EDUKASI
Khawarij Cikal Bakal Terorisme dari Kacamata Wahabi
Khazanah Radikalisme

Khawarij Cikal Bakal Terorisme dari Kacamata Wahabi

Khawarij adalah suatu kelompok sesat yang berfaham sangat keji. Mereka keluar dari barisan ahli sunnah wal Jama’ah. Sekalipun sebagian ulama salaf ada yang mengkafirkan mereka, tetapi pendapat yang kuat mereka tidak kafir. (Mujmal Masail Iman Al-Ilmiyyah hal. 29. Lihat pula Minhaj Sunnah 5/247-248 dan Majmu Fatawa Ibnu Taimiyyah 7/217-218).

Imam Al-Ajurri berkata dalam As-Syari’ah 1/136-137: “Tidak ada perselisihan di kalangan para ulama semenjak dahulu hingga sekarang bahwa khawarij adalah kelompok jelek yang memaksiati Allah dan rasul-Nya sekalipun mereka melakukan aktivitas shalat, puasa serta amalan ibadah lainnya. Semua itu tidaklah bermanfaat bagi mereka, disebabkan mereka menafsirkan Al-Qur’an sesuai keinginan mereka. Allah telah memberikan peringatakan kepada kita akan bahaya mereka, demikian pula Rasulullah, para khulafa’ rosyidin, para sahabat serta orang-orang yang mengikuti jejak mereka. Sekali lagi, khawarij adalah kelompok yang amat jelek dan kotor, mereka saling mewariskan dan menularkan pemikiran mereka dari generasi ke generasi berikutnya, memberontak para pemerintah dan menganggap halal darah kaum muslimin”.

Hadits-Hadits Tentang Khawarij

Mengingat begitu amat berbahayanya kelompok sesat dan menyesatkan ini (khawarij), maka Nabi seringkali memberikan informasi pada para sahabatnya supaya mereka waspada darinya, bahkan sebagian ulama menilai bahwa hadits-hadits mengenai khawarij mencapai derajat mutawatir. Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Telah shahih hadits tentang khawarij dari sepuluh jalan” dikeluarkan oleh Muslim dalam Shahihnya dan Bukhari sebagiannya”. (Majmu Fatawa 3/279).

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata: “Telah mutawatir hadits-hadits dari Rasulullah tentang ciri-ciri khawarij, kejelekan mereka serta anjuran memerangi mereka”. (Mukhtashar Sirah Rasul hal. 498). Demikian pula ditegaskan oleh Syaikh Abu Usamah Salim Al-Hilali dalam Basyair Dzawi Syarf bi Syarhi Marwiyyat Salaf hal. 73 dan beliau menginformasikan bahwa dirinya telah membahas dalam sebuah risalah khusus. Wallu A’lam.

Khawarij Sumber Fitnah

Dari Abu Bakrah bahwasanya Nabi pernah bersabda:

وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَوْ قَتَلْتُمُوْهُ لَكَانَ أَوَّلَ فِتْنَةٍ وَآخِرَهَا

“Demi Dzat yang jiwaku berada d tangan-Nya, sendainya kalian membunuhnya (seorang khawarij) maka fitnah yang pertama dan terakhir kalinya”. (Shahih. Diriwayatkan Ahmad 5/42, Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah no. 938 dan dishahihkan Al-Albani dalam As-Shahihah no. 2495).

Dan dalam hadits Anas, Nabi bersabda kepada Ali bin Abi Thalib:

إِنَّ هَذَا أَوَّلُ قَرْنٍ خَرَجَ مِنْ أُمَّتِيْ لَوْ قَتَلْتَهُ مَااخْتَلَفَ مِنْ أُمَّتِيْ اثْنَانِ

“Sesungguhnya ini adalah generasi umatku yang pertama kali muncul, seandainya engkau membunuhnya, tidak akan ada dua orang yang berselisih”. (Hasan. Riwayat Abu Ya’la dalam Musnadnya 6/340-341/2668).

Perhatikanlah wahai saudaraku, wahai hamba Allah! Bagaimana Nabi mengkhabarkan tentang fitnah yang pertama dan terakhir kali, ternyata biang keroknya adalah khawarij yang begitu murah meluncurkan takfir terhadap orang Islam yang memunculkan berbagai kerusakan dan malapetaka. Jadi, khawarij merupakan akar dan sumber menyalanya api fitnah yang menyebabkan kerugian dan kesengsaraan. (Qurratul Uyun hal. 228 oleh Syaikh Salim bin Iedh Al-Hilali).

