EDUKASI
Nalar Politik NU: Pesantren dan Kultur Politik Bangsa
Khazanah Politik

Nalar Politik NU: Pesantren dan Kultur Politik Bangsa

“Pesantren adalah sebuah lembaga pendidikan multifungsi. Melalui pesantrenlah 3 keunggulan pendidikan bisa dielaborasikan secara paripurna. Sebab hanya pesantrenlah yang mampu menciptakan suasana pendidikan yang saling terhubung satu sama lainnya. Antara pendidikan berbasis lingkungan sosial dengan interaksi aktif antara disiplin ilmu sekolah dan hidup di masyarakat (social educated).” 

Pendapat ini disampaikan pengamat politik dan konsultan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Marbawi A Katon dalam bedah buku Pesantren Studies 4a: Nalar Politik Pesantren dan Masa Depan Politik Kaum Nahdliyinyang digelar Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar NU (IPNU) di gedung PBNU, Jakarta, Kamis (18/7).

Melalui pesantrenlah sebuah karakter mampu membentuk pengetahuan secara politik. sebagaimana diungkapkan sebagaimana diungkapkan Ahmad Baso yang juga merupakan penulis buku Pesantren Studies 4a: Nalar Politik Pesantren dan Masa Depan Politik Kaum Nahdliyin. Setidaknya ada empat elemen karakter politik yang dapat dibentuk melalui pendidikan di pesantren, yaitu :

Artikel Terkait  Covid-19, Albert Camus, dan Kematian yang Tertunda

Pertama, pesantren membentuk secara natural sebuah interaksi sosial dan mampu memberlakukannya sebagai sebuah disiplin ilmu di dalam lingkungannya. Kedua, Pesantren sebagai dapur nasionalisme dan toleransi yang mengajarkan cara hidup bertenggang rasa terhadap perbedaan latar belakang para santrinya. Ketiga, pesantren mampu menghadirkan ruh sebagai semangat kebangsaan dan cinta tanah air. Karena melalui pesantrenlah harmonisasi dan resolusi konflik  diajarkan secara mediasi. Keempat, pesantren mengajarkan cara berpikir yang open minded dan global yang tidak hanya mengajarkan prilaku interaksi antar individu semata tetapi juga antar komunitas pergaulan, bahkan sebuah interaksi yang lebih luas dalam wawasan internasional.[]

Oleh Eko Indrayadi

ARTIKEL LAIN