EDUKASI
Pendekatan Tafsir Kontekstual
Wacana

Pendekatan Tafsir Kontekstual

Makna dan Konsep Tafsir Kontekstual

Secara etimologi, kata kontekstual berasal dari kata benda bahasa Inggris yaitu context yang diindonesiakan dengan kata ”konteks” yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata ini setidaknya memiliki dua arti, 1) Bagian suatu uraian atau kalimat yang dapat mendukung atau menambah kejelasan makna, 2) Situasi yang ada hubungannya dengan suatu kejadian.[1] Sehingga dapat dipahami bahwa kontekstual adalah menarik suatu bagian atau situasi yang ada kaitannya dengan suatu kata/kalimat sehingga dapat menambah dan mendukung makna kata atau kalimat tersebut.

Adapun secara terminologi, Noeng Muhadjir menegaskan bahwa kata kontekstual setidaknya memiliki tiga pengertian : 1) Upaya pemaknaan dalam rangka mengantisipasi persoalan dewasa ini yang umumnya mendesak, sehingga arti kontekstual identik dengan situasional, 2) Pemaknaan yang melihat keterkaitan masa lalu, masa kini, dan masa mendatang atau memaknai kata dari segi historis, fungsional, serta prediksinya yang dianggap relevan, 3) mendudukkan keterkaitan antara teks al Qur’an dan terapannya.[2]

Selanjutnya dalam buku Sintesis paradigma studi Qur’an, karangan  MF Zenrif UIN Press menyebutkan bahwa  pendekatan tafsir dapat dikategorikan pada dua model pendekatan, yaitu pendekatan tekstual dan pendekatan kontekstual. Pendekatan tektual adalah sebuah pendekatan studi Al-Qur’an yang menjadikan lafal-lafal Al-Qur’an sebagai obyek. Pendekatan ini menekankan analisisnya pada sisi kebahasaan dalam memahami Al-Qur’an. Secara praktis, pendekatan ini dilakukan dengan memberikan perhatian pada ketelitian redaksi dan bingkai tek ayat –ayat Al-Qur’an. Pendekatan ini banyak dipergunakan oleh ulama-ulama salaf dalam menafsiri Al-Qur’an dengan cara menukil hadits atau pendapat ulama yang berkaitan dengan makna lafal yang sedang dikaji. Sedangkan pendekatan kontekstual dalam studi Al-qur’an adalah suatu pendekatan yang mencoba memahami makna dan kandungan ayat-ayat Al-qur’an dengan cara memahami konteks mengapa dan dalam kondisi apa ayat tersebut diturunkan.[3]

Untuk kepentingan ini, ulama Ulum al-Qur’an telah membuat kerangka historis ayat-ayat yang mempunyai sebab turun dalam ‘ilmu asbab al-nuzul, yakni ilmu yang mempelajari tentang berbagai kasus, kejadian, atau pertanyaan, yang menjadi sebab turunnya Al-Qur’an.[4] Cikal-bakal tafsir kontekstual adalah ayat-ayat Al-Qur`an yang memiliki asbāb al-nuzūl, terutama yang berkaitan dengan fenomena sosial pada saat itu. Sebab, sebagaimana biasanya, pemahaman ayat yang paling sempurna adalah dengan memperhatikan setting sosial yang melingkupi turunnya ayat. Ada kalanya setting sosial tersebut hanya berlaku pada masa tertentu, individu tertentu, dan di tempat tertentu, tetapi ada kalanya berlaku sepanjang masa, pada siapa saja, dan di mana saja. Sementara itu, ayat-ayat akidah tidak mengenal batas-batas tersebut. Oleh karena itu, tidak berlebihan bila usia tafsir kontekstual setua ayat-ayat al-Qur`an yang memiliki asbāb al-nuzūl.[5]

Asbāb al-nuzūl merupakan tonggak utama tafsir kontekstual. Sebab ia merupakan ilustrasi rekaman historis suatu peristiwa sosial kemasyarakatan yang melatarbelakangi dan mengiringi turunnya ayat. Sayangnya, hanya segelintir ayat saja yang memiliki asbāb al-nuzūl. Namun demikian, menurut Budhy munawar-Rachman, asbāb al-nuzūl hendaknya tidak dipandang sebagai penentu atau alasan yang tanpanya ayat tidak akan diturunkan. Dalam kenyataannya, tidak ada banyak teks mengenai satu peristiwa. Setidaknya dari asbāb al-nuzūl dapat diperoleh informasi tentang nilai-nilai sosial yang ada dan berkembang saat itu. Nilai-nilai sosial ini bisa berupa adat-istiadat, karakter masyarakat atau individu, relasinya dengan zaman mungkin yang populer dengan istilah Shalihun li kulli zaman wa makan. [6]