Begitu dahsyatnya fitnah khawarij sehingga menjadikan orang yang diselamatkan dari percikan fitnahnya harus mengungkapkan rasa syukur kepada Allah sedalam-dalamnya. Imam Abul Aliyah mengatakan: “Saya telah membaca Al-Qur’an sepuluh tahun setelah wafatnya Nabi kalian. Sungguh Allah telah menganugerahkan kepadaku dua nikmat, saya sendiri tidak tahu mana diantara dua nkmat tersebut yang lebih mulia; Allah memberiku hidayah Islam dan tidak menjadikanku seorang Haruri”. (Shahih. Dikeluarkan Abdur Razzaq 10/153, Ibnu Sa’ad 7/114 dan Al-Lalikai: 230).

Syaikh Abdul Malik Ramadhani Al-Jazairi menjelaskan: “Yakni nikmat hidayah memeluk agama Islam diantara agama-agama sesat lainnya dan nikmat hidayah memeluk sunnah diantara kelompok-kelompok ahli bid’ah lainnya. Dan bid’ah khawarij Haruriyyah merupakan bid’ah yang paling dahsyat menyambar hati dan menghantui kaum muslimin”. (Madarik Nadhar hal. 21-22).

(Faedah)

Ada sebuah cerita menarik berkaitan dengan kuatnya faham khawarij apabila sudah mampir di hati seorang. Dikisahkan dalam biografi Imron bin Hiththan, salah satu tokoh ulama sunnah yang berubah drastis menjadi gembong khawarij. Ceritanya, dia punya sepupu perempuan yang berfaham khawarij. Karena kecantikannya yang mempesona, maka Imron-pun akhirnya jatuh cinta padanya dan hendak menikahinya. Tatkala ditegur oleh sebagian temannya, jawab Imron dengan enteng: “Saya akan menikahinya untuk mengeluarkannya dari cengkraman faham khawarij. Tetapi apa yang terjadi?! Bukannya dia yang merubah istrinya, malah dia yang dirubah istrinya sehingga menjadi gembong khawarij. (Lihat Siyar A’lam Nubala 4/214 dan Mizanul I’tidal 5/286 oleh imam Dzahabi). Jadikanlah Jadikanlah kisah di atas sebagai pelajaran bagi kita akan bahayanya bergaul dengan ahli bid’ah.

Sekarang, penulis mengajak para pembaca semua untuk mempelajari beberapa hadits berkenaan tentang khawarij dengan mencermati fikih haditsnya:

Mencela Pemerintah dan Ulama

عَنْ أَبِيْ سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ: بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ وَهُوَ يَقْسِمُ قَسْمًا أَتَاهُ ذُوْ الْحُوَيْصِرَةِ وَهُوَ رَجُلٌ مِنْ بَنِيْ تَمِيْمٍ فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ اعْدِلْ! قَالَ رَسُوْلُ اللهِ: وَيْلَكَ وَمَنْ يَعْدِلْ إِنْ لَمْ أَعْدِلْ؟ قَدْ خِبْتُ وَخَسِرْتُ إِنْ لَمْ أَعْدِلْ …فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ: إِنَّ مِنْ ضِئْضِئِ هَذَا قَوْمَا يَقْرَأُوْنَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ, يَقْتُلُوْنَ أَهْلَ الإِسْلاَمِ وَيَدَعُوْنَ أَهْلَ الأَوْثَانِ, يَمْرُقُوْنَ مِنَ الإِسْلاَمِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ. لَئِنْ أَدْرَكْتُهُمْ لأَقْتُلَنَّهُمْ قَتْلَ عَادٍ

Dari Abu Said Al-Khudri berkata: Tatkala kami berada di sekitar Rasulullah yang waktu itu tengah membagi suatu pembagian, tiba-tiba datanglah dzul Huwaishirah, seorang laki-laki dari Tamim seraya berkata: Wahai Rasulullah berbuatlah adil! Rasulullh menjawab: Celaka kamu, siapa yang akan berbuat adil bila saya tidak berbuat adil?! Sungguh merugi diriku bila aku tidak berbuat adil”…Rasulullah lalu bersabda: Akan muncul dari sumber orang ini suatu kaum yang membaca Al-Qur’an, tapi tak sampai pada tenggorokan mereka, mereka membunuh orang Islam dan membiarkan penyembah patung, mereka keluar dari Islam sebagaimana keluarnya anak panah dari busurnya. Seandainya aku menjumpai mereka, sungguh akan aku bunuh mereka seperti kaum Adh”. (HR. Bukhari no. 6933 dan Muslim no. 1064-1066).

