EDUKASI
Mengenal Cara Berpikir Filsafat

Mengenal Cara Berpikir Filsafat

Oleh: M. Syukri

Rasa ingin tahu merupakan sifat naluriah yang melekat pada diri manusia, di mana usianya setua umur manusia. Sejak manusia diciptakan, keingintahuan itu muncul menjadi dasar gerak otak yang direalisasikan menjadi sebuah pertanyaan-pertanyaan dengan menuntut jawaban tentang sebuah realita. Rasa ingin tahu itu menjadi cikal bakal halirnya pengetahuan, walaupun pengetahuan pertama, hanya pengetahuan kodratiyah yang belum memiliki nilai kritis.

Cara berpikir manusia pertama memakai logika alamiah atau naturalis yang dilakukan atas dasar kodrat dan kemanusiaan saja tanpa berpikir mendalam (radikal) tentang sesuatu. Hingga yang didapat hanya kulit luar dari objek yang dilihat dan dipertanyakan, seperti nama, warna, bentuk dan kegunaan benda yang menjadi sasaran pertanyaan itu.

Cara berpikir terus mengalami inovasi seiring bertambahnya pengetahuan manusia dan semakin banyaknya objek yang menjadi sasaran. Hingga logika menemukan kerangka berpikir sistematis yang dapat menguak kelogisan sebuah relita.

Artikel Terkait  Titik Temu Wahabi dan HTI Terkait Iran

Sejak 25 abad yang lampau di mana sebelumnya manusia belum dapat berpikir sistematis. Bangsa Athena yang terkenal mempunyai kecerdasan berpikir, telah mempunyai perhatian terhadap tukar pikiran, debat dan diskusi. Bahkan debat dan diskusi menjadi kebutuhan dan impian. Dalam masa ini datang ke Athena sekelompok orang yang menamakan dirinya kaum sophis dan mengajarkan banyak hal, termasuk cara berdebat atau berdiskusi. Pokok ajarannya, mengingkari yang banar. Dalam berdebat tidak ada aturan, dan kebenaran tidak memiliki ukuran yang universal, yang penting menang dan yang menang inilah yang dianggap benar.

Ajaran itu ditentang oleh Socrates. Beliau memandang perlu adanya aturan dalam berdebat atau berdiskusi, sehingga ukuran kebenaran tidak ditentukan oleh siapa yang menang, melainkan ditentukan oleh norma dan hukum. Setelah itu muncul Plato meneruskan usaha gurunya menyusun norma dan hukum berdebat dan diskusi hanya saja belum luas cakupan bahasannya. Kemudian muncullah Ariestoteles murid Plato meneruskan dan melestarikan usaha gurunya, menyusun norma dan hukum berdebat dengan lebih teliti dan sempurna. Sehingga beliau inilah yang kemudian dianggap peletak pertama norma dan aturan berpikir logis untuk mencapai kebenaran. Maka dengan demikian Ariestoteles dijadikan sebagai guru pertama filsafat. 

Artikel Terkait  MUI Kota Bandunng Keluarkan Surat Edaran Tentang Corona vs Ramadhan

Setelah peradaban Yunani (berpikir logis-sistematis) ini diransfer ke dunia islam pada abad ke 12, maka lahirlah para pemikir dan ahli pengetahuan kenamaan yang menjadi rujukan ilmu pengetahuan dunia, utamanya dunia barat. Salah satunya seperti al-Farabi yang sangat mengerti terhadap ilmu manthiq yang disusun oleh gurunya Ariestoteles bahkan mengembangkannya. Kalau dulu bersifat teoritis, pada masa (al-Farabi)-nya dipelajari secara praktis dan dalam arti tiap-tiap keputusan diuji kebenarannya. Disini al-Farabi digelari sebagai guru kedua ilmu pengetahuan dan filsafat.

Memaknai filsafat sebagai “cinta akan kebijaksanaan”, maka muncul pertanyaan: apa sih “kebijaksanaan” itu? Yang jelas kebijaksanaan itu bertali-temali dengan mengerti (know) dengan pengetahuan (knowledge). Namun, tidak setiap “mengerti” itu kebijaksanaan atau bahkan bisa dikatakan sebagai filsafat.

Artikel Terkait  Kiai Daring, Wahabi Pening

Filsafat secara objektif dapat dipandang dari dua segi: pertama, dilihat dari segi hasil pengetahuan. Kedua, filasafat dilihat dari segi aktivitas budi manusia. Dilihat dari segi pengetahuan, filsafat adalah jenis pengetahuan yang berusaha mencari hakikat dari segala sesuatu yang ada.

Jadi, berbicara tentang filsafat, ada dua kemungkinan perspektif yang perlu dipahami. Pertama, berbicara tentang jenis pengetahuan yang disebut filsafat, atau, kedua, aktivitas budi manusia dalam mencari keterangan yang terdalam tentang segala sesuatu yang ada.

ARTIKEL LAIN