Az-Zarkasyi dalam buku Al-Qur’an dan Sunnah Referensi tertinggi ummat islam mengatakan ; ketika menyebutkan hal-hal yang menentukan sebuah makna bila terjadi kemusykilan:” Keempat, penunjukan konteks (dilalatus siyaq); sesungguhnya ia merinci sesuatu yang masih bersifat umum, dan memastikan bahwa hal-hal yang tidak dimaksudkan oleh ayat tersebut tidak akan terjadi, mengkhususkan yang ‘aam, membatasi yang mutlak, memperkaya penunjukan.[7] Kita mesti mempergunakan asbab nuzul sebagai alat bantu bagi memahami ayat. Ada seseorang yang berkata, sesungguhnya pengetahuan kita tentang suatu sebab akan membantu kita dalam memahami akibatnya.[8]

Kata kunci yang acap kali digunakan dalam tafsir kontekstual adalah “ akar kesejarahan”. Konteks yang di maksud di sini berbeda dengan konteks yang dimaksud dalam tafsir tekstual. Yang dimaksud konteks di sini adalah situasi dan kondisi yang mengelilingi pembaca. Jadi kontekstual berarti hal-hal yang bersifat atau berkaitan dengan konteks pembaca.[9] Dalam kamus al-Maurid (Ingris_Arab), context diartikan dengan : 1) alqariinah (indikasi) atau siyaq al- kalam (kaitan-kaitan, latar belakang “duduk perkara” suatu pernyataan); 2) bii’ah (suasana) muhiit (yang meliputi). Sedangkan Kontekstual diartikan dengan qariinii, mutawaqqif ‘ala al qariinah (mempertimbangkan indikasi).[10]                

 Jadi dari berbagai makna di atas penulis dapat memahami secara sederhana bahwa tafsir kontekstual itu paradigma berfikir baik cara, metode maupun pendekatan yang berorientasi pada konteks kesejarahan. Dengan kata lain, istilah “kontekstual” secara umum berarti kecenderungan suatu aliran atau pandangan yang mengacu pada dimensi konteks yang tidak semata-mata bertumpu pada makna teks secara lahiriyah (literatur), tetapi juga melibatkan dimensi sosio-historis teks dan keterlibatan subjektif penafsir dalam aktifitas penafsirannya.[11]

Kemudian konsep tafsir kontekstual dapat didagi dua : Kerangka konseptual pertama adalah memahami Al-Qur’an dalam konteksnya   – konteks kesejarahan dan harfiyah , lalu memproyeksikannya kepada situasi masa kini. Sedangkan kerangka konseptual kedua adalah membawa fenomena- fenomena sosial ke dalam naungan tujuan- tujuan Al-Qur’an.

  1. Memahami Al-Qur’an dalam konteksnya serta memproyeksikannya kepada situasi masa kini. Kerangka konseptual pertama ini mencakup dua langkah pokok
  2. Memahami Al-Qur’an dalam konteks. Meliputi :
  3. Pemilihan obyek penafsiran, yaitu satu tema atau istilah tertentu dan mengumpulkan ayat-ayat yang bertalian dengan tema atau istilah tersebut dengan bantuan indeks Al-Qur’an.
  4. Mengkaji tema atau istilah tersebut dalam konteks kesejarahan pra-Qur’an dan pada masa al-Qur’an.
  5. Mengkaji respon Al-Qur’an sehubungan dengan tema atau istilah itu dalam urutan kronologisnya, dengan memberikan perhatian  khusus kepada konteks sastra ayat-ayat Al-Qur’an yang dirujuk , juga melibatkan asbab al- nuzul yang telah teruji keontetikannya. Dari kajian ini akan dapat disimpulkan bagaimana Al-Qur’an menangani tema atau istilah tersebut dan bagaimana keduanya berkembang di dalam Al-Qur’an.
  6. Mengaitkan pembahasan tema atau istilah tersebut dengan  tema atau istilah lain yang relevan
  7. Menyimpulkan kehendak atau tujuan-tujuan Al-Qur’an sehubungan dengan tema atau istilah itu lewat kajian- kajian di atas.
  8. Menafsirkan ayat-ayat spesifik yang berkaitan dengan tema atau istillah tersebut berdasarkan kesimpulan yang diperoleh dari kajian-kajian di atas.
  9. Memproyeksikan  pemahaman Al-qur’an dalam konteksnya , yakni yang diperoleh lewat langkah pertama di atas, kepada situasi kekinian. Sebelum proyeksi dilakukan , kajian mengenai situasi kekinian yang berkaitan dengan tema atau istilah yang dibahas harus dilakukan terlebih dahulu.
  10. Membawa fenomena-fenomena sosial ke dalam naungan tujuan-tujuan Al-Qur’an. Kerangka konseptual ke dua ini juga mencakup dua langkah pokok , tetapi dengan arah yang berbeda dengan kerangka konseptual yang pertama yakni dari realitas kekinian ke dalam naungan al-Qur’an. Langkah-langkah tersebut meliputi :
  11. Mengkaji dengan cermat fenomena sosial yang dimaksud. Dalam  mengadakan kajian ini, peralatan dan perbekalan ilmuwan-ilmuwan sosial dan kealaman mutlak dibutuhkan. Dengan kata lain, pengkajian ini melibatkan berbagai pihak dan disiplin, baik disiplin sosiologi, antropologi, maupun psikologi.
  12. Menilai dan menangani fenomena itu berdasarkan tujuan-tujuan moral Al-Qur’an yang diperoleh lewat langkah A.1.
Artikel Terkait  Historiografi Islam di Nusantara

