EDUKASI
Menakar Militansi NU di Medsos
Khazanah Sosial

Menakar Militansi NU di Medsos

Oleh Suryono Zakka

Dalam beberapa tahun terakhir ini, militansi NU di medsos terus meningkat. Hal ini sebagai bentuk perlawanan gelombang radikalisme yang kian tumbuh dinegeri ini. Mulai dari radikalisme Wahabi hingga radikalisme eks-HTI.

Dulu medsos dikuasai oleh golongan minhum. Baik situs online, channel youtube hingga fanspage. Setiap kita mencari konten Islam pasti muncul media milik mereka, sangat sulit untuk mencari website NU hingga channel youtube. Tak jarang warga NU yang awam tentang Islam bisa dipastikan nyasar kemedia mereka. Selain masih sangat minimnya jumlah dan konten milik NU juga masih kalah canggih dengan media kelompok radikal.

Kini, hal itu tidak berlaku lagi. Dakwah NU bisa menjadi penyeimbang bahkan melesat pesat. Warga NU tak kesulitan lagi mencari media dakwah kaum Nahdliyin. Warga NU bisa mudah mengakses media dakwah sesuai dengan minat mereka. Ketika kita mencari konten Islam dengan menyertakan kata kunci NU atau Aswaja, insyaAllah media NU akan muncul atau kita bisa langsung berkunjung kemedia NU yang sudah kita kenal.

Fesbuk dan WA grup juga menjadi media dakwah yang penting bagi kaum nahdliyin. Menjadi media berbagi ilmu dari para pakar Aswaja atau media silaturahim menjaga militansi NU dari bani minhum sehingga konten yang menyesatkan dapat segera ditepis. Konten yang provokatif dapat segera tumpas.

Militansi NU dan Peran Pentingnya di Media Sosial

Peranan kader muda NU menjadi kata kunci bagi kemajuan dakwah NU dimedsos. Ada kekuatan dahsyat yang dimiliki generasi muda Nahdliyin sehinggga bangkit menguasai media sosial. Tumbuh subur akun-akun dakwah baru, channel youtube yang kian pesat dengan teknologi kekinian hingga tak kalah pentingnya, dukungan dari tokoh sepuh dan ulama senior NU. Beliau-beliau terus memacu semangat agar generasi NU terus bangkit dan bangkit menguasai media demi menjaga akidah Aswaja di bumi Nusantara dan menjaga kedaulatan NKRI.

Artikel Terkait  Pergeseran Paradigma Fiqhiyah

Solidnya militansi NU di medsos, menjadi kekuatan besar menghadang kelompok radikal. Konten Wahabi yang menyesatkan penuh tuduhan-tuduhan ngawur dapat langsung dijawab dengan hujjah Aswaja yang kokoh. Konten kaum Khilafah yang penuh provokasi, narasi hoax anti NKRI dan berita palsu dapat langsung dilayani dengan klarifikasi dan dalil-dalil yang gamblang.

Dengan kekuatan seperti itu, kaum Wahabi tak akan bisa mewahabikan Nusantara dan kaum Khilafah tak akan bisa menumbangkan NKRI. Proyek mereka akan selalu gagal. Kekuatan kaum Khilafah kian lumpuh dengan ditetapkannya sebagai ormas terlarang seperti PKI dan kekuatan Wahabi kian surut dengan tampilnya para pakar Aswaja muda yang gigih dengan semangat membara. Namun tentunya, kedua kelompok ini tetap diwaspadai karena mereka akan terus menyebarkan ajarannya kepada kaum awam.

Tanda akan bangkitnya generasi muda ini telah diisyarakatkan oleh Gus Dur pada tahun 2005 bahwa anak muda NU akan bangkit 10 tahun lagi. Kita akan panen. Mereka akan kalah dengan anak muda kita. Isyarat wali Gus Dur benar-benar nyata. NU menguasai dunia.