Artikel Terkait  Jejak Khilafah di Nusantara, Prof Azra; Ya Nggak Ada

Hadits ini memberikan faedah kepada kita dua hal:

  1. Pemikiran khawarij semenjak dahulu hingga sekarang adalah dibangun diatas mengkritik para pemimpin, mencela mereka, menguak dan membesarkan kesalahan mereka untuk mengompori api kebencian di hati rakyat.
  2. Memisahkan rakyat dari roda kepemimpinan yang benar di bawah bimbingan para ulama rabbaniyyun.
    Oleh karena itulah, maka kelompok khawarij merangkap dua kejahatan yaitu memperbesar kesalahan pemimpin sebagai jembatan mengkafirkan mereka dan melecehkan para ulama. Khawarij kuno mengarahkan bidikan dua hal tersebut pada Nabi dan para sahabatnya, sedangkan cikal bakal khawarij mengarahkan bidikannya pada ulama masa kini dan para murid-muridnya. (Al-Maqalat Salafiyyah fil Aqidah wa Dakwah wal Manhaj wal Waqi’ hal. 43-44 oleh Syaikh Salim bin Ied Al-Hilali).
    Agar lebih jelas masalah ini bagi para pembaca dan agar penulis juga tidak dituduh yang bukan-bukan, maka penulis merasa terdorong untuk menguraikan dua masalah ini lebih luas. Mencela Pemimpin

Mencela pemimpin merupakan ciri khas manhaj yang ditempuh oleh kaum khawarij. Awalnya hanya sekedar mengkritik dan membeberkan aib pemimpin di atas mimbar, seminar, koran dan majalah tetapi membengkak hingga tiada lain terminal akhirnya kecuali membrontak pemimpin. Jelas kiranya, metode ini menyelisihi petunjuk Nabi dalam mengingkari penguasa dan merupakan sumber segala fitnah/kerusakan sepanjang sejarah sebagaimana dikatakan imam Ibnu Qayyim dalam I’lam Muwaqqi’in (3/7).

Sebagai bukti bahwa metode seperti itu adalah metode yang diterapkan kaum khawarij adalah riwayat imam Tirmidzi dan selainnya dari Ziyad bin Kusaib Al-Adawi, katanya:

كُنْتُ مَعَ أَبِيْ بَكْرَةَ تَحْتَ مِنْبَرِ أَبِيْ عَامِرٍ وَهُوَ يَخْطُبُ وَعَلَيْهِ ثِيَابٌ رِقَاقٌ, فَقَالَ أَبُوْ بِلاَلٍ: انْظُرُوْا إِلَى أَمِيْرِنَا يَلْبَسُ لِبَاسَ الْفُسَّاقِ, فَقَالَ أَبُوْ بَكْرَةَ : اسْكُتْ! سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ يَقُوْلُ: مَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللهِ فِيْ الأَرْضِ أَهَانَهُ اللهُ

Saya pernah bersama Abu Bakrah di bawah mimbar Ibnu Amir yang sedang berkhutbah sambil mengenakan pakaian tipis. Abu Bilal berkata: Lihatlah pemimipin kita, dia mengenakan pakaian orang-orang fasiq. Abu Bakrah menegurnya seraya berkata: Diamlah, saya mendengar Rasulullah bersabda: Barangsiapa yang menghina pemimpin di muka bumi, niscaya Allah akan menghinakannya. (Lihat Shahih Sunan Tirmdzi: 1812 oleh Al-Albani).

Imam Dzahabi berkata: “Abu Bilal namanya adalah Mirdas bin Udiyyah, seorang khawarj tulen. Karena kejahilannya, maka dia menganggap pakaian tipis bagi kaum pria adalah pakaiannya orang fasiq”. (Siyar A’lam Nubala’ 14/508 oleh imam Dzahabi). Demikianlah khawarij sepanjang zaman, mereka salah kaprah dalam metode mengingkari dan jahil akan hal yang diingkari.