Apabila kedua kerangka konseptual dapat dikategorikan sebagai ijtihad, maka ijtihad dalam hal ini tentunya akan berarti bahwa ” Usaha-usaha yang sungguh-sungguh untuk membumikan Al-Qur’an dan membawa fenomena-fenomena sosial kedalam naungan Al-Qur’an.[12]   

  • Tokoh Tafsir Kontekstual dan Metodologi Tafsirnya

          Perintis pertama tafsir kontekstual ini adalah Fazlur Rahman lahir di Hazara—kini menjadi bagian dari Pakistan—pada 21 September 1919. Rahman dibesarkan di lingkungan keluarga yang berlatar belakang mazhab Hanafi, sebuah mazhab Sunni yang relatif lebih rasional ketimbang mazhab sunni lainnya (Syafi’I, Maliki, dan Hambali ). Ayahnya adalah seorang ulama tradisional, yang menanamkan kepadanya pendidikan dasar keagamaan. Meski dibesarkan dalam kultur tradisional, sejak umur belasan tahun ia melepaskan diri dari lingkup pemikiran yang sempit dalam batas-batas tradisi bermazhab. Selanjutnya mengembangkan pemikirannya secara sendiri.[13]

        Pendidikan tingginya ditempuh di Punjab University jurusan Bahasa Arab, dan selesai dengan gelar BA pada tahun 1940. Gelar Master untuk jurusan ketimuran juga diraihnya di universitas yang sama pada 1942. Pada tahun 1946, ia masuk di Oxfort University, dan kemudian menyandang gelar doktor di bidang sastra pada 1950. Selama beberapa tahun , ia memilih mengajar di Eropa. Ia menjadi dosen bahasa Persia dan Filsafat Islam di Durham University Inggris pada 1950-1958. [14]

Universitas Chicago merupakan tempatnya menelurkan banyak karyanya. Tempat ini pula yang menjadi tempat persinggahan terakhirnya, hingga wafatnya pada 26 Juli 1988. Selama 18 tahun terakhirnya, selain mengajar di Universitas Chicago, ia kerap dimintai memberi kuliah di Universitas lain.  Secara garis besar, dinamika pemikiran keagamaan Rahman dapat dibedakan dalam tiga periode utama: pertama, periode awal (dekade 50-an), yang belum banyak menghasilkan karya-karya normative, hanya bersifat historis saja; kedua, periode Pakistan (dekade 60-an), ketika mulai menekuni kajian Islam normatif meski belum ditopang  dengan basis metodologi yang sistematis; ketiga, periode Chicago (1970 dan seterusnya) ketika ia menetap di Chicago. Keterlibatannya dalam kajian Islam normatif  sudah didukung oleh metodologi tafsir sistematis sehingga pada periode inilah karya-karya populernya bermunculan.[15]

