EDUKASI
KH. Maimoen Zubair
TOKOH

KH. Maimoen Zubair Tauladan Para Kiai dan Santri, Jujukan Politikus Indonesia

KH. Maimun Zubair, sosok kiai karismatik yang patut dijadikan panutan para kiai dan santri-santri millenial. Ia tanggap dengan perubahan zaman dan tak beku dalam berfikir, serta produktif dalam berkarya. Meskipun kealimannya diakuhi, Mbah Moen, sapaan akrabnya, dua kali menolak untuk diberikan gelar Doktor Honoris Causa (DR). Tak hanya dalam peradaban pendidikan pesantren, Mbah Moen juga menjadi jujukan dalam perpolitikan Indonesia.

Kabar duka baru saja menyelimuti warga Indonesia atas wafatnya KH. Maimun Zubair atau biasa ditulis dengan ejaan lama KH. Maimoen Zoebair, Selasa 6 Agustus 2019 Masehi atau 5 Dzulhijjah 1440 Hijriyah di Mekkah. Kabar duka tersebut tersebar lewat media sosial dari grup ke grup juga berita-berita hardnews dari media online. Kaget bercampur tak percaya mendengar kabar sosok ulama karismatik dari Nahdlatul Ulama (NU) itu tutup usia, sebab akhir-akhir ini di tengah panasnya kontestasi politik, nasehat beliau amat meneduhkan.

Mbah Moen, begitu sapaan akrabnya, memang sudah sepuh. Putra pertama dari lima bersaudara pasangan Kiai Zubair Dahlan dan Ibu Nyai Mahmudah tersebut dilahirkan di Sarang 23 Oktober 1928 M/10 Muharam 1347 H silam. Secara hitungan kalender masehi, beliau wafat pada usia 90 tahun 11 bulan. Namun menurut kalender hijriyah, beliau wafat pada usia kira-kira 93 tahun lebih 11 bulan. Lebih 30 tahun dari usia wafatnya Rasulullah SAW.

Suami dari Nyai Heni Maryam itu merupakan generasi dari pasangan Kiai Zubair dan Nyai Mahmudah yang mendapatkan amanah lebih. Saudara-saudara beliau, Makmur, Mardiyah, Hasyim, dan Zahrotelag meninggal dunia lebih awal.

Aktifitas mengaji bagi Mbah Moen sudah menjadi keseharian. Sejak kecil ia hidup di lingkungan pesantren tempat ayahnya mengajar, Pesantren Ma’had al- Ilmy Asy-Syar’iyyah (MUS) milik mertuanya, Kiai Ahmad ibn Syuaib. Mbah Moen mengaji ilmu bahasa arab, fiqih, dan tauhid langsung dari ayahnya, mulai dari Jurůmiyah, Imrîthi, alfiyah, Fathal Qarîb, Fathal Wahhab, Fathal Mu’in, Jauharatu al-Tauhid, Rahabiyah, dan Sullam al-Munawrâq. Untuk ilmu Alquran-nya, Mbah Moen belajar kepada ibunya, Nyai Mahmudah. Selain kepada kedua orang tuanya, Mbah Moen juga belajar kepada ulama-ulama Sarang seperti Kiai Syuaib ibn Abdurrozak, Kiai Ahmad ibn Syuaib, dan Kiai Imam Khalil.

Mbah Moen juga dibekali ayahnya dengan ilmu umum. Khususnya ilmu yang ada kaitannya dengan nasionalisme dan patriotisme, dikarenakan Indonesia memang tengah dalam kondisi dijajah Belanda, Jepang kala itu. Saat usianya 15 tahun, Kiai Zubair mengarahkan Mbah Moen mempelajari koran, majalah, buku-buku penyemangat, seperti majalah “Penyebar Semangat”, buku Imam Supriadi, dan buku-buku terbitan Budi Pustaka Jakarta.

Pada usia 17, tepatnya tahun 1945, Mbah Moen mulai menuntut ilmu di Pesantren Lirboyo asuhan Kiai Abdul Karim atau yang dikenal dengan Mbah Manab Lirboyo, sosok terkenal kepakarannya dalam masalah gramatika Arab. Dari Mbah Manab, Mbah Moen mematangkan kajian nahwu sharafnya seperti Jurúmiyah, Imrithi, dan Alfiyah.