Satu hal lagi yang perlu sekali saya sampaikan di sini bahwa hanya sekedar menghujat pemimpin muslim -sekalipun fasiq- merupakan ciri khas manhaj khawarij, sebab manusia tidak akan memberontak pemimipin tanpa ada yang menyalakan api kebencian di hati mereka walau dengan dalih menegakkan pilar amar ma’ruf nahi mungkar. Oleh karenanya, para ulama menilai bahwa para penggerak pembrontakan, pengkritik dan pencela pemimpin adalah khawarij sekalipun sepanjang sejarah mereka tidak pernah membrontak. Dalam kitab sejarah dan firaq (kelompok dan golongan) mereka disebut Al-Qa’adiyyah.

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata mensifati sebagian jenis khawarij: “Dan kaum Al-Qa’adiyyah yaitu kelompok yang melicinkan pemberontakan terhadap pemerintah sekalipun tidak langsung membrontak”.

Bahkan, kadang-kadang orang yang mengompori untuk berontak lebih jelek daripada yang langsung memberontak sebagaimana diriwayatkan Abu Daud dalam Masail Ahmad hal. 271 dar Abdullah bin Muhammad berkata: “Khawarij jenis Al-Qa’adiyyah adalah sejelek-jeleknya kelompok khawarij!!!”.

Para ulama masa kini juga telah membendung dan memerangi pemikiran-pemikiran khawarij model Al-Qa’adiyyah ini. Syaikh Muhammad Nasiruddin Al-Albani berkata: “Kami menilai bahwa orang-orang yang memberontak atau yang mengajak berontak
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin juga berkata tatkala menjelaskan hadits di atas:

“Hadits ini merupakan dalil yang sangat mendasar bahwa berontak pada pemimpin bukan hanya dengan pedang semata tapi bisa juga dengan perkataan dan ucapan. Perhatikanlah, orang ini (Dzul Huwaishrah), dia tidak mengangkat pedang guna membunuh Nabi tapi dia hanya mengingkarinya (dengan terang-terangan). Apabila dijumpai dalam sebagian kitab ahli sunnah yang menyatakan bahwa berontak itu adalah dengan pedang, maka maksudnya adalah puncak pemberontakan”. (Lihat Fatawa Ulama Al-Akabir hal. 94-96 dan Madarik Nadhar hal. 272-275 oleh Syaikh Abdul Malik Ramadhani).

Mencela Ulama

Syaikhul Islam berkata tatkala menjelaskan ciri-ciri khawarij: “Biang kesesatan mereka adalah keyakinan mereka bahwa para ulama dan kaum muslimin keluar dari garis keadilan dan mereka semua dalam kesesatan. Inilah letak ketergelinciran kelompok-kelompok yang menyimpang dari sunnah dari kalangan Rafidhah dan sejenisnya”. (Majmu Fatawa 28/497).
Fenomena membuktikan bahwa khawarij gaya baru sekarang ini kerjanya adalah mencela para ulama senior dengan menjuluki mereka; ulama pemerintahan, tidak tahu waqi (realita umat), ulama terjepit tak sanggup terus terang dalam berfatwa, ulama haidh dan nifas, ulama yang loyal terhadap thaghut dan sederet julukan kotor lainnya, kemudian mereka bergegas menuju para pemuda yang ingusan dan bau kencur dengan modal semangat menggebu yang tak terkontrol sehingga mereka berani mengeluarkan fatwa tanpa ilmu, taqwa dan wara’ . Sungguh benar apa sabda Nabi:

إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُلْتَمَسَ الْعِلْمُ عِنْدَ الأَصَاغِر

Termasuk tanda tibanya hari kiamat adalah ilmu ditimba dari Al-Ashaghir
Bukti sejarah bahwa berpaling dari fatwa para ulama senior dalam rangka menghujat dan menggulingkan pemimpin merupakan ciri khas yang melekat pada diri khawarij semenjak dahulu adalah kisah yang diriwayatkan Ibnu Sa’ad dalam Ath-Thabaqat 7/163-164 dan Ad-Dulabi dalam Al-Kuna 2/121 dengan sanad yang shahih dari Sulaiman bin Ali Ar-Rabi’i, katanya:

