EDUKASI

Mendeteksi Infiltrasi dan Kontaminasi Penafsiran Al-Quran

Judul                          : Metode Kritik (Ad-Dakhil fit Tafsir)        

Penulis           : Dr. Muhammad Ulinnuha

Penerbit         : Qaf Media Kreativa    

Cetakan          : Februari, 2019

Tebal              : 215 halaman

ISBN               : 978-602-5547-39-3

Peresensi       : Abdul Warits*

Al-Quran merupakan kalam Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW. Kemukjizatannya dalam berbagai dimensi telah menunjukkan kesakralannya dalam kehidupan umat manusia. Akan tetapi, produk penafsiran tentu saja adalah sebuah karya pemikiran ulama (mufassir) yang berusaha untuk meraba-raba dan mendekati maksud firman Allah di dalam Al-Quran. Tentu ada berbagai kepentingan madzhab (ideologi) dan pemikiran yang kemungkinan bisa masuk di dalamnya.

 Buku ini mengajak pembaca untuk menemukan sumber-sumber data penafsiran yang tidak bisa dipertanggungjawabkan keabsahannya. Semacam riwayat israiliyat, hadits palsu dan pendapat para pendahulu yang tidak jelas asal usulnya.  Inilah yang dimaksud dengan Ad-dakhil fi tafsir (infiltrasi penafsiran). Secara singkat, ad-dakhil tafsir  adalah memasukkan data yang tidak ada sangkut pautnya dengan penafsiran Al-Quran ke dalam kitab tafsir sehingga mengangap data tersebut merupakan bagian dari tafsir Al-Quran, padahal sejatinya bukan.

Artikel Terkait  Menimbang “Peremajaan Istilah” Bahasa Indonesia Di Kalangan Pemuda

Di dalam buku ini dijelaskan tiga poin penting yaitu : pertama, sumber-sumber pokok penafsiran Al-Quran (Masadir asilah li al-tafsir). Kedua, infiltrasi dalam penafsiran Al-Quran (Ad-dakhil fi Al-Tafsir). Ketiga, fenomena israiliyat dalam penafsiran Al-Quran (israiliyat  fi al-tafsir) (hal. 19). Termasuk di dalamnya juga dijelaskan hadits-hadits palsu dalam kitab tafsir, bid’ah-bidah yang terjadi pada tafsir linguistik (kebahasaan), masalah berbagai model takwil kaum batiniyah, celotehan kaum sufi dalam penafsiran Al-Quran, dan penyelewengan penafsiran kaum baha’iyah dan qadyaniyah.

Menurut, Dr. Muhammad Ulin Nuha, kitab ad-dakhil fi tafsir Al-Quran karim ini merupakan karya asli Abd. Al-wahhab Mabruk Fayyed. Kita ini  berhasil menepis pandangan sinis sebagian orang yang mengatakan bahwa cendekiawan Timur Tengah, khususnya Universitas Al-Azhar, miskin metodologi dan antikritik. Karena itu, karya Fayyed ini merupakan kerja akademik yang patut diapresiasi. (hal. 22). Sedangkan, latar belakang penulisan kitab Fayyed ini sebagai sebuah ajakan kepada pengkaji Al-quran untuk melakukan kritik penafsiran. (hal. 25)

Artikel Terkait  Menyemai Sikap Kepedulian Kepada Sesama Sejak Remaja

Faktor peluasan dan misi dakwah Islam oleh generasi sahabat kepada segenap penjuru dunia meniscayakan adanya gesekan “kepentingan” baik dari pihak Islam sebagai subjek dakwah maupun pihak luar Islam sebagai objek dakwah. Gesekan ini terus berlanjut dan sudah melahirkan dua kelompok berbahaya. Pertama, kelompok non muslim yang masuk Islam karena keterpaksaan, bukan atas dasar sukarela dan keiklasan. Kedua, kelompok internal umat Islam yang tidak memiliki prinsip dan keteguhan hati untuk mengamalkan ajaran Islam sehingga mereka sangat mudah dipermainkan. (hal. 27)

Barangkali yang sangat mendesak untuk mengkritisi produk penafsiran di era ini adalah berkembangnya beberapa kelompok yang membawa ideologi kepentingan terhadap Al-Quran walaupun hal tersebut sudah pernah terjadi di masa lalu. Seperti yang disinggung di dalam buku ini yaitu kelompok batiniyah. Kelompok ini mengaku bagian dari Islam, tetapi sesungguhnya secara politis mereka bermaksud untuk merusak Islam dari dalam dengan alibi bahwa Al-Quran memiliki makna lahir dan batin dan kelompok ini kemudian mencetuskan beragam penafsiran yang ujungnya ingin mendegradasi dan bahkan menafikan syariat Islam. (hal. 53). Karenanya, ada dua parameter untuk mengukur keabsahan penafsiran kelompok batini ini: pertama, penasfirannya sesuai dengan kaidah bahasa arab. Kedua, kepatutan dengan aturan syariat. Artinya, penafsirannya tidak melenceng dari aturan syariat. (hal. 177)

Artikel Terkait  Rekontruksi Kontekstualisasi Novel Sejarah

Tidak hanya kelompok batiniyah saja, di dalam buku ini juga menjelaskan produk tafsir baha’iyah, produk tafsir qadyaniyah dan tentunya beberapa produk penafsiran yang terus berkembang hingga hari ini bakan dimungkinkan terdapat sebuah kepentingan dan ideologi. Maka, salah satu jalannya adalah harus tetap kritis dengan produk-produk tafsir baru saat ini dengan tetap berpegangan kepada kaidah-kaidah penafsiran yang sudah dirumuskan oleh para ulama’. Wallahu a’lam.

*Alumni Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika)

Guluk-Guluk Sumenep Madura.

ARTIKEL LAIN