EDUKASI

Menimbang “Peremajaan Istilah” Bahasa Indonesia Di Kalangan Pemuda

Judul                   : Susu Bikini  

Pengarang                   : Encep Abdullah  

ISBN                   : 978-632-91021-6-6

Tahun terbit       : Juli, 2019

Tebal halaman : 139 halaman

Penerbit              : Komentar

Presensi              : Abdul Warits

Merawat otentitas bahasa Indonesia sebagai bahasa kesatuan masyarakat Indonesia merupakan bagian dari meruwat cinta tanah air (nasionalisme). Perkembangan istilah dalam tata bahasa Indonesia terus mengalami “peremajaan” istilah hingga kini. Akan tetapi, apakah istilah kebahasaan yang muncul di tengah-tengah kita masih sesuai dengan kaidah baku bahasa Indonesia dan sesuai dengan PEUBI (pedoman ejeaan umum bahasa Indonesia) yang berlaku.

 Buku ini membahas secara detail istilah-istilah bahasa yang muncul sebagai bukti kepedulian terhadap perkembangan bahasa dan pertimbangan-pertimbangan kritis penggunaan istilah bahasa yang dianggap “salah kaprah” di tengah-tengah masyarakat kita. Sebagaimana yang sering kita dengar, penggunaan kata aku atau saya diganti ane, kata kamu atau kalian diganti ente atau antum (hal. 03). Inilah bentuk naturalisasi bahasa dalam kehidupan kita sehari-hari. Sebagai warga negara Indonesia yang militan, kita harus responsif dengan dengan perkembangan tersebut bahwa pengunaan naturalisasi bahasa yang belum ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah bentuk penyimpangan dan hanya bisa digunakan dalam percakapan saja. Tidak bisa dibawa ke dalam ranah pelajaran Bahasa Indonesia apalagi  dalam ruang lingkup tulis menulis.

Tidak hanya itu, dalam buku ini juga dipaparkan bagaimana pemakaian pronomina kata “aku” dan “saya” terhadap objeknya. Kata ganti “aku” merujuk pada orang yang berbicara atau menulis dalam ragam akrab, sedangkan “saya” merujuk pada orang yang berbicara atau menulis dalam ragam resmi atau biasa. Keduanya juga memiliki “jarak psikologis” yang berbeda. Kata “aku” bermarkah keintiman (marked intimacy) sedangkan “saya” tak bermarkah (unmarked). Maka tidak salah, jika Sukarno sebagai tokoh nasionalis bangsa Indonesia menggunakan kata “aku” karena ia ingin membangun hubungan yang akrab dan egaliter dengan massa (rakyat). Pada satu sisi, Sukarno juga menggunakan kata “saya” saat berpidato di depan para pemimpin baik tingkat nasional maupun internasional. Tujuannya adalah merendahkan diri dan menghormati orang lain yang tingkat status atau posisinya setara atau lebih. (hal. 06)   

Artikel Terkait  Belajar Strategi Dakwah yang Memikat Nurani

Selain itu, salah satu yang dianggap salah dalam penulisan bahasa Indonesia yaitu tentang pertentangan kebakuan kata “ustaz”. Dalam buku ini pertentangan tersebut diulas pada judul Kembali Ke Usta(z). Penulis menceritakan kisahnya yang hampir bertengkar dengan bapaknya sendiri karena perbedaan penulisan “Ustadz” dan “Ustaz”. Sedangkan, yang baku dalam bahasa Indonesia adalah kata “Ustaz”. Sampai-sampai bapaknya berujar seperti ini,”kalau kamu menggantinya menjadi ustaz, maknanya akan berubah. Bahasa Arab tidak boleh diubah-ubah. Ia berasal dari bahasa langit. Ini urusannya dengan akhirat. Ya, kalau berasal dari bahasa orang kafir (barangkali menurutnya bahasa selain bahasa arab) terserah mau bagaimanapun tulisannya. Kamu baca dong, literatur-literatur arab. Jangan samakan bahasa Arab dengan Indonesia. Jangan sembarangan mengganti. Ini urusannya surga dan neraka!” (hal. 108). Encep Abdulllah, penulis buku ini, yang notabene adalah salah satu lulusan pendidikan sastra bahasa Indonesia dan guru bahasa Indonesia berhasil dalam meluruskan tata kebahasaan yang dianggap menyimpang dari kaidah baku. Bahkan, pengalamannya, meski ia berdebat dengan bapaknya sendiri dalam pengunakaan kata “ustaz” dan “ustadz”, dirinya tetap berpedoman terhadap kaidah baku dalam bahasa Indonesia yaitu dengan menggunakan kata “ustaz”. Walaupun, resikonya harus bermakna lain ketika diadopsi dari bahasa Arab.