Artikel Terkait  Kiai Daring, Wahabi Pening

“Tatkala terjadi fitnah Ibnu Asy’ats melawan Hajjaj bin Yusuf, maka beberapa rombongan pemuda seperti Uqbah bin Abdul Ghafir, Abul Jauza’ dan Abdullah bin Ghalib datang kepada imam Hasan Al-Bashri seraya berkata: Hai Abu Said, bagaimana pendapatmu kalau kita melawan thaghut yang mengalirkan darah, merampas harta, meninggalkan shalat dan …dan…(mereka menceritakan kejelekan-kejelekan Hajjaj).

Oleh karenanya, saya menyeru kepada sauadara-sauadaraku: Hormatilah para ulama dan jadikanlah mereka rujukan tatkala terjadi fitnah dan hormatilah pemimpn kalian, do’akan kebaikan untuk mereka, niscaya kalian akan menggapai kebahagiaan.

Semangat Tanpa Ilmu

عَنْ عَلِيٍّ سَمِعْتُ النَّبِيَّ يَقُوْلُ: يَأْتِيْ فِيْ آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ حُدَثَاءُ الأَسْنَانِ سُفَهَاءُ الأَحْلاَمِ يَقُوْلُوْنَ مِنْ خَيْرِ الْبَرِيَّةِ لاَ يُجَاوِزُ إِيْمَانُهُمْ حَنَاجِرَهُمْ فَأَيْنَمَا لَقِيْتُمُوْهُمْ فَاقْتُلُوْهُمْ فَإِنَّ قَتْلَهُمْ أَجْرٌ لِمَنْ قَتَلَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Dari Ali saya mendengar Nabi bersabda: “Akan muncul di akhir zaman suatu kaum yang berumur muda dan dangkal ilmu dengan berdalih pada Al-Qur’an. Mereka keluar dari Islam seperti keluarnya busur dari anak panah, iman mereka tak sampai ke tenggorokan mereka. Dimanapun kalian jumpai mereka, maka bunuhlah, karena membunuh mereka berpahala di hari kiamat”. (HR. Bukhari no. 5057 dan 6930).

Jadi, termasuk ciri khawarij bahwa mereka dari kalangan para pemuda yang terpancing oleh emosi membara dan digiring oleh orang-orang yang dangkal ilmunya menuju kancah takfir (mengkafirkan) kemudian tafjir (merusak) tanpa ilmu dan wara’ yang bisa mengerem sepak terjang mereka. Sejarah adalah bukti yang cukup kongkrit bahwa gerombolan khawarij adalah dimotori oleh gembong-gembong yang bodoh, sok pintar dan tak sadar bahwa dirinya itu bodoh. Lihatlah, seberapa ilmu orang-orang khawarij yang membrontak khalifah Ali bin Abu Thalib dan menjauh dari para sahabat Nabi sehingga benarlah apa yang diucapkan Ibnu Abbas tatkala mendatangi mereka: “Saya datang dari para sahabat Rasulullah dan tidak ada satupun seorang sahabat yang bersama kalian dan saya dari Rasulullah, kepada mereka Al-Qur’an diturunkan dan mereka lebih tahu tentang tafsir Al-Qur’an (daripada kalian)”. (Hasan. Dikeluarkan At-Thabrani 9/858, Al-Hakim 2/150 dan lain-lain).

Syaikh Dr. Shalih As-Sadlan menjelaskan sifat khawarij modern: “Ciri utama mereka adalah bodoh tentang syari’at dan hawa nafsu yang mengakar. Kita lihat mereka belajar dari sesama mereka, bukan menimba ilmu dari para ulama. Kerap kali perbuatan mereka didasari dengan kebodohan, bukan ilmu yang bersinar. Karenanya, mereka menganggap peristiwa-peristiwa mengerikan seperti ini (pengeboman -pent) sebagai bentuk jihad fi sabilillah dan yang terbunuh disebut syahid! Padahal masyarakat awam dan orang yang baru belajar saja dapat menilai bahwa aksi seperti itu tidak diterima oleh akal, apalagi menganggapnya sebagai jihad. Jadi taka ada kaitannya antara aksi-aksi seperti itu dengan jihad. Itu hanyalah aksi-aksi terorisme jahiliyyah yang menimbulkan melayangnya nyawa, harta dan kehormatan, dan aksi seperti itu akan menggiring manusia menuju pemberontakan pada pemerintah dan pelecehan terhadap para ulama. Para pengusung fikrah ini telah dibutakan oleh kejahilan dan hawa nafsu”. (Majalah Ad-Dakwah, Riyadh edisi 1899 Jumadil Ula/1424 H hal. 49-50).