Karya Fazlur Rahman yang dipublikasikan dalam bentuk buku seluruhnya adalah: Avicenna’s Psychology (1952), Prophecy in Islam: Philosophy and Orthodoxy (1958), Islamic Metodology in History (1965), Islam (1966), The Philosophy of Mulla Sadra (1975), Major Themes of the Qur’an (1980), Islam dan Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition (1982), Health and Medicine in Islamic Tradition : Change and Identity (1987), Revival and Reform in Islami (2000), Dalam bentuk artikel ilmiah, karya tersebut di banyak jurnal baik jurnal lokal (Pakistan) maupun Internasional, serta dimuat dalam banyak buku . Jurnal-jurnal yang memuat tulisannya antara lain Islamic Studies, The Muslaim World, dan Studia Islamica,. Sedangkan buku-buku suntingan terkemuka yang memuat karyanya antara lain: Theology and Law in Islam yang diedit oleh G.E. von Grunebaum; The Encyclopediaof Relegions yang diedit oleh Mircea Eliade; Approaches to Islam in Religious Studies yang diedit olrh Richard C Martin; Islam Past Influence and Present Challenge yang diedit oleh Alford T. Welch, dan P. Cachia: daan lain sebagainya.[16]

          Fazlur Rahman sejak mulai merintis metodologi tafsirnya memang telah menekankan pentingnya memahami kondisi-kondisi aktual masyarakat Arab ketika Al-Qur’an diturunkan dalam rangka menafsirkan pernyataan – pernyataan legal dan sosio-ekonominya. Metode tafsir  yang dikembangkan Rahman dikenal dengan sebutan gerakan ganda penafsiran (double movement).[17]

        Teori gerakan ganda penafsiran ini dimulai dari dua langkah: langkah pertama, memuat dua cara: pertama, mencari makna dari pernyataan Al-Qur’an dengan mengkaji situasi historis dan problem historis dimana pernyataan itu merupakan jawabannya. Yang dimaksud dengan teori ini adalah, Al-Qur’an harus dilihat dalam situasi kelahirannya, tentunya melalui  realitas dimana ayat Al-qur’an turun dan dalam sebab apa ayat Al-qur’an turun. kedua , menggeneralisasikan pernyataan-pernyataan yang bermula dari yang partikular, dari situasi dan asbabunnuzul masing-masing ayat,sebagai pernyataan yang bersifat universal. Dalam hal ini yang dicari adalah nilai-nilai etisnya yang bersifat universal.[18]

   Langkah kedua, dimulai dari hal-hal yang bersifat universal, yang dicapai dari langkah pertama di atas, kepada hal-hal yang bersifat partikular dalam situasi kekinian di mana dan kapan Al-qur’an hendak diberlakukan. Tujuan ini mensyaratkan seorang pemikir untuk mengetahui bukan saja aspek tekstual ayat Al-qur’an tetapi juga situasi kekinian yang partikular, sehingga ketika mempraksiskan yang universal ke dalam partikularitas kekinian tidak menemui jalan buntu.[19]

Hanya dengan cara inilah, paparnya suatu apresiasi yang sejati terhadap  tujuan-tujaun Al-qur’an dan sunnah yang dapat dicapai. Aplikasi pendekatan kesejarahan dalam gerakan ganda penafsiran ini telah membuat Fazrur Rahman menekankan pentingnya pembedaan antara tujuan dan “ideal moral” Al-qur’an dengan ketentuan legal spesifiknya. “Ideal moral” yang dituju oleh Al-qur’an lebih pantas untuk diterapkan ketimbang ketentuan legal spesifiknya.Sebut saja dalam masalah poligami dan perbudakan sebagai contoh. Fazrur Rahman mengungkapkan bahwa “ideal moral” yang dituju Al-qur’an adalah monogami dan emansipasi budak. Sementara penerimaan Al-qur’an terhadap kedua pranata tersebut secara legal dikarenakan kemustahilan untuk menghapunya dalam seketika. Menurut Fazlur Rahman yang di kutip oleh Dr. H. U. Syafrudin.

“ Bagian dari tugas untuk memahami pesan Al-qur’an sebagai sebuah kesatuan adalah mempelajarinya dengan sebuah latar belakang. Latar belakang langsungnya adalah aktifitas Nabi sendiri dan perjuangannya selama kurang lebih dua puluh tiga tahun dibawah bimbingan al-qur’an. Karena perjuangan Nabi sendirilah yang sesungguhnya berhak memperoleh sebutan sunnah, maka penting untuk memahami sebaik mungkin milieu Arab pada awal penyebaran Islam, sebab aktifitas Nabi mensyaratkan adanya milieu tersebut. Dengan demikian adat istiadat, pranata-pranata dan pandangan hidup orang-orang Arab pada  umunya menjadi sangat penting untuk memahami aktifitas Nabi. Situasi di Mekah khususnaya, segera sebelum Islam dating juga membutuhkan suatu pemahaman yang mendalam. Suatu usaha dilakukan tidak hanya untuk memahami agama Arab pra- Islam, tetapi juga pranata-pranata social, kehidupan ekonomi dan hubungan-hubungan politik mereka. Peran penting suku Quraisy—-suku yang sangat kuat, dan Nabi berasal darinya—dan pengaruh kekuasaan religio ekonomisnya di kalangan orang-orang arab harus dipahami. Tanpa memahami hal ini, usaha untuk pesan Al-qur’an secara utuh merupakan sebuah pekerjaan yang sia-sia”.[20]

