EDUKASI
Olahraga Sebagai Adat Muhakkamah
Wacana

Olahraga Sebagai Adat Muhakkamah

Oleh Ahmad Fairozi

Olahraga merupakan subkultur masyarakat yang mengimplemintasikan sistem nilai, hazanah pengetahuan dan wawasan masyarakat itu sendiri. Dapat dikatakan, segala bentuk ekspresi keseharian dalam tatanan masyarakat, termasuk juga olahraga merupakan perwujudan dari sisi-sisi structured culture yang dibangun atas dasar kesadaran dan sekaligus keterbatasan kapasitas struktur sosial masyarakat itu sendiri.

Berkaitan dengan itu, keberadaan olahraga sebagai bentuk gerak sadar dari masyarakat tidak dapat dipandang sebelah mata, ketika diposisikan sebagai suatu kegiatan yang menyibukkan manusia dengan kegiatan yang menjauhkan dari mengingat tuhan. Akan tetapi sebaliknya, sisi-sisi positif olahraga yang menjamin stabilitas kesehatan manusia dapat pula dipandang sebagai salah satu prasyarat untuk melaksanakan ibadah itu sendiri.

Sebelum beranjak jauh mengabstraksi olahraga sebagai pilihan sadar untuk menjamin kelangsungan aktivitas manusia, termasuk juga untuk ibadah, perlu diketengahkan pahaman bahwa olahraga adalah bagian integral tak terpisahkan dari sistem nilai, adat tradisi manusia itu sendiri. Dapat dilihat poin pentingnya pada perbedaan bentuk olahraga yang dipragakan oleh masyarakat Nusantara dan olahraga yang dipragakan oleh masyarakat luar.

Olahraga beladiri Nusantara misalnya, yang resmi didirikan pada tanggal 3 Januari 1986 di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur dipragakan oleh santri dan kalangan Nahdlatul Ulama (NU) secara umum, selain memliki peran penting untuk menjada kesehatan juga dijadikan salah satu alat untuk melawan penjajah.[1] Tentu olahraga yang demikain senada dengan tujuan utama Islam yang membebaskan manusia dari penjajahan dan deskriminasi.

Selebihnya lihat pula olahraga kerapan sapi yang ditradisikan oleh masyarakat Madura tidak dapat dilepaskan dengan sejarah pernyebaran agama Islam di Madura. Kerapan sapi dijadikan momentum untuk mensyukuri nimat Allah atas karunia rezeki yang diberikan melalui bercocok tanam setelah panin. Madura yang tergolong dengan masyarakat agraris sangat tepat jika Kiai Baidlawi menyampaikan ajaran Islam pada awalnya melalui media bercocok tanam dan mengajari masyarakat mengolah tanah dengan menggunakan jasa sapi. [2] Dan sebagai syukuran dilaksanakanlah kerapan sapi sebagai hiburan.

Artikel Terkait  Fikih Sosial; Dari Teosentris Hingga Sosio-antropologis

 Kedua bentuk olahraga yang demikian ini menunjukkan bahwa olahraga tidak hanya memiliki sisi nigatif sebagaimana yang diasumsikan pada pemuka agama. Akan tetapai olahraga yang berkembang di nusantara memiliki sisi-sisi historisitas yang jelas dan bahkan berkaitan erat dengan strategi penyebaran islam dan atau untuk menjaga keutuhan bangsa.

Lebih lanjut terkait dengan khazanah olahraga, Herwandi menyebutkan bahwa olahraga tradisional yang ada di Nusantara memiliki ciri khas, karakter dan keistimewaannya masing-masing. Karakter olahraga yang demikian ini menurut Herwandi merupakan cerminan dari nilai-nilai luhur kebudayaan masyarakat Nusantara itu sendiri.

Secara teoritis Herwandi, Sugiyanto, dan Doewes menerangkan bahwa olahraga yang berkembang di Nusantara merupakan permainan masyarakat dengan berbagai batasan dan ketentuan yang berlaku di masyarakat itu sendiri.

Berdasarkan beberapa pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa olahraga nusantara adalah olahraga atau permainan yang diwariskan dan berkembang di masyarakat serta dijadikan sebagai suatu tradisi budaya. Oleh karena itu, pembahasan khazanah olahraga yang dikaitkan dengan hukum Islam, perlu dipertimbangkan sebagai salah satu sumber hukum untuk menetapkan hukum olehraga itu sendiri. Sebab bagi penulis, khazanah olahraga dapat diposisikan setara hukumnya dengan adat dan tradisi yang menjamur di tengah-tengah masyarakat pada umumnya.

Asumsi penulis yang demikian ini didasarkan pada hasil riset yang dilakukan oleh Tim Delaney dan Tim Madigan dalam  The Sociology of Sports: An Introduction yang menerangkan bahwa segala bentuk ragam olahraga, terutama yang ada di Nusantara senantiasa memanfaatkan beberapa bahan yang tersedia sebagai sebuah kreativitas masyarakat sekitar. Hal itulah yang membentuk olahraga sebagai bagian tak terpisahkan dari kultur dan elemen sosial masyarakat itu sendiri.

