do’a dari tradisi Rebo Wekasan ialah tidak menggunakan media sesaji dan dupo seperti kebiasaan lama orang jawa, sesaji lebih di wujudkan dalam bentuk sedekah yang dibagikan kepada masyarakat.

Untuk menghindari dari  ritual yang diannggap menyalahi syariat islam biasanya di beberapa daerah pelaksanaan ritual upacara diisi dengan pembacaan ad-Diba’i/al-Barzanji atau dengan Tahlilan (istilah orang jawa). Seandainya perbuatan yang mereka lakukan itu kurang ada tuntunannya menurut teks-teks al-Qur’an atau hadits, mereka masih mengatakan itu sekedar ibadah afdhaliyatu a’mal dan tentu tetap mendapatkan pahala. Dari keyakinan keyakinan inilah mereka merasa puas bahagia, tenang, tentram tidak merasa takut dalam menjalani hari-hari mereka pada hari Rebo Wekasan.[14]

Dewasa ini bacaan tahlilan lebih meluas penggunaannya. Tahlil tidak saja dibaca sebagai upaya mendoakan ahli kubur, tetapi tahlil dibaca juga sebagai pelengkap dari doa selametan sehingga kapan saja diadakan upacara selametan dimungkinkan juga untuk dibacakan tahlilan, misalnya pada waktu akan pindah rumah, syukuran sembuh dari sakit, naik pangkat, akan berangkat dan pulang dari perjalanan jauh seperti naik haji dan lain sebagainya.

Sementara itu, masih terdapat jenis upacara tahunan yaitu upacara yang dilaksanakana sekali setiap tahun. Termasuk dalam jenis upacara ini adalah upacara peringatan hari lahir nabi Muhammad SAW, tanggal 12 bulan rabiul maulud disebutmauludan. Berkenaan  dengan muludan ini dibeberapa keraton dirayakan pesta sekaten dan upacara grebeg maulud. Upacara ini terdapat di masjid dan halaman kraton Jogja, Surakarta dan Cirebon. Pada upacara ini dimainkan seperangkat gamelan sejak dari jam enam pagi sampai jam 12 malam tanpa henti,dan menjadi tontonan orang orang yang datang dari berbagai plosok Desa maupun Kota. Pada malam 11 maulud, Sultan Jogjakarta dan Sunan Surakarta yanag diiringi oleh para pembesar dan pengawal keraton masing-masing berjalan dalam suatu prosesi menuju kemasjid untuk melakukan sembahyang, mendengarkan khotbah dan akhirnya makan bersama.

Selain mauludan, juga terdapat upacara rejeban atau mi’rodan dalam rangka memperingati peristiwa isro’ mi’roj nabi Muhammad SAW pada tanggal 27 Rajab. Kemudian juga ada upacara sya’banan  pada pertengahan bulan Sya’ban (ruwah) dan upacara ruwahan pada tanggal 29 ruwah, dimana sepekan sebelum bulan Puasa (ramadhan) orang mengunjungi makam para leluhur atau nyadran. Pada bulan Syawal tanggal satu orang Islam Jawa tanpa kecuali mengadakan selamatan Idul Fitri, demikian pula pada hari ketujuh sebagai hari raya ketupat disebut juga Syawalan. Di beberapa daerah dirayakan. pesta syawalan, seperti yang dilaksanakan oleh masyarakat Kaliwungu, Semarang, dan masyarakat Krapyak Pekalongan. Pada bulan Dzulhijah atau besar terdapat perayaan Idul Adha dengan penyembelihan hewan kurban dan juga terdapat upacara grebeg besar semacam skaten sebagaimana yang dilaksanakan di masjid Demak dan makam Sunan Kalijaga di Kadilangu.

Ibadah puasa sebagaimana yang disyariatkan Islam juga telah mewarnai kepada orang-orang Jawa, yakni sebagai bentuk penyucian rohani untuk melengkapi doa-doa yang dipanjatkan kepada Tuhan. Puasa dalam Islam disebut dengan istilah Shaum atau Siyam, dan kata siyam ini juga dipakai dalam ungkapan bahasa Jawa halus ketika orang Jawa men-Jawa-kan puasa. Dalam keadaan tertentu ketika seseorng mempunyai cita-cita, agar cita-cita itu terwujud, maka disamping berdoa ia juga melakukan puasa.


[1] Zakiyudiddin Baidhawy, Islam dan Budaya Lokal, dalam profetika (Jurnal Study Islam, vol.2, juli 2002.PMSI UMS, h. 78.

[2] Lihat Simuh, Interaksi Islam dalam Budaya Jawa, ( Surakarta, Muhammadiyah universitiy Press,200), h. 149

[3] Agus Sunyoto, Atlas Wali Songo, h. 45

[4] M. Darori Amin, Islam dan Kebudayaan Jawa, (Yogyakarta: Gama Media, 2000). h. 120

[5] Wiwoho B, Islam Mencintai Nusantara Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, (Tanggerang Selatan : Pustaka IIMaN, 2017), h. 24

[6] Abdurrahman Mas’ud, Sejarah Peradaban Islam, (Semarang :PT Pustaa Rizi Putra, 2009), h. 181.

[7] Mundzirin Yusuf, dkk,  Islam dan Budaya Lokal (Yogyakarta: Pokja Akademik UIN Suka, 2005), h. 16

[8] Muhammad Al-Khatib As- Syarbini, Mughni al Muhtaj Ila Ma’arifat al-Ma’ani al-Fadhul minhaj, Juz V, (Bairut: Daar Al- Kutub al-Ilmiah, 1995), h. 540

[9] Simono, Khitan (Circumcisio) pandangan Menurut Ilmu dan Agama, (Bandung: CV Modernis, 1973), h. 7

[10] Ristiani Musyarofah, Khitan Perempuan Antara Tradisi dan Ajaran Agama, (Yogyakarta: Pusat Studi Kependidikan dan Kebijakan UGM Kerjasama dengan Foun Foundation, 2003), h. 1

[11] Lihat Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka), 1995, cet.4, h. 352

[12] Denis Lombard, Nusa Jawa 2: Silang Budaya. PT Gramedia Pustaka Utama: Jakarta 1996, h. 214

[13] Ibid, 216

[14] Ahmad Muthohar, Perayaan Rebo Wekasan,  dibiayai dengan Anggaran DIPA Walisongo Semarang, (Semarang : Lembaga Penelitian IAIN Walisongo Semarang : 2012), h. 7880

Author Profile

Ahmad Fairozi
Ahmad Fairozi
Mahasiswa Pascasarjana UNUSIA Jakarta

ARTIKEL LAIN