Artikel Terkait  Teologi Pembebasan Asghar Ali Engineer

Metode tafsir kontekstual berpegang pada prinsip atau kaidah penafsiran yaitu al- ‘ibrah bi khusus as-sabab laa bi ‘umum al-lafdz (ketetapan makna itu didasarkan pada partikularitas

[kekususan]

sebab, bukan pada universalitas [keumuman] teks). Dalam penafsiran tafsir kontekstual ini metode yang pertama kali adalah memahami makna asli suatu teks, kemudian menelusuri anasir-anasir sejarah yang menyebabkan turunnya suatu teks/ ajaran (rekonsruksi makna). Bahkan di Era sekarang ini muncul kaidah lain: al-‘ibrah bi maqaasid asy-syari’ah, menurut kaidah ini yang seharusnya menjadi pegangan untuk mengambil kesimpulan hukum adalah apa yang menjadi tujuan syari’at, yakni spirit atau ide dasar dari teks-teks Al-Qur’an yang oleh Fazlur Rahman disebut dengan ideal moral.[21] Dari metode di atas pemakalah dapat menyimpulkan bahwa dalam memutuskan suatu hukum harus dilihat dari konteks zaman dan tempat sehingga hukum itu sendiri dipandang dapat memberikan maslakhat bagi kehidupan manusia dan menjadi tujuan Al-Qur’an sebagai “petunjuk” bagi manusia juga.

Sebagaimana teori-teori fikih dan tafsir yang diformulasikan dengan cara menelaah karya-karya fikih dan tafsir yang ada, metode dan aplikasi tafsir kontekstual juga bisa disimpulkan atau dirinci satu persatu sesuai dengan urutannya sebagai berikut:

1. Menguasai dengan baik sejarah manusia terutama sejarah orang-orang Arab pra-Islam, baik secara bahasa, sosial, politik, dan ekonomi sebagai modal awal proses penafsiran kontekstual. Sebab selain al-Qur`an tidak diturunkan dalam ruang hampa, di dalamnya juga terdapat banyak informasi tentang mereka;

2. Menguasai secara menyeluruh seluk-beluk orang-orang Arab dan sekitarnya sebagai sasaran utama turunnya al-Qur`an dari awal turunnya ayat pertama hingga ayat terakhir, bahkan hingga Rasulullah saw. wafat. Sebab tidak semua ayat al-Qur`an memiliki sabab al-nuzūl sehingga bila hanya mengandalkan asbāb al-nuzūl, maka penafsiran akan kurang sempurna. Oleh karenanya, penguasaan terhadap seluk-beluk orang-orang Arab dan sekitarnya sangat mendesak yang sangat diharapkan bisa membantu proses penafsiran kontekstual;

3. Menyusun ayat-ayat al-Qur`an sesuai dengan kronologi turunnya, memperhatikan korelasi sawābiq dan lawāhiq ayat, mencermati struktur lingustik ayat dan perkembangan penggunaannya dari masa ke masa, dan berusaha menggali kandungan inter-teks dan extra-teks secara komprehensif;

4. Mencermati penafsiran para tokoh besar awal Islam secara seksama dan konteks sosio-historinya, terutama yang secara lahir bertentangan dengan al-Qur`an, tetapi bila diperhatikan ternyata sesuai dengan tuntutan sosial yang ada pada waktu itu dan tetap berada dalam spirit al-Qur`an;

5. Mencermati semua karya-karya tafsir yang ada dan memperhatikan konteks sosio-historis para penafsirnya. Sebab bagaimanapun juga, para penafsir mempunyai sisi-sisi kehidupan yang berbeda satu sama lain dan turut memengaruhi penafsirannya;

6. Menguasai seluk-beluk kehidupan manusia di mana al-Qur`an hendak ditafsirkan secara kontekstual dan perbedaan serta persamaannya dengan masa-masa sebelumnya, terutama pada masa awal Islam.

7. Mengkombinasikan semua enam poin di atas dalam satu kesatuan utuh pada saat proses penafsiran dan tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip dasar al-Qur`an.[22]

  • Contoh Tafsir Kontekstual
  • Poligami

Dalam Al-Qur’an surat An-Nisa’yang kerap dikutip sebagai dalil untuk mengabsahkan praktik poligami adalah :

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلا تَعْدِلُوا    فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلا تَعُولُوا (٣)

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. kemudian jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil[23], Maka (kawinilah) seorang saja[24], atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.”