Tanda-tanda kealiman Mbah Moen mulai tampak saat di Lirboyo. Ia mampu menyerap semua ilmu yang ditransfer Mbah Manab dengan cepat. Anugrah kecerdasannya tersebut, mengantarkan Mbah Moen menjadi salah satu santri andalan Mbah Manab.ADVERTISEMENT

Artikel Terkait  Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

Di Pesantren Lirboyo, Mbah Moen juga ikut berperang memperjuangkan keutuhan NKRI yang sudah berdaulat semenjak 17 Agustus 1945. Ia berjuang bersama Kiai Mahrus Ali dan kiai lainnya di bawah komando Resolusi Jihad 22 Oktober 1945. Mbah Moen juga turut serta berjuang melawan penjajah yang ingin merebut kemerdekaan Indonesia dengan misi Agreesi Militer Belanda I (21 Juli – 5 Agustus 1947) dan Agreesi Militer Belanda II (19-20 Desember 1948).

Tahun 1949, saat kondisi Indonesia mulai aman, Mbah Moen meminta izin Mbah Manab untuk meneruskan belajarnya ke Haramain dengan restu dari Mbah Manab. Di Haramain, Mbah Moen belajar di Masjidil Haram dan Madrasah Dar al-Ulum, madarasah rintisan Ulama Jawiyyin (ulama Nusantara di Haramain). Adapun gurunya selama belajar di Haramain yaitu, Sayid Alawi bin Abbas al-Maliki, Syaikh Muhammad Amin al-Kutbi, Syaikh Abdul Qodir ibn Abdul Muthalib al-Mindili, Syaikh Abdullah bin Nuh al-Malaysiai, Syaikh Hasan Al-Masyath, Syaikh Yasin al-Fadani, dan Syaikh Zakaria Bela. Dari ulama-ulama Haramain tersebut, Mbah Moen mempelajari berbagai disiplin ilmu agama dengan ketekunan sehingga menjadi ta’ammuq (mendalam).

Perjalanan menuntut ilmu di Haramain Mbah Moen terbilang cukup singkat, kurang lebih satu tahun. Tahun 1950, Mbah Moen kembali ke tanah airnya. Kembalinya ke Indonesia ini tidak menjadikan Mbah Moen sombong, justru ia semakin tawadhu’ dan meneruskan mengajinya bersama jajaran ulama nusantara, seperti Kiai Baidlowi bin Abdul Aziz (Lasem, Rembang), Kiai Bisri Mustofa (Leteh, Rembang), Kiai Abdul Wahab bin Hasbullah (Tambak Beras, Jombang), Kiai Abdul Wahib bin K Abdul Wahab (mantan Menteri Agama), Kiai Ma’sum Ahmad (Lasem, Rembang), Kiai Bisri Syansuri (Denanyar, Jombang), Habib Abdullah bin Abdul Qodir (Malang), Habib Ali bin Ahmad Al-Athas, Kiai Thohir (pengasuh yayasan At-Thohiriyyah Jakarta), Kiai Ali bin Ma’sum (Jogjakarta), Kiai Abdul Hamid (Pasuruan), Kiai Muslih bin Abdur Rahman (Mranggen, Demak), Kiai Abbas (Buntet), Kiai Khudori (Tegalrejo), Kiai Asnawi (Kudus), Ihsan Jampes (Kediri), Kiai Abu Fadhol (Senori. Tuban), dan Kiai Abu Khoir (Jatirogo, Tuban).

Prinsip Mbah Moen dalam Membangun Pesantren

Sepulang dari perjalanan panjang untuk studi di berbagai pesantren dan Haramain, Mbah Moen mengabdikan dirinya untuk mengajar di pesantren milik kakeknya. Ia juga berkiprah besar dalam menghidupkan Madrasah Nahdlatul Wathan yang dahulunya kurang tertata baik. Ia merombaknya dengan nama baru Madrasah Ghozaliyah Syafi’iyyah (MGS). Dalam membangun madarasah ini, Mbah Moen dibantu Kiai Ali Masyfu’, Kiai Zubair Dahlan, Kiai Abdullah Abdurrahman, Kiai Musa ibn Nur Hadi, Kiai Abdul Wahhab ibn Husein, Kiai Haramain Ma’shum. Semenjak dideklarasikannya Madrasah Ghozaliyah Syafi’iyyah, Mbah Moen diangkat menjadi Mudir ‘Am hingga tutup usia.