Tim Delaney dan Tim Madigan dalam hasil penelitiannya menegaskan bahwa setiap elemen olahraga memiliki makna sosiologisnya tersendiri.[3] Artinya, masing-masing olahraga memiliki keunikan tersendiri dengan beragam makna yang dimaksud oleh para pendahukunya. Teori ini menegaskan bahwa, olahraga sebagai suatu bentuk simbol sosial suatu masyarakat tentu saja memiliki arti penting bagi sebuah kebudayaan di wilayah masyarakat tertentu. Sebab, olahraga bukan sekadar permainan nirmakna, melainkan sudah menjadi satu institusi sosial tersendiri.[4]

Artikel Terkait  Takbir yang Dilarang Rasulallah

Berkaitan dengan itu, maka tak berlebihan jika  penulis menganggap olahraga sebagai bagian  penting dari sisitem nilai, adat dan tradisi yang berkembang di tengah-tengah masyarakat itu sendiri. Oleh karenanya, sikap menolak atau menutup diri dari pengaruh olehraga sangatlah tipis  kemungkinan.

Al-adah alMuhakkamah: Memosisikan Olahraga sebagai Subjek dan Objek sekaligus

Gagasan penting yang hendak penulis sampaikan dalam esai ini adalah perspektif baru tentang olahraga yang tak hanya dijadikan objek hukum. Penulis mengasumsikan bahwa olahraga dalam kemungkinannya juga bisa menjadi subjek dan sumber hukum.

Olahraga sebagai subjek mengandaikan olahraga sebagai bagian tak terpisahkan dari adat, tradisi dan sisitem nilai yang berlaku di tengah-tengah masyarakat itu sendiri. Olahraga dalam posisi ini menjadi salah satu pertimbangan untuk memutuskan hukum selanjutnya.

Beberapa alasan yang mungkin dapat disajikan sebagai landasan berpikir dalam memosisikan olahraga sebagai bagian dari adat yang dapat dijadikan landasan hukum adalah pertama, pertimbangan maslahat dan mafsadat dari olahraga itu sendiri. Menurut as-Syatibi maslahat secara umum dapat dicapai melalui dua cara, pertama, mewujudkan manfaat, kebaikan dan kesenangan untuk manusia yang disebut dengan istilah jalb al-manafi’. Manfaat ini bisa dirasakan secara langsung saat itu juga atau tidak langsung pada waktu yang akan datang.  Kedua, menghindari atau mencegah kerusakan dan keburukan yang sering diistilahkan dengan dar’ al-mafasid.

Adapun yang dijadikan tolok ukur untuk menentukan baik buruknya (maslahah dan mafsadahnya) sesuatu yang dilakukan adalah apa yang menjadi kebutuhan dasar bagi kehidupan manusia.[5]

Konsep maslahat dalam posisi ini dapat dilihat dari aspek cakupannya yang dikaitkan dengan komunitas (jama’ah) atau individu (perorangan). Hal ini dibagi dalam dua kategori, pertama,maslahat kulliyat, yaitu maslahat yang bersifat universal yang kebaikan dan manfaatnya kembali kepada orang banyak. Contohnya membela negara dari serangan musuh, membentuk tim ahli penjamin produk halal dan seterusnya. Kedua, maslahat juz’iyat, yaitu maslahat yang bersifat parsial atau individual, seperti pensyari’atan berbagai bentuk mu’amalah.

Artikel Terkait  Teologi Pembebasan Asghar Ali Engineer

Berdasarkan pertimbangan tersebut ragam-ragam olahraga yang berkambang di tengah-tengah masyarakat dapat dinilai membari manfaat terhadap kehidupan manusia. Dan kemanfaatan itu dapat dapat dirasakan oleh kelompok, semisal mengenalkan kekayaan ragam olahraga Nusantara ke dunia luas untuk meningkatkan martabat negara. Dan atau bermanfaat secara individual seperti olahrga untuk menjada diri agat tak terhinggap penyakit.

Kedua, adanya illat yang menuntut keharusan dilakukannya suatu hal termasuk olahraga adalah illat di mana manusia tidak dapat menghindari kegiatan olahraga secara persoanal dan negara pun tidak dapat mengelak dari tuntutan komuditas olahraga yang terus berkembang saling mendominansi dan mengambil pengaruh. Illat dalam posisi bukanlan illat yang berkaitan langsung dengan agama, illat yang dimaksudkan di sini adalah tuntutan masa. Dan mengimbangi tuntutan masa adalah bagian dari perintah agama itu sendiri. Yang perlu ditegaskan dalam melihat illat yang mengharus olahraga adalah sejauh mana olahraga diatur sedemikian sistematis agar tidak merusak perintah agama yang qoth’i.

Dari berbagai argumen yang telah disajikan, penulis berkesimpualn bahwa ragam-ragam olahraga dapat dijadikan tolok ukur untuk menetapkan hukum olahraga itu sendiri yang dalam posisinya sebagai objek hukum. Tentu dengan senantiasa memerhatikan kedua pertimbangan yang penulis telah sebutkan sebelumnya.


[1] Abdullah Alawi, Sejarah Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa, (NU Online, 2019) diakses pada Jumat (1/11)

[2] Rosida, Madura; Kebudayaan dan Mata Pencaharian Rakyatnya. (Jakarta : Pustaka Jaya, 1986), h. 18.

[3] Tim Delaney dan Tim Madigan, The Sociology of Sports: An Introduction, (North Carolina: McFarland and Company, 2014), h. 8

[4] Tim Delaney dan Tim Madigan, The Sociology …, h.73

[5] Al-Syathibi, Al-Muwafaqat fi Ushul al-Syari’ah, (Riyadh, Maktabah alRiyadh al-Haditsah, tth), h. 37.

Author Profile

Ahmad Fairozi
Ahmad Fairozi
Mahasiswa Pascasarjana UNUSIA Jakarta

ARTIKEL LAIN