Yang diinginkan Al-Qur’an sesungguhnya bukan praktek beristri banyak. Praktek ini tidak sesuai dengan harkat yang telah diberikan Al-Qur’an kepada wanita. Status wanita yang selama ini cenderung dinomor duakan akan menjadi semakin kuat jika praktek poligami tetap diberlakukan. Al-Qur’an menyatakan bahwa laki-laki dan perempuan punya kedudukan dan hak yang sama. Maka pernyataan Al-Qur’an bahwa laki-laki boleh punya istri sampai empat orang hendaknya dipahami dalam nuansa etisnya secara komprehensif. Ada syarat yang diajukan oleh Al-qur’an, yaitu menyangkut keadilan dalam rumah tangga.

Untuk memahami pesan Al-Qur’an, penelusuran sosio-historis hendaknya dilakukan. Masalah ini muncul berkenaan dengan para gadis yatim yang dalam ayat sebelumnya disebutkan

وَآتُوا الْيَتَامَى أَمْوَالَهُمْ وَلا تَتَبَدَّلُوا الْخَبِيثَ بِالطَّيِّبِ وَلا تَأْكُلُوا أَمْوَالَهُمْ إِلَى أَمْوَالِكُمْ إِنَّهُ كَانَ حُوبًا كَبِيرًا (٢)   

“Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah balig) harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu Makan harta mereka bersama hartamu. Sesungguhnya tindakan-tindakan (menukar dan memakan) itu, adalah dosa yang besar.”

Ayat di atas melarang keras para wali untuk memakan harta anak yatim. Setelah penekanan  kemudian Al-Qur’an membolehkan para wali untuk mengawini mereka sampai empat orang. Tetapi menurut Rahman, ada satu prinsip yang sering diabaikan oleh ulama dalam hal ini, yaitu : “ kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri (mu), walaupun kamu sangat ingin berlaku demikian”  (QS. Al-Nisa’4:129). Dan terdapat juga pada potongan ayat 3 “jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja[25]

Dari ayat-ayat tersebut disiratkan suatu makna bahwa sikap adil itu mustahil dijalankan oleh seorang laki-laki (suami) terhadap masing-masing istrinya. Jadi, pesan terdalam Al-Qur’an tidak menganjurkan poligami.Ia justru memerintahkan sebaliknya, monogami (hidup yang umumnya disepakati oleh dua belah pihak, laki-laki dan perempuan). Itulah ideal moral yang hendak dituju Al-Qur’an.[26] Kemudian menurut pemakalah dalam masalah poligami ini memang ada baiknya seorang laki-laki yang mau berpoligami melihat konteks dan sejarahnya telebih dahulu, sebab adakalanya seorang istri tidak redho jika dia dipoligami sekalipun tidak ada syarat bagi laki-laki untuk meminta izin bagi istri. Seorang suami hendaknya mempunyai rasa kemanusiaan yang mendalam dan meresapi hadis Nabi yang mengatakan bahwa seorang laki-laki (suami) yang tidak berlaku adil terhadap istri-istrinya maka di akhirat dia berjalan dengan kondisi bengkok (pen.terseok-seok).

  • Perbudakan
Artikel Terkait  Islam Tak Butuh Pembelaan Ormas

Sama dengan kasus poligami di atas, Al-qur’an pun mengakui secara hukum praktek perbudakan. Ini semata-mata dimaksudkan bersifat sementara dan ideal moralnya adalah pemerdekaan budak. Surat al-Balad ayat 12-13:[27]

وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْعَقَبَةُ (١٢)فَكُّ رَقَبَةٍ (١٣)

“Tahukah kamu Apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan,”

Al-Qur’an secara tegas menyatakan bahwa bila seorang budak ingin menebus kemerdekaannya dengan membayar sejumlah uang cicilan yang ditentukan menurut kondisi sang budak, maka tuannya harus menyetujui perjanjian penebusan itu.Tuannya tidak boleh menolaknya, seperti yang ditegaskan al-Qur’an Surat An-Nur ayat 33:

وَالَّذِينَ يَبْتَغُونَ الْكِتَابَ مِمَّا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ فَكَاتِبُوهُمْ إِنْ عَلِمْتُمْ فِيهِمْ خَيْرًا وَآتُوهُمْ مِنْ مَالِ اللَّهِ الَّذِي آتَاكُمْ وَلا تُكْرِهُوا فَتَيَاتِكُمْ عَلَى الْبِغَاءِ إِنْ أَرَدْنَ تَحَصُّنًا لِتَبْتَغُوا عَرَضَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَنْ يُكْرِهُّنَّ فَإِنَّ اللَّهَ مِنْ بَعْدِ إِكْرَاهِهِنَّ غَفُورٌ رَحِيمٌ (٣٣)  