Mereka mengambil satu dalil tetapi melalaikan seribu dalil, hatta dalil yang mereka sering dipergunakan dan dengungkan sendiri, mereka tak memahaminya secara benar tetapi mereka memahaminya dengan kedangkalan akal mereka. Inilah ciri khas khawarij sepanjang sejarah dan dimanapun berada. Alangkah bagusnya apa yang diceritakan imam Al-Khatib Al-Baghdadi dalam Tarikhnya (10/186) bahwasanya ada seorang anggota khawarij didatangkan ke hadapan khalifah Al-Makmun. Dia bertanya: Apa yang mendorongmu untuk menyelisihi kami? Lelaki itu menjawab: Sebuah ayat dalam Al-Qur’an. Al-Makmun balik bertanya: Ayat apakah itu? Jawabnya: Firman Allah:

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَآأَنزَلَ اللهُ فَأُوْلاَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (QS. Al-Maidah: 44).

Al-Makmun bertanya lagi: Apakah kamu yakin bahwa ayat itu benar-benar diturunkan? Jawabnya: Ya. Tanya Al-Makmun selanjutnya: Apa buktimu bahwa ayat itu diturunkan? Jawabnya: Kesepakatan umat. Al-Makmun kemudian berkata: Sebagaimana kamu telah ridha dengan kesepakatan mereka dalam tanzil (diturunkan), maka ridhalah kamu dengan kesepakatan mereka dalam ta’wil (tafsir ayat tersebut)!. Lelaki itu berkata: Engkau benar, kesejahteraan bagi anda wahai amirul mukminin”.

Disebabkan kedangkalan ilmu inilah, akhirnya seringkali mereka gegabah dalam mengingkari kemungkaran sehingga bukannya mendatangkan manfaat tapi malah menimbulkan kerusakan yang lebih besar. Semoga Allah merahmati imam Hasan Al-Bashri tatkala melihat seorang khawarij yang keluar untuk mengingkar kemungkaran, beliau berkata:

الْمِسْكِيْنُ رَأَى مُنْكَرًا فَأَنْكَرَهُ فَوَقَعَ فِيْمَا هُوَ أَنْكَرُ مِنْهُ

Si miskin itu melhat kemungkaran dan ingin mengingkarinya tapi malah jatuh pada kemungkaran yang lebih besar. (Lihat As-Syari’ah 1/145 oleh imam Al-Ajurri).

Jangan Tertipu

Dalam hadits Abu Said Al-Khudri tentang Dzul Huwaishirah yang memprotes Nabi, tatkala Umar bin Khattab meminta izin kepada beliau suapay memenggal lehernya, Nabi bersabda:

دَعْهُ فَإِنَّ لَهُ أَصْحَابًا يَحِقْرُ أَحَدُكُمْ صَلاَتَهُ مَعَ صَلاَتِهِمْ وَصِيَامَهُ مَعَ صِيَامِهِمْ وَيَقْرَأُوْنَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ

“Biarkanlah, sesungguhnya dia memiliki beberapa teman yang kalian merasa rendah shalat kalian dibanding shalat mereka, puasa kalian dibandingkan puasa mereka, dan mereka membaca Al-qur’an tetapi tidak sampai ke tenggorokan mereka”. (HR. Bukhari dan Muslim)
Masih segar dalam ingatan kita kisah Abdullah bin Mas’ud yang cukup populer dengan beberapa benih khawarij, di mana pada awalnya syi’ar mereka adalah dzikir berupa takbir, tahm id dan tahlil kemudian merembet menjadi memerangi khalifah Ali dan para sahabat pada perang Nahrawan!

