Perseteruan Dingin Aria Wiraraja

Perseteruan Dingin Aria Wiraraja

Aria Banyak Wide, nama lain dari Aria Wiraraja disebut sebagai putra Aria Pamekas, raja Pajajaran terakhir. Meski di versi lain disebut berbeda. Namun dari garis ibu ia merupakan keluarga kerajaan Singhasari. Ibu Aria Wiraraja adalah saudari dari Wisynuwardhana, raja Singhasari, ayah Kertanegara; raja penghabisan di Tumapel itu.

Dalam batu tersurat di Desa Butak, peran Banyak Wide di Singhasari sangat penting. Kepiawaiannya dalam hal strategi dan politik pemerintahan melebihi kalangan bangsawan di masanya bahkan sang raja sekalipun.

Pemikirannya juga tak jarang berseberangan dengan Kertanegara yang memerintah sejak 1268 – 1292 Masehi. Sehingga konon, hal itulah yang menjadi akar sebab kepindahan Banyak Wide dari pusat pemerintahan ke bumi Madura—tepatnya Sumenep, nun jauh di sana.

Kitab Pararaton menyebut nohken (dijauhkan), tanpa memberi alasan yang jelas. Kejadian itu tercatat di putaran kalender ke-31 bulan Oktober 1269 Masehi silam. Tanggal dan bulan yang sejak 1989 silam dikukuhkan sebagai Hari Jadi Kabupaten Sumenep.

Artikel Terkait  Prabowo Resmikan Kantor DPD Gerindra di Banten

“Penjauhan” akibat perseteruan dingin antara Kertanegara dan Aria Wiraraja berimplikasi luas. Sejarah kemudian mencatat dari sosok yang disebut sebagai keturunan pembesar dari Nangka itu, babak awal Nusantara dimulai. Ya, harus diakui keberadaan Nusantara dibidani langsung oleh Aria Wiraraja.

Titik awal implikasi itu dimulai dari peristiwa penobatan Aria Wiraraja sebagai adipati Madura yang berkedudukan di Sumenep—kota kecil di ujung timur pulau garam. Kala itu, dendam kesumat trah Jayabaya, Dhaha, Kediri memuncak di ubun-ubun Jayakatwang, penguasa Dhaha di masa itu. Seperti diketahui, leluhur Jayakatwang, harus mengakhiri nyawa di tangan Ken Arok, pendiri dinasti Singhasari. Sejak saat itu—di tahun 1222 M, Kediri resmi menjadi bawahan Tumapel yang selanjutnya disebut Singhasari.

Artikel Terkait  Tantangan Ber-Islam Pada Era Digital

Meski menaruh dendam, Jayakatwang tidak langsung menggelar front terbuka dengan Kertanegara. Ia tetap menunjukkan sikap selaku bawahan pada penguasanya. Raja kecil itu bahkan berbesanan dengan Kertanegara. Putranya, Ardharaja menikah dengan salah satu putri Kertanegara.

Peristiwa penjauhan Aria Wiraraja ke Madura dilihat Jayakatwang sebagai peluang. Ia pun jauh-jauh ‘sowan’ ke Sumenep. Jayakatwang menuturkan maksudnya untuk menggulingkan Singhasari dan menghidupkan kejayaan leluhurnya sebagai penguasa tanah Jawa. Aria Wiraraja menyanggupi untuk membantu. Beliau pun lantas menyuruh Jayakatwang menyiapkan armada perang. Armada itu disuruhnya dibagi dua. Armada terkuat ditempatkan di suatu tempat khusus. Sementara armada yang lemah diperintahkan menyerang pusat kerajaan Singhasari.

Episode selanjutnya bisa dilihat dengan kekalahan armada penyerang ke Singhasari. Armada itu langsung mundur pasukan Gelang-gelang—sebutan lain dari Dhaha—hingga kampung Lemah Batang dan sebagian lagi ke Pulungan. Dan sesuai dengan prediksi Aria Wiraraja, Kertanegara menyiapkan pasukan besar-besaran menuju Dhaha dan memerintahkan untuk dibumihanguskan.

Artikel Terkait  TNI Tak Akan Langgar Hukum Internasional di Sengketa NATUNA

Kepergian pasukan besar-besaran ke Dhaha itu langsung disikapi Aria Wiraraja dengan menyuruh Jaya katwang untuk segera mengerahkan armada pasukannya yang terkuat—yang kala itu stand by di kampung Rakut Carat, untuk menyerang kembali Singhasari yang saat itu pertahanannya sangat lemah. Dan bisa ditebak, Singhasari jatuh ke tangan Jayakatwang, dan sang raja, Kertanegara berhasil dibunuh dengan mudah. Beruntung saat itu, menantu Kertanegara, Dyah Sangghrama Wijaya dan isteri-isterinya—yang kesemuanya putri Kertanegara, berhasil meloloskan diri.