“Dan budak-budak yang kamu miliki yang menginginkan perjanjian, hendaklah kamu buat Perjanjian dengan mereka[28], jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka, dan berikanlah kepada mereka sebahagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu[29]. dan janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri mengingini kesucian, karena kamu hendak mencari Keuntungan duniawi. dan Barangsiapa yang memaksa mereka, Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (kepada mereka) sesudah mereka dipaksa itu[30].”

Ayat di atas menurut Rahman, Al-Qur’an tidak diterapkan oleh umat Islam dalam sejarah. Kalimat Alqur’an “ Jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka”, bila dipahami dengan tepat akan berarti bahwa seorang budak yang dianggap belum mampu memperoleh penghasilan sendiri tidak bisa diharapkan dapat mandiri atau berdikari, dan karenanya mungkin lebih baik bila ia tetap berada dalam lindungan tuannya. Tapi sebaliknya, seorang budak yang sudah mampu berdikari, dan meminta kemerdekaannya dengan menebus segala syarat, maka tuannya harus memerdekakannya. Inilah ideal moral yang dituju Al-Qur’an.[31]

 Selain dari contoh yang dikemukakan oleh Fazlur Rahman di atas ada contoh lain dalam tafsir kontektual ini,untuk itu pemakalah dapat  menyimpulkan bahwa penerapan tafsir kontekstual ini sudah terjadi sejak masa Kholifah Umar bin Khottob,  dimana Umar bin khottob tidak memberikan hukum potong tangan bagi pencuri lantaran kondisi pencuri itu sangat memperhatinkan. Dan umar juga tidak membagikan harta rampasan kepada para Prajurit dikarenakan semua kebutuhan dan peralatan sudah disediakan oleh Negara sehingga dalam masalah harta rampasan adalah menjadi milik (kas) Negara. Kedua contoh yang diterapkan oleh Umar jelas menyalai nas al-Qur’an yang didalamnya mengandung hukum potong tangan bagi pencuri dan memberikan harta rampasan kepada sahabat yang ikut dalam berperang sebagaimana Nabi pernah membagikan harta rampasan tersebut, akan tetapi Umar melihat kondisi yang sangat berbeda dan tidak mungkin menjalankan hukuman tersebut.

  • Kelebihan Dan Kekurangan Tafsir Kontekstual

Setiap corak tafsir tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan yang tak bisa dipungkiri, karena memang itulah keterbatasan ilmu manusia yang hanya sedikit sekali ilmu yang diberikan oleh Allah bahkan digambarkan hanya setetes air yang ada di lautan, begitu juga tafsir kontekstual kelebihan dan kekurangannya[32]adalah sebagai berikut :

      Adapun kelebihan-kelebihan tafsir kontekstual, diantaranya:

1.      Mempertahankan semangat keuniversalan al Qur’an, sebab dengan penafsiran kontekstual maka nilai-nilai yang terkandung di dalamnya akan tetap sejalan dengan perkembangan zaman.

2.      Metode tafsir kontekstual merupakan sintesa dari metode analitis, tematik, dan hermeneutika. Sebab metode analitis diperkaya dengan sumber tradisional yang memuat substansi yang diperlukan bagi proses penafsiran, metode tematik diunggulkan dengan kemampuannya meramu ayat-ayat al Qur’an dalam satu tema dan mengaktualisasikannya, tafsir hermeneutika titik penekanannya adalah kajian kata dan bahasa , sejarah, sosiologi, antropologi dan sebagainya sebagai alat bantu yang penting dalam menafsirkan al Qur’an. Sehingga wajar bila tafsir kontekstual dianggap sebagai gabungan dari metode-metode tersebut.

3.      Metode tafsir kontekstual akan membuka wawasan berpikir serta mudah dipahami sebab banyak data yang ditampilkan namun penyampaiannya tetap sesuai dengan konteks pemahaman audiens.

Adapun kelemahan-kelemahan tafsir kontekstual, itu sangat terkait dengan kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh penafsir itu sendiri yang berdampak pada kualitas penafsirannya. Diantara kelemahan tersebut adalah:

1.      Hasil penafsiran kontekstual terkadang didahului oleh interest pribadi dan dorongan hawa nafsu karena adanya pintu penyesuaian nilai-nilai al Qur’an dengan kondisi masyarakat. Tentu dengan keterbukaan tersebut memancing seseorang untuk menafsirkan al Qur’an sesuai dengan seleranya yang pada akhirnya penafsiran yang ia lahirkan sifatnya mengada-ada.