Artikel Terkait  M. Tabrani: Warga Madura Penggagas Nama Bahasa Indonesia yang Nyaris Terlupakan

Imam Al-Ajurri berkata dalam As-Syari’ah (1/145): “Bagi orang yang melihat seorang khawarij yang memberontak pemimpin (yang baik maupun fasik), lalu mengumpulkan massa dan mengayunkan pedang serta menghalalkan darah kaum muslimin, janganlah tertipu oleh kesungguhan ibadah mereka berupa rajin membaca Al-Qur’an, shalat dan puasa dan pandai berbicara bila mereka berfaham khawarij”.

Khawarij Akan Selalu Muncul

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ يَقُوْلُ: يَنْشَأُ نَشْأٌ يَقْرَأُوْنَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ كُلَّمَا خَرَجَ فَرْقٌ قُطِعَ حَتَّى يَخْرُجَ فِيْ أَعْرَاضِهِمْ الدَّجَّالُ

Dari Ibnu Umar berkata: Saya mendengar Rasulullah bersabda: “Akan muncul suatu kelompok yang membaca Al-Qur’an tetapi tak sampai pada tenggorokan mereka. Setiap kali muncul, mereka dibasmi habis sehingga keluar pada pasukan mereka Dajjal”. (Hasan. Diriwayatkan Ibnu Majah no. 174 dan dihasankan Al-Albani dalam As-Shahihah no. 2455).

Hadits di atas sangat gamblang menjelaskan bahwa kelompok khawarij akan terus muncul pada setiap masa hingga akhir zaman. Suatu bukti kongkrit bagi kita bahwa sekalipun nama khawarij sudah terbang dari permukaan, tetapi mereka tetap tampil dengan nama dan topeng baru yang menipu. Ingat, perubahan nama tidaklah dapat merubah hakekat yang ada, syirik tetap disebut syirik walaupun namanya dirubah tri tauhid, khamr tetap saja khamr sekalipun diganti namanya dengan Wiski, Brendi atau Narkoba. Demikian pula khawarij tetap saja khawarij walau ganti penampilan dan baju baru seperti Islam Jama’ah, NII, Hizbullah, Jama’ah Muslimun, Ikhwanul Muslimun, Sururiyyah, Pembela Islam, Lasykar Jihad dan seabrek nama lainnya.

Saya harap anda jangan emosi terlebih dahulu, cermati hadits-hadits di atas dan bandingkanlah dengan fikrah dan kerjaan harian kelompok-kelompok sempalan di atas dengan kepala dingin dan lapang dada, niscaya anda akan mengetahui kejujuran ucapan saya. Memang, saya peribadi sangat menyadari bahwa daftar di atas akan membuat mata terbelalak, tetapi sadarlah bahwa setiap obat dan jamu itu pahit rasanya!!!.
(alu-hamdan.blogspot.com)
Solusi

Setiap penyakit pasti ada obatnya, setiap problem pasti ada solusinya, setiap fitnah pasti ada jalan keluarnya. Demikian pula fitnah khawarij dapat kita basmi dan berantas apabila kita semua bahu-membahu dan saling membantu untuk membuntu setiap lubangnya. Hal itu dapat dtempuh dengan dua cara:

Hal ini dapat dilakukan dengan penyebaran buku-buku, majalah-majalah dan kaset-kaset Islami, khususnya yang berkaitan tentang manhaj, dakwah, jihad, politik dan pemerintahan. Cara lainnya lagi dengan mengadakan seminar-seminar dan dialog ilmiyyah yang dipandu oleh para ustadz yang mapan ilmunya guna menangkis beberapa syubhat yang melekat di fikiran anggota khawarij. Dengan demikian, otomatis harus ada hubungan harmonis antara para ustadz/dai/alim dengan para pemuda/ pelajar.

Orang yang berilmu hendaknya menyayangi para pemuda dan selalu siap melayani keluhan mereka. Demikian pula sebaliknya, para pelajar/pemuda hendaknya menghormati kedudukan orang berilmu. Cara inilah yang diterapkan oleh para sahabat seperti Abdullah bin Mas’ud dan Abdullah bin Abbas serta para ulama yang mengikuti jejak mereka menghadapi fitanah khawarij.

Kekuatan

Cara ini khusus bagi para pemerintah yang memiliki kekuatan dan kemampuan. Sebagai pemerintah yang mendambakan kesejahteraan rakyatnya, dia harus berupaya membersihkan segala noda-noda hitam khawarij dan memberantas habis kekuatan mereka hingga ke akar-akarnya, bukan hanya dipenjerakan sementara saja. Cara inilah yang ditempuh oleh khalifah Ali bin Abi Thalib.

