EDUKASI
Pergeseran paradigma
Khazanah

Pergeseran Paradigma Fiqhiyah

Oleh Ahmad Fairozi

Lumrah didapati bahwa serangkaian fiqih dan tata aturan agama telah dijalankan sebagaimana mestinya, namun tetapi tidak membekas pada kesejahteraan hidup, tidak memberi kemanfaatan hidup, tidak membuat ketangan jiwa pelakunya, dan bahkan dianggap tidak ada gunanya selain hanya pada pemenuhan kewajiban belaka.

Sebagain kalangan besar umat Islam mempersepsikan fiqih sebagai aturan paten mutlak yang tidak dapat diganggu-gugat serta mesti dikerjakan. Mereka mempersepsikan fiqih sebagai sebagai kewajiban qot’i. Hairus Salim dalam pengantar buku Nuansa Fiqih Sosial Bah Sahal menyebutnya denegan paradigma ortodok. Suatu kenyataan kesalahan berpikir yang dijajalkan oleh tokoh-tokoh Agama dengan mengajarkan fiqih dari bungkus kulit luarnya belaka, yang tidak mengungkap makna tersimpan dari setiap ajaran agama itu sendiri. Sehingga bias yang ditorehkan adalah paradigma fiqih dogmatik yang  kaku.

Melihat realita yang demikian ini, cendekiawan muslim abad ke – 19, Ali Ahmad Al-Jarjawi menuliskan buku khusus Hikmah Al-Tasyri’ wa Falsafathu yang menerangkan tentang hikmah dan kegunaan suatu hukum titetapkan. Baginya seorang hamba yang menjalankan syariat Agama tampa mengetahui berbagai manfaat, hikmah dan filosofinya adalah alibi.[1]

Artikel Terkait  Kisah Perjuangan Ki Hajar Dewantara

Bahkan lebih dari itu, di Mesir Nasr Hamid Abu Zayd menawarkan pemaknaan ulang atas teks. Teks Agama dan apalagi fiqih tidak dipahami secara literal teks, sebab ia hanyalah petanda (Dalalah) untuk pesan yang hendak disampaikan. Namun, ada pemahaman yang jauh lebih penting dari sekadar mamaknai teks itu sendiri, yaitu memahami nilai dan signifikansi (Maghza) dari suatu teks agama itu sendiri. Sehingga dari ini akan didapati pemahan hakiki, pemahaman semangat yang mungkin leibih tepat untuk dikontestasikan dengan tuntutan dan kebutuhan bagaimana suatu hukum diputuskan bersinergi dengan manusianya itu sendiri.[2]

Di Indonesia, KH. MA. Sahal Mahfud Menawarkan suaru konsep Fiqih Sosial. Sebuah performa fiqih kontekstual yang diharapkan mampu merangkum segala bentuk kebutuhan dan tuntutan dengan memahami segala bentuk kondisi manusia pada masanya masing-masing. Tawaran fiqih khas nusantara yang berupaya menyaring pemikiran serta putusan-putusan ulama terdahulu sesuai dengan konteks yang paling memungkinkan untuk Nusantara itu sendiri.

Artikel Terkait  Belajar Islam Pada Cheng Ho

Merupakan tema yang menarik untuk dikaji dan diteliti. Sudah banyak sekali buku dan penelitian yang diterbitkan untuk mengulas pembaruan fiqih yang muncul tahun 1994 di Indonesia ini. Meski demikian, sayang sekali di dunia Arab Islam, istilah al-Fiqhu al-Ijtima‘iy, sebagai terjemah atas Fiqih Sosial, tak dikenal di masyarakat Timur Tengah. TimTeng lebih mengenal konsep yang merupakan dasar dari Fiqih Sosial di Indonesia, yaitu konsep Maqashid al-Syari‘ah dan konsep Fardlu ‘Ain-Fardlu Kifayah.[3]


[1] Ali Ahmad Al-Jarjawi, Hikmah Al-Tasyri’ wa Falsafathu (Dar al-Fikr, Bairut, Cet. 5, 1994), h. 6

[2] Nasr Hamid Abu Zayd, Mafhumum An-Nash: Dirasah fi Ulum al-Qur’an, (Bairut, Marjkaz Al-Tsaqofi al-Arabi, 1998), h. 8-12

Artikel Terkait  Pujaan Hati Soekarno dalam Pengasingan Itu Bernama Fatmawati

[3] http://numesir.com/index.php?option=com_content&view=article&id=117:dialog-umum-tentang-fiqih-sosial&catid=13:informasi selasa 15 nov 2011

ARTIKEL LAIN