Sukses membangun pendidikan di MGS, Kakeknya semakin yakin melihat kealiman Mbah Moen. Beliau meminta Mbah Moen untuk mendirikan musala di depan rumahnya sebagai media dakwah untuk menyebarkan ilmunya kepada masyarakat. Musala itulah yang menjadi bibit lahirnya Pondok Pesantren Al-Anwar (PP. Al-Anwar). Nama Al-Anwar diambil dari nama ayahnya sebelum berangkat haji yang diubah menjadi Zubair.

Artikel Terkait  Kisah Perjuangan Ki Hajar Dewantara

Tidak terbesit sedikitpun dalam diri Mbah Moen untuk mendirikan pesantren. Masyarakat sendiri yang berkeinginan memondokan anaknya kepada Mbah Moen. Bagi dirinya, yang terpenting adalah menolong agama Allah dengan cara mengaji, mengajar para santri dengan materi kitab-kitab turast peninggalan ulama.

Awalnya, santri Mbah Moen hanya empat orang, yaitu Kiai Hamid Baidlowi (Lasem, Rembang), Kiai Ashari (Yek Pongge), Kiai Hasib, dan Kiai Imam Yahya Mahrus Aly (Pengasuh Pesantren Lirboyo). Karena keistiqamahan Mbah Moen, jumlah santri Al-Anwar meningkat pesat hingga ribuan. Bangunan yang asalnya berupa musala, kini menjadi gedung yang megah. Al-Anwar yang asalnya cuma satu, kini bertambah menjadi Al-Anwar 2 dan Al-Anwar 3.

Meskipun PP. Al-Anwar dibangun di atas tradisi pesantren salaf, pesantren tersebut tidak kaku menghadapi perkembangan zaman. Misalnya, Pesantren Al-Anwar I hanya mengajarkan kitab-kitab turast, sedangkan Al-Anwar 2 dan 3, selain mengajarkan kitab turast, diajarkan pula ilmu umum dan modern. Selain itu dibangunlah Madrasah Ibtidaiyyah, Stanawiyah, Aliyah, hingga Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Anwar (STAIA). Mbah Moen juga menerapkan sistem bilingual di pesantrennya. Harapannya kelak para santri dapat menguasi ilmu agama dan umum secara seimbang dan selaras.

Tauladan Mbah Moen untuk Para Santrinya

Mbah Moen pernah dawuh, “Alal âqili ayyakûna ‘ârifan bizamânihî (bagi orang yang dianugerahi akal sehat, hendaknya bijak dalam menyikapi zamannya).” Mbah Moen selalu mengajak santrinya agar tanggap dengan perubahan zaman dan tidak beku dalam berfikir.

Untuk membangkit semangat santri-santrinya dalam menyikapi zaman, Mbah Moen mengarang kitab yang berjudul, al-Ulama al-Mujaddidûn (Ulama Modernis). Pembaharuan yang diharapkan Mbah Moen dalam kitab tersebut tidak seperti tajdid dari kelompok yang baru memahami segelintir ilmu Islam sudah mengaku mujtahid dan mereka mengesampinkan madzhab empat. Akan tetapi, Mbah Moen mengajak untuk menggunakan kaidah-kaidah yang dirumuskan oleh madzhab empat yang kemudian disesuaikan dengan perkembangan zamannya.

Misalnya lagi, Mbah Moen sering bertafakkur terhadap ayat-ayat suci al-Qur’an yang kemudian dicocokkan dengan kejadian alam yang dihadapinya. Seperti halnya, ketika terjadi tsunami di Aceh, selang beberapa hari, Mbah Moen mengunjungi tempat kejadian perkara. Tidak lama kemudian, ia mengarang kitab yang berjudul attsunami fi Biladina Indonesia Ahuwa ‘Adzabun am Mushibatun.

Adapun karya-karya Mbah Moen lainnya yaitu, Risalah Mauqûfina haula al-Shaumi wal IfthârMaslakut al-Tanassuk al-Makki fi al-ittishalati bi al-Sayid Muhammad bin AlawiTakmilatu al- Maslaku al-Tanassuk al-MakkiTarâjim Masyayikhi al-Ma’âhid al-Diniyyah bi Sarang al-Qudama’Taqriraratu al-Jauharu al-Tauhid, Taqriraratu al-Bad’u al-Amáli, al-Fuyûdu al-Rabbaniyyah, Sirah Hamzah Syatha (sejarah cucu Syaikh Abu Bakar Syatha, pengarang kitab l’ânatu al-Thâlibin), dan lain-lain.