Demikianlah sekelumit pembahasan tentang manhaj khawarij yang sangat berbahaya bagi umat. Akhirul Kalam, semoga Allah memberikan keteguhan kepada penulis untuk membela agama Allah dari hujatan para musuhnya dan memberi hidayah kepada sauadara-sauadara kita d manapun berada. Wallu A’lam.

وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَوْ قَتَلْتُمُوْهُ لَكَانَ أَوَّلَ فِتْنَةٍ وَآخِرَهَا
إِنَّ هَذَا أَوَّلُ قَرْنٍ خَرَجَ مِنْ أُمَّتِيْ لَوْ قَتَلْتَهُ مَااخْتَلَفَ مِنْ أُمَّتِيْ اثْنَانِ
عَنْ أَبِيْ سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ: بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ وَهُوَ يَقْسِمُ قَسْمًا أَتَاهُ ذُوْ الْحُوَيْصِرَةِ وَهُوَ رَجُلٌ مِنْ بَنِيْ تَمِيْمٍ فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ اعْدِلْ! قَالَ رَسُوْلُ اللهِ: وَيْلَكَ وَمَنْ يَعْدِلْ إِنْ لَمْ أَعْدِلْ؟ قَدْ خِبْتُ وَخَسِرْتُ إِنْ لَمْ أَعْدِلْ …فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ: إِنَّ مِنْ ضِئْضِئِ هَذَا قَوْمَا يَقْرَأُوْنَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ, يَقْتُلُوْنَ أَهْلَ الإِسْلاَمِ وَيَدَعُوْنَ أَهْلَ الأَوْثَانِ, يَمْرُقُوْنَ مِنَ الإِسْلاَمِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ. لَئِنْ أَدْرَكْتُهُمْ لأَقْتُلَنَّهُمْ قَتْلَ عَادٍ
كُنْتُ مَعَ أَبِيْ بَكْرَةَ تَحْتَ مِنْبَرِ أَبِيْ عَامِرٍ وَهُوَ يَخْطُبُ وَعَلَيْهِ ثِيَابٌ رِقَاقٌ, فَقَالَ أَبُوْ بِلاَلٍ: انْظُرُوْا إِلَى أَمِيْرِنَا يَلْبَسُ لِبَاسَ الْفُسَّاقِ, فَقَالَ أَبُوْ بَكْرَةَ : اسْكُتْ! سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ يَقُوْلُ: مَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللهِ فِيْ الأَرْضِ أَهَانَهُ اللهُ
إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُلْتَمَسَ الْعِلْمُ عِنْدَ الأَصَاغِرِ
عَنْ عَلِيٍّ سَمِعْتُ النَّبِيَّ يَقُوْلُ: يَأْتِيْ فِيْ آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ حُدَثَاءُ الأَسْنَانِ سُفَهَاءُ الأَحْلاَمِ يَقُوْلُوْنَ مِنْ خَيْرِ الْبَرِيَّةِ لاَ يُجَاوِزُ إِيْمَانُهُمْ حَنَاجِرَهُمْ فَأَيْنَمَا لَقِيْتُمُوْهُمْ فَاقْتُلُوْهُمْ فَإِنَّ قَتْلَهُمْ أَجْرٌ لِمَنْ قَتَلَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَآأَنزَلَ اللهُ فَأُوْلاَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
الْمِسْكِيْنُ رَأَى مُنْكَرًا فَأَنْكَرَهُ فَوَقَعَ فِيْمَا هُوَ أَنْكَرُ مِنْهُ
دَعْهُ فَإِنَّ لَهُ أَصْحَابًا يَحِقْرُ أَحَدُكُمْ صَلاَتَهُ مَعَ صَلاَتِهِمْ وَصِيَامَهُ مَعَ صِيَامِهِمْ وَيَقْرَأُوْنَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ
عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ يَقُوْلُ: يَنْشَأُ نَشْأٌ يَقْرَأُوْنَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ كُلَّمَا خَرَجَ فَرْقٌ قُطِعَ حَتَّى يَخْرُجَ فِيْ أَعْرَاضِهِمْ الدَّجَّالُ

ARTIKEL LAIN