Artikel Terkait  Rekontruksi Kontekstualisasi Novel Sejarah

Selain memaparkan tentang beberapa kasus yang dianggap penting untuk diperhatikan dalam tata kebahaasaan, buku ini juga menyinggung tentang bagaimana menanamkan sikap bijaksana dalam belajar dan mengajar bahasa apapun, termasuk bahasa asing dan bahasa daerah. Contohnya, dalam esai yang berjudul “Sekolah, Bahasa Ibu, dan Bahasa Indonesia” penulis menceritakan pengalaman menariknya ketika menghadapi siswa yang terbiasa menggunakan bahasa daerah dalam berkomunikasi di dalam kelas, bahkan yang lebih miris mereka menggunakan bahasa daerah yang kasar. Akhirnya, Encep Abdullah mewajibkan kepada siswanya menggunakan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi dengannya dan ternyata mereka tidak bisa dan lebih betah menggunakan bahasa daerah atau bisa menggunakan bahasa Indonesia namun dengan bahasa-bahasa yang keren, gaul dan lain sebagainya. Sehingga, sebagai guru bahasa, akhirnya ia mewajibkan siswanya untuk membaca buku demi menambah pembendaharaan kata-kata bahasa Indonesia. Bahkan, pengalaman dirinya dalam esai tersebut menarik untuk diambil pelajaran penting bagi kita sebagai masyarakat yang terus bisa merawat bahasa. Perdebatan-perdebatan dengan istrinya dalam penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa daerah dalam menddidik anaknya menjadi cerita yang menarik.  

Pada intinya, membatasi anak untuk menyimak bahasa yang dominan digunakan di sekitarnya adalah sesuatu yang sangat mustahil dihindari. Banyak orang tua yang lebih mengajari anaknya dengan “bahasa ibu” bahasa Indonesia dari pada “bahasa ibu” bahasa daerah. Bahasa daerah tidak disetiap tempat ada. Tidak disetiap tempat digunakan. Tidak disetiap tempat dilestarikan. Akan tetapi, bahasa Indonesia sebagai lingua franca bisa digunakan dimana saja dan kapan saja baik dalam situasi formal maupun non formal. (hal. 69)   

Artikel Terkait  Belajar Strategi Dakwah yang Memikat Nurani

Beberapa judul esai yang renyah dan satire dalam buku ini merespon isu-isu kebahasaan yang terjadi dalam kehidupan nyata serta berdasarkan kepada pengalaman penulis dan pengamatannya dalam memberikan solusi kebahasaan kepada pembaca. Oleh sebab itu, tidak perlu diributkan bahasa apa yang harus didahulukan atau bahasa apa yang harus menjadi “bahasa ibu”. Yang terpenting kita mengajari anak kita bahasa yang baik, bahasa yang sopan, bahasa yang dibutuhkan oleh perkembangan dan situasi zaman. Konklusinya, bahasa daerah itu penting, bahasa Indonesia itu wajib dan bahasa asing itu butuh. Tabik!

*Mantan Ketua Penyisir Sastra Iksabad (PERSI)

PP. Annuqayah daerah Lubangsa.

ARTIKEL LAIN