Dengan karya yang begitu banyak, Mbah Moen selalu menolak dengan santun ketika hendak ditawari gelar Doktor Honoris Causa (DR), “Biarlah ada Kiai yang seperti saya, yang pekerjaannya hanya mengaji.” Tawaran tidak hanya sekali, akan tetapi dua kali. Bagi Mbah Moen, gelar tidaklah begitu penting. Yang penting adalah menolong agama Allah. Barang siapa yang menolong agama Allah, maka Allah akan menolongnya.

Artikel Terkait  Martin Van Bruinessen: Pengamat NU Yang Akhirnya Memeluk Islam

Mbah Moen juga selalu berpesan kepada santrinya untuk nguri-nguri budaya pesantren salaf kuno. Mbah Moen selalu menekankan kepada santri-santri nya agar selalu mengaji, dan
mengedapankan kitab-kitab turast. la sering berpesan, “Yang penting mengaji, jangan berfikir jadi apa. InsyaAllah Allah akan menempatkan kalian dengan sebaik-baiknya tempat.”

Kiprah Politik Mbah Moen

Mbah Moen tidak hanya dikenal sebagai kiai karismatik, ia juga berkiprah di kancah politik. Tidak heran jika Mbah Moen sangat dihormati oleh tokoh-tokoh nasional negeri ini. Bahkan, ia selalu dimintai doa restu setiap menjelang perhelatan politik.

Misalnya di Pilgub Jawa Tengah 2018 lalu, dua kandidat gubernur yakni Ganjar Pranowo dan Sudirman Said sama-sama sowan ke Mbah Moen Rembang untuk meminta restu. Dalam perhelatan Pilpres terakhir ini pula, dua kandidat yang sama yakni Joko Widodo (Jokowi) melawan Prabowo Subianto beberapa kali berkunjung ke kediaman Mbah Moen untuk mendapatkan restunya.

Dalam dunia politik, Mbah Moen sendiri konsisten bersama Partai Persatuan Pembangunan (PPP) hingga tutup usianya dengan jabatan terakhir Ketua Majelis Syariah PPP. Dengan PPP pula Mbah Moen duduk sebagai wakil rakyat di DPRD Rembang selama 7 tahun (1971-1978). Selain itu, Mbah Moen juga pernah melenggang ke Jakarta sebagai anggota MPR-RI sejak (1987-1998) dari Fraksi Utusan Daerah.

Mbah Moen juga salah satu penggerak NU di Jawa Tengah. Di kepengurusan NU Pada 1985-1990, ia menjabat sebagai Ketua Syuriah NU Provinsi Jawa Tengah. Kiprahnya di NU berlangsung hingga tutup usia dengan amanah sebagai Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Referensi

Ahmad Ja’farul Musadad dkk., 2019, Ensiklopedia Ulama Nusantara, Jilid 7. Yogyakarta: Qalam Nusantara.

M. Murtadlo, 2012, “Pesantren Salaf dan Perubahan Sosial (Studi Kasus Pesantren Salaf Al-anwar Sarang Rembang),” Jurnal Penelitian Pendidikan Agama dan Kagamaan Vol 10, No 1 (1-13).

Siti Muazaroh, 2016, Cultural Capital dan Kharisma Kiai dalam Dinamika Politik (studi Ketokohan KH. Maimun Zubair). Skripsi, Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Abdul Aziz Thaba, 1996, Islam dan Negara: Dalam Politik Orde Baru, Jakarta: Gema Insani Press

Iswara N Raditya, 2019, Wisnu Amri Hidayat, Sejarah Hidup KH Maimun Zubair: Wafatnya Mbah Moen Ulama Panutan, https://tirto.id/sejarah-hidup-kh-maimun-zubair-wafatnya-mbah-moen-ulama-panutan-efLu diakses pada 12 Agustus.

Penulis

Kisno Umbar, aktivis Lembaga Publica Institute Jakarta, Penerima Beasiswa BPI LPDP, mahasiswa Magister UIN Syarif Hidayatullah Jakarta,

ARTIKEL LAIN