EDUKASI
Khazanah

Menghidupkan Keberagamaan Idealis-Realistis

Ahmad Fuad Fanani berusaha menyuguhkan kontranarasi terhadap kuatnya eksklusivisme yang telah berhasil masuk dalam irisan pemahaman masyarakat.

WILDANI HEFNI, Dosen IAIN JemberWILDANI HEFNI, Dosen IAIN Jember

TERBUKANYA keran demokrasi di Indonesia telah memberikan ruang gerak yang luas terhadap tumbuhnya pelbagai aliran keagamaan yang ditandai dengan menguatnya fenomena kebangkitan agama-agama (the revival of religions). Tapi, rupanya, kebangkitan agama di era disrupsi saat ini tidak sekadar membawa pesan keselamatan, tapi justru menebar kecemasan, bahkan keganasan.

Kita bisa menyebut beberapa organisasi yang memiliki agenda politik keagamaan dengan disokong kekuatan militan para pengikutnya. Kelompok Ikhwanul Muslimin (IM), Jamaah Islamiyah, Jamaah Anshorut Tauhid (JAT), Laskar Jihad, Laskar Jundullah, dan beberapa lainnya, secara langsung maupun tidak, telah mengacaukan tenunan sosial (social fabric) keberagamaan di tanah air.

Hal itu bisa kita lihat dengan munculnya gairah keberagamaan model baru yang dibalut dengan rajutan monopoli kebenaran, eksklusif, formalistik, dan pada titik tertentu cenderung radikal.

Ibarat menanam pohon, tambah hari tambah besar. Saat ini kita sedang memanen tren gerakan keberagamaan baru yang tumbuh subur dengan performa eksklusivisme, berakar kuat dengan islamisme, berdaun rimbun dengan gerakan antipluralisme, serta berbuah lebat penuh spirit radikalisme dan intoleransi.

Artikel Terkait  Catatan Kaki atas Moderasi Indonesia dan Keindonesiaan Prof. Dr. Haedar Nashir

Di tengah suasana serbasulit untuk menggalakkan lagi koeksistensi produktif di balik terkuburnya tema-tema kunci Islam seperti toleransi dan moderasi, buku ini hadir dengan semangat humanistis untuk menciptakan kohesi sosial dalam masyarakat yang plural dan multikultural. Ahmad Fuad Fanani berusaha menyuguhkan kontranarasi terhadap kuatnya eksklusivisme yang telah berhasil masuk dalam irisan pemahaman masyarakat.

Dalam analisis Fuad, tantangan, pengikisan, dan perobohan tembok-tembok fanatisme golongan dan kesukuan yang mengidentifikasi kelompoknya sebagai yang paling benar adalah pekerjaan nyata yang ada di hadapan kita sebagai bangsa yang plural. Karena itu, dia mendedah berbagai disparitas teologis maupun kepentingan sosial-politis yang menyuburkan gerakan kekerasan dalam beragama.

Sebagai seorang pemikir cum-aktivis keberagamaan, Fuad dengan jeli mengkaji dua persoalan besar yang mengebiri spirit utama Islam seperti toleransi (tasamuh), egalitarianisme (al musawah), dan keadilan (al adalah). Dua fenomena tersebut adalah gerakan merampas hak Tuhan dan gerakan memperebutkan otoritas Tuhan.

Perampasan terhadap hak Tuhan menjadi narasi keberagamaan yang mudah kita temui seperti pelabelan kafir (takfir) dan penyebutan paham sesat. Sementara dalam perebutan otoritas Tuhan, modus operandinya dengan cara klaim absolut kebenaran dalam pasar gagasan atas suatu kelompok. Di satu sisi, kelompok yang lain juga melakukan hal serupa. Yang terjadi kemudian adalah kontestasi.

Artikel Terkait  Jaringan Intelektual Ulama Nusantara-Timur Tengah Abad XVII dan XVIII

Dengan bahasa yang sederhana, ada yang beragama secara realistis dan ada pula yang beragama secara idealis. Bagi Fuad, beragama secara idealis tidak cukup jika tidak memperhatikan realitas yang ada di sekitarnya. Yang lebih tepat dilakukan adalah mencari sisi-sisi positif masing-masing untuk melakukan sintesis idealis-realistis yang lebih komprehensif dan mendalam (halaman 49).

Dalam teologi keberagamaan yang merasa superior, kategorisasi ”kita” (we) dan yang lain (others) menjadi titik pertikaian. Tafsir ideologis dan politis tentang kategorisasi tersebut diawali kejumudan dalam beragama.

Peneguhan pada sumbu garis keras yang cenderung intoleran dan eksklusif kemudian bermuara pada penolakan terhadap pluralisme. Pluralisme dianggap sebagai agenda konspirasi Barat. Dalam konteks ini, Fuad tampil sigap untuk menolak gagasan itu.

Memaknai Ulang Pluralisme

Fuad merekonstruksi kesalahan pemaknaan pluralisme. Menurut dia, pluralisme tidak terbatas pada persoalan perbedaan, tetapi juga tentang keterikatan, keterlibatan, dan partisipasi. Pluralisme melampaui dari sekadar keberagaman, tapi terlibat aktif dengan kemajemukan.

Dalam prosesnya, yang dibutuhkan adalah partisipasi menuju keselarasan dengan kehidupan dan energi sesama manusia. Fuad menyatir gagasan Abdulaziz Sachedina dalam bukunya, The Islamic Roots of Democratic Pluralism (2001), yang menegaskan bahwa pengakuan terhadap pluralisme agama dalam sebuah komunitas sosial menjanjikan dikedepankannya prinsip inklusivitas yang akomodatif.

Artikel Terkait  Meneladani Politik Kemanusiaan

Alhasil, buku ini mengajak seluruh komponen masyarakat untuk tidak sekadar memfungsikan agama sebagai pemersatu emosional. Agama seharusnya diarahkan pada pengembangan wacana dan dialog sebagai cara pandang keagamaan yang humanistis, otentik, dan ramah terhadap realitas perbedaan.

Agama sebagai ideologi memang berfungsi sebagai pengerah massa. Namun, dalam praksis keberagamaan, agama mengandung nilai-nilai humanisme untuk terlibat aktif mengurai perbedaan menuju kemaslahatan. (*)


JUDUL BUKUIslam Agama untuk Manusia
PENULIS: Ahmad Fuad Fanani
PENERBIT: Mizan, Bandung
CETAKAN: Pertama, Maret 2020
TEBAL: 212 halaman
ISBN: 978-602-441-068-1

Author Profile

Edukasi
Edukasi
Edukasi adalah situs pendidikan yang dikelola oleh mahasisea Pascarjana UNUSIA Jakarta

ARTIKEL LAIN