EDUKASI
Pandemi Covid-19, Gagasan Kurikulumisasi Khutbah dari WASATHI Mampu Atasi Masalah Sosial

Pandemi Covid-19, Gagasan Kurikulumisasi Khutbah dari WASATHI Mampu Atasi Masalah Sosial

Edukasi.co—Pandemi Covid-19 yang melumpuhkan seluruh aktivitas sosial meresahkan seluruh elemen masyarakat. Bukan hanya aktivitas keagamaan yang mengalami kendala serius akibat Covid-19, namun kesejahteraan masyarakat juga menjadi taruhan. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diterapkan juga sering kali disalah artikan.

Wadah Silaturahmi Khatib Indonesia (WASATHI) memiliki keprihatinan yang mendalam terhadap segala problematika sosial akibat pandemi ini. Karenanya Sarasehan Khatib Moderat yang diselenggarakan oleh WASATHI mencoba menyikapi masalah ini dengan gagasan kurikulumisasi khutbah. Gagasan ini penting untuk segera direalisasikan demi menjadikan khabah sebagai ujung tombak perubahan sosial, termasuk juga dalam mengatasi masalah sosial akibat pandemi ini.

Ketua Pembina WASATHI, KH Arif Fahruddin dalam acara tersebut meminta para khatib untuk menjadikan mimbar-mimbar masjid dan majelis taklim sebagai ujung tombak perubahan sosial. Menurutnya khatib tidak hanya perlu menyampaikan pesan-pesan agama yang berkaitan dengan ibadah belaka, namun khatib juga perlu menyampaikan pesan-pesan yang berhubungan langsung dengan masalah masyarakat secara konkret, termasuk masalah Covid 19 hari ini.

Artikel Terkait  Geger Dugaan Korupsi Asabri Rp 10 T, Erick Thohir Mau Bertemu Mahfud

Harapan tersebut akan ditindak lanjuti oleh WASATHI melalui program kurikulimasasi khatbah. Kurikulimisasi dengan mendesak harus segera dilakukan demi mengukur apakah khutbah sudah menghasilkan perubahan seperti yang direncanakan atau sekadar rutinitas mingguan untuk ibadah. Padahal, tegas Arif, posisi khutbah sangat strategis karena diadakan setiap jum’at, dihadiri banyak umat, dan selama berlangsung materinya tidak boleh didebat.

“Sejauh mana pengaruh khutbah Jum’at terhadap perubahan perilaku masayrakat? Sejauh pengamatan WASATHI ini belum ada datanya. Kita perlu bersinergi dengan para peneliti untuk melihat bagaimana impact dan dampak khutbah yang selama ini sudah kita lakukan. Karena itu fokus WASATHI khusus di khatib saja, khusus pada khutbah jum’at saja, ” ujarnya.

Artikel Terkait  Jejak Politik Para Pendiri KAMI

Pasalnya, kurikulumisasi yang dimaksudkan WASATHU ini bukan berarti penyeragaman khotbah sebagaimana yang dipraktikkan di Timur Tengah. Akan tetapi Kurikulum yang dimaksudkan di sini adalah penyesuaian materi khotbah dengan kondisi sosial masing-masing daerah. Tujuannya adalah menyamakan langkah gerak demi perubahan besar untuk kemajuan umat.

“Kurikulum itu tidak berarti seragam. Usulan dari WASATHI, negara dan ulama bisa membuat silabus tema besarnya saja. Mengenai kurikulum, itu berbasis budaya dan adat masing-masing daerah. Misalnya, kebutuhan umat di NTB tentu akan berbeda dengan di Aceh maupun NTT, ” ungkapnya.

ARTIKEL LAIN