2.      Dengan semangat tafsir kontekstual terkadang melahirkan ketergesa-gesahan menafsirkan ayat yang merupakan otoritas Allah untuk mengetahui maknanya

3.      Usaha tafsir kontekstual terkadang menitikberatkan sebuah penafsiran pada satu aspek misalnya aspek kondisi sosial semata tanpa melihat aspek-aspek yang lain termasuk bahasa, asbab nuzul, nasikh mansukh, dsb. Sehingga penafsiran tersebut menyimpang dari maksud yang diinginkan.

4.      Tafsir kontekstual memotivasi seseorang untuk cepat merasa mampu menafsirkan al Qur’an sekalipun syarat-syarat mufassir belum terpenuh


[1] Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Kamus Besar Bahasa Indonesia.(Jakarta: Balai Pusstaka 1989). hal.485

[2] http://sanadthkhusus.blogspot.com/2011/07/metodologi-tafsir-kontektual.html

[3] M.F.Zenrif, Sintesis paradigm Studi Al-Qur’an,(UIN –Malain Press,2008),h.51

[4] Ibid

[5] http://sanadthkhusus.blogspot.com/2011/07/metodologi-tafsir-kontektual.html, diakses tanggal 27 September 2011

[6] Yusuf Qardhawi, Al-Qur’an dan al-Sunnah Referensi Tertinggi Umat Islam, (Jakatra: Robbani Press, 1997) h. 54

[7] Ibid,. H. 55

[8] Ibid,.

[9] U. Safrudin, Paradigma Tafsir Tekstual dan Kontekstual Usaha Memahami Kembali Pesan Al-Qur’an, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), h. 43

[10] Ibid,.

[11] Ibid,. H. 48

[12] Taufik Adnan Amal dan Syamsu Rizal Panggabean, Tafsir Kontekstual Al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 1992), h. 63-64

[13] Abdul Mustakim dan Sahiron Syamsuddin, Studi Al-Qur’an Kontemporer, (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2002), h. 44

[14] Ibid,. H. 45

[15] Sibawaih, Hermeneutika Alqur’an Fazlur Rahman, (Yogyakarta dan Bandung:Jalasutra,2007) h. 21

[16] Ibid h.22

[17] U. Safrudin, Paradigma Tafsir, h. 44

[18] Ibid,.

[19] Ibid,.

[20] Ibid,. H. 45

[21]  Dr. Abdul Mustaqim, Epistemologi Tafsir Kontemporer, ( Yogyakarta, LKIS Yogyakarta, 2010) h.64

[22] http://sanadthkhusus.blogspot.com/2011/07/metodologi-tafsir-kontektual.html, di akses pada tanggal 27 september 2011 

[23] Berlaku adil ialah perlakuan yang adil dalam meladeni isteri seperti pakaian, tempat, giliran dan lain-lain yang bersifat lahiriyah.

[24] Islam memperbolehkan poligami dengan syarat-syarat tertentu. sebelum turun ayat ini     poligami sudah ada, dan pernah pula dijalankan oleh Para Nabi sebelum Nabi Muhammad s.a.w. ayat ini membatasi    poligami sampai empat orang saja.

[25] Sibawaih, Hermeneutika Alqur’an Fazlur Rahman, h. 76

[26] Ibid,. H. 77

[27] Ibid,. H.78

[28] Salah satu cara dalam agama Islam untuk menghilangkan perbudakan, Yaitu seorang hamba boleh meminta pada tuannya untuk dimerdekakan, dengan Perjanjian bahwa budak itu akan membayar jumlah uang yang ditentukan. Pemilik budak itu hendaklah menerima Perjanjian itu kalau budak itu menurut penglihatannya sanggup melunasi Perjanjian itu dengan harta yang halal.

[29] Untuk mempercepat lunasnya Perjanjian itu hendaklah budak- budak itu ditolong dengan harta yang diambilkan dari zakat atau harta lainnya.

[30] Maksudnya: Tuhan akan mengampuni budak-budak wanita yang dipaksa melakukan pelacuran oleh tuannya itu, selama mereka tidak mengulangi perbuatannya itu lagi.

[31] Ibid, h. 79

[32] http://msubhanzamzami.wordpress.com/2011/06/11/tafsir-kontekstual/, diakses tanggal 29 September 2011

ARTIKEL LAIN