Saya merekomendasikan untuk sahabat yang ingin mendalami ajaran Aswaja-NU secara kaffah dan tidak tersesat dalam belantara fesbuk, bisa mengikuti akun fesbuk atau fanspage tokoh-tokoh dan ulama muda NU. Kita akan mendapatkan pengetahuan yang luas tentang NU. Ini hanya beberapa saja, tokoh muda NU yang saya kenal sangat aktif dimedsos (fesbuk) menghadang kelompok Wahabi dan HTI. Beliau-beliau ini selain aktif menulis di fesbuk juga aktif menulis buku dan kitab. Diantaranya:

  1. Kiai Ahmad Ishomuddin, dosen dan Rois Syuriyah PBNU. Alamat Prov. Lampung.
  2. Kiai Ma’ruf Khozin, Ketua Aswaja Center Jatim dan penulis buku produktif tentang dalil-dalil dan hujjah Aswaja.
  3. Kiai Yusuf Suharto, tokoh senior Aswaja juga penulis buku produktif. Jatim.
  4. Kiai Nadirsyah Hosen, dosen dan penulis buku produktif, Ketua PCINU Australia dan New Zealand.
  5. Kiai Rijal Mumazziq Z, aktif menulis tentang sejarah dan pemikiran NU. Rektor INAIFAS, Jember.
  6. Kiai Ulil Albab Djalaluddin, Pakar Aswaja. Ketua Aswaja Center Jateng.
  7. Kiai Ainur Rofiq Al Amin, dosen. Mantan pengurus HTI. Aktif menulis kelemahan narasi HTI baik dimedsos maupun buku.
  8. Kiai Ajengan Ayik Heriansyah, Mantan HTI. Aktif membela NKRI dan membongkar narasi bobrok HTI. Ketua LDNU Jabar.
  9. Kiai Abdulloh Faizin. Pengasuh Pondok Pesantren Al-Balagh, Lamongan. Juga penulis produktif buku hujjah Aswaja-NU.
  10. Kiai Muhammad Syamsudin, penulis produktif diwebsite NU. Pengasuh PP. Hasan Jufri, Jatim.
  11. Kiai Asnawi Ridwan, tokoh Aswaja Jatim.
  12. Kiai Ach Dhofir Zuhry, Pakar filsafat Islam. Pendiri Sekolah Tinggi Filsafat Al-Farabi. Pengasuh Pesantren Luhur Baitul Hikmah, dan Pendiri Madzhab Kepanjen Malang. Juga produktif menulis buku.
  13. Kiai Taha Ahmadmun (Ahmad Muntaha), Tokoh dan pakar Aswaja Muda Magelang.
  14. Ustdz Brama Kumbara (UBK), Pendakwah yang getol menyuarakan perjuangan NU. Bogor.
  15. Kang Sumanto Al Qurtuby, Aktif menulis Antropologi dan Sejarah. Dosen Antropologi Islam di King Fahd, Saudi. Pengikut aliran NU Garis Lucu karena tulisan-tulisannya yang kocak namun cerdas.
Artikel Terkait  Etika Dakwah

Dan masih banyak lagi tokoh atau ulama NU yang aktif dimedsos, para gus, para ning yang belum saya tulis tak terhitung jumlahnya yang punya andil besar dan ikhlas mengabdi, militansinya tak diragukan lagi dalam memperjuangkan NU.

Diperkuat lagi komunitas-komunitas muda NU yang aktif dimedsos diantaranya komunitas HWMI (Hubbul Wathon Minal Iman), GMNU (Generasi Muda NU), GMNU-CT (Generasi Muda NU Cyber Team), PIN (Pejuang Islam Nusantara), BIN (Balayudha Islam Nusantara) dan lain-lain. Komunitas muda NU ini juga punya andil besar dalam membela NU dan NKRI.

Marilah kita jaga persatuan demi kejayaan NU dan NKRI. Saling mendukung dan mengisi untuk kemenangan NU. Ikut andil menjadi bagian dari santri NU, santri Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari. Jayalah terus NU, Jayalah NKRI.

Artikel Terkait  Islam, Kemanusian dan Ancaman Kekerasan

*Aswaja Sumsel. Tulisan ini direpos dari Serambi Nusantara. Sumber tulisan dari FB Hubbul Wathan.

ARTIKEL LAIN