EDUKASI
Wacana Pendapat

Mode Wanita Jahiliyah Modern

Wanita hakikatnya adalah makhluk Allah yang mempunyai keistimewaan-keistimewaan. Allah memberikan anugrah yang begitu besar kepada kaum hawa, yang dengan anugrah tersebut mereka dapat dengan mudah untuk masuk ke dalam firdausNya. Allah mengkiaskan kaum wanita seperti sebuah perhiasan bagi kaum pria. Mereka akan terlihat bernilai mahal apabila mampu menjaga kehormatannya tersebut, yaitu dengan menutupi anggota-anggota tubuh yang tidak layak dilihat oleh kaum pria yang bukan mahromnya.

Namun, fenomena saat ini justru sebaliknya. Kaum wanita dengan bangga mengumbar auratnya sendiri yang seharusnya aurat tersebut tak layak untuk diumbar-umbarkan. Mereka memakai pakaian, yang model pakaian tersebut dapat dikatakan serupa dengan pakaian wanita pada zaman jahiliyyah. Pakaian wanita yang dipakai pada zaman jahiliyyah sama sekali tidak dapat dikatakan sebagai sebuah “pakaian”  yang layak dan pantas untuk dipakai. Pakaian yang sama sekali tidak dapat menutupi seluruh anggota tubuh. Pakaian tersebut masih belum bisa dikatakan sebagai pakaian karena tidak sesuai dengan fungsi dari pakaian itu sendiri, yaitu agar dapat menutupi anggota tubuh.

Tradisi pakaian wanita jahiliyyah sebenarnya masih dapat dimaklumi jika dibandingkan dengan pakaian wanita saat ini, karena mungkin pada masa itu masih jarang sekali kain yang dapat digunakan untuk membuat pakaian. Namun, apabila tradisi pakaian wanita jahiliyyah tersebut masih dipakai pada saat ini, itu sungguh jelas tidak wajar, karena masih banyak sekali kain yang masih dapat digunakan untuk membuat pakaian.

Dapat kita lihat bahwa mode pakaian wanita saat ini sangat tidak sesuai dengan kriteria pakaian yang diajarkan oleh Islam. Mereka menggunakan pakaian yang sama sekali tidak mencerminkan muru’ah (wibawa) dari seorang wanita, yang penulis menyebutnya dengan pakaian yang “kainnya kurang”.

Artikel Terkait  Internalisasi Khittah Nahdlatul Ulama dalam Mengurangi Tindakan Kekerasan di Sekolah

Ironisnya, pakaian yang seperti itu ternyata tidak hanya dipakai oleh wanita-wanita non-muslim saja, yang notabenenya mereka tidak paham mengenai akhlak berpakaian. Akan tetapi, pada saat ini sudah banyak para wanita yang dirinya mengaku sebagai wanita muslimah, namun tidak mencerminkan sisi kemuslimahannya, yaitu mereka masih memakai pakaian yang tidak pantas untuk dipakai.

Kaum wanita masih merasa nyaman-nyaman saja dengan memakai pakaian tersebut. Justru mereka merasa lebih senang memakai pakaian yang seperti itu dibandingkan dengan memakai pakaian wanita muslimah. Mereka beranggapan bahwa dengan memakai pakaian yang seperti itu akan membuat kaum pria menjadi tertarik dan simpatik terhadapnya.

Tak kalah menyedihkan lagi jika kita menengok ke tren pakaian muslimah saat ini. Pakaian muslimah saat ini masih belum memenuhi kriteria pakaian muslimah yang benar sesuai syara’. Pakaian tersebut justru tidak dapat dikatakan sebagai pakaian yang menutup aurat, melainkan dapat dikatakan sebagai pakaian yang “membungkus” aurat.

Dewasa ini, rasanya tidak sulit untuk menjumpai para wanita yang seperti itu. Wanita yang dlohirnya berpakaian, namun hakikatnya telanjang di hadapan Allah. Mereka menirukan mode seperti itu karena tidak ingin dikatakan sebagai seorang wanita yang ketinggalan mode. Akan tetapi, mereka ingin dikatakan sebagai wanita yang update dalam mode pakaian, tanpa memperdulikan manakah mode pakaian yang baik dan pantas sesuai dengan hukum syara’.

Artikel Terkait  Apakah Agama Membolehkah Demonstrasi?

Pakaian syar’i yang seharusnya dipakai oleh kaum hawa yaitu pakaian yang menutup aurat, tidak transparan, serta tidak memperlihatkan lekuk-lekuk tubuh mereka. Namun, tidak jarang pakaian yang saat ini dikatakan sebagai pakaian muslimah justru tidak dapat memenuhi kriteria sebagai pakaian muslimah hakiki. Kain yang dipakai untuk membuat pakaian muslim saat ini sangatlah transparan sehingga dapat memperlihatkan bentuk tubuh seorang wanita.

Anehnya lagi, justru model pakaian yang seperti inilah yang saat ini banyak disukai dan menjadi tren bagi kaum hawa. Jarang sekali kaum hawa yang menyukai ataupun memakai pakaian yang tidak transparan dan tidak ketat. Mungkin karena alasan inilah banyak sekali toko-toko pakaian muslimah yang membuat dan menjual berbagai macam pakaian pembungkus aurat tersebut.

Hal inilah yang membuat banyak sekali kaum wanita yang masuk neraka dibandingkan dengan kaum pria. Mereka tidak menyadari bahwa akibat dari tingkah lakunya tersebut sangat fatal. Mereka tidak akan pernah masuk surga, bahkan mencium baunya sekalipun juga tidak akan bisa. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda : “… dan wanita-wanita yang berpakaian tetapi hakikatnya telanjang,…. Mereka tidak masuk surga dan tidak mendapatkan wanginya surga padahal wanginya boleh didapati dari jarak sekian dan sekian.”

Tak hanya itu saja. Wanita yang berkerudung tidak selamanya dapat dikatakan sebagai wanita sholehah. Fenomena yang terjadi saat ini, banyak sekali wanita yang memakai kerudung, tetapi masih menampakkan perhiasan mereka. Kebiasaan ini juga merupakan kebiasaan yang dilakukan oleh para wanita pada zaman jahiliyyah. Mereka sangat bangga apabila perhiasan yang mereka pakai tersebut dapat dilihat oleh banyak orang. Padahal Allah SWT telah berfirman : “Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan-perhiasan mereka.” (Q.S. an-Nur : 310). Sudah jelas sekali bahwa Allah SWT sangat melarang kaum wanita untuk menampakkan perhiasan-perhiasannya. Perbuatan yang dilakukan kaum wanita inilah yang secara tidak langsung dapat menyeret kaum pria ke dalam jurang neraka.

Artikel Terkait  Filosofi Korupsi

Maka dari itu, kaum wanita seharusnya dapat menjaga kehormatannya dengan cara menutupi aurat mereka menggunakan pakaian yang memenuhi syara’ dan tidak menampakkan perhiasan maupun harta duniawi yang dimilikinya. Wanita hakikatnya adalah tiang negara. Apabila wanita tersebut baik, maka akan baik pula negaranya. Begitu pula sebaliknya. Apabila wanita tersebut fasad (rusak), maka akan rusak pula negaranya. Wanita dapat menjadi perhiasan yang bernilai mahal apabila tingkah lakunya sesuai dengan syari’at Islam tanpa harus meniru gaya atau tingkah laku dari wanita jahiliyyah. Wallahu a’lam bi ash-showab.

Oleh: Siti Qoniatun Ni’mah, Alumnus Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo Semarang.

Sumber Baladena

ARTIKEL LAIN