EDUKASI
Kaum Sarungan dan Masyarakat Madura
Khazanah

Kaum Sarungan dan Masyarakat Madura

Oleh: Thayyibi Sapora*

Sarung (sarong) merupakan sepotong kain lebar yang pemakaiannya dibebatkan pada pinggang untuk menutup bagian pinggang ke bawah. Sarung menjadi ciri khas masyarakat muslim di Indonesia. Walaupun sesungguhnya pemakain sarung tidak memicu pada identitas agama tertentu. Karena sarung juga digunakan oleh berbagai kalangan di berbagai suku di Indonesia.

Menurut sejarah, sarung berasal dari Yaman. Di negara itu sarung biasa disebut futah. Masyarakat Arab mengenalnya dengan nama izaar, wazaar atau ma’awis. Masyarakat di negara Oman menyebut sarung dengan nama wizaar.

Di Indonesia, sarung menjadi salah satu pakaian kehormatan dan menunjukkan nilai kesopanan yang tinggi. Tidak heran jika sebagian masyarakat Indonesia sering mengenakan sarung untuk sholat di masjid.

Sarung adalah pakaian yang sangat berharga, hal ini menjadi salah satu bentuk tatakrama (beretika) dan ciri khas juga. Tidak hanya laki-laki yang sering mengenakannya, tapi kaum perempuan pun banyak yang mengenakan. Mungkin kalian hendak mencoba memakainya juga, boleh-boleh saja.

Artikel Terkait  Nalar Politik NU: Pesantren dan Kultur Politik Bangsa

Di Madura, dalam kehidupan sehari-hari, masyarakatnya lebih sering mengenakan sarung. Pakaian ini tidak hanya dipakai saat beribadah. Ketika bersilaturrahim ke rumah kerabat atau teman, belanja ke pasar, bermain sepak bola, menghadiri acara anak di sekolahan, bahkan di acara pernikahan pun sangat lumrah sarungan, dan bisa disebut dengan “kaum sarungan”.

Namanya juga kebiasaan, tidak mudah diterima kecuali orang madura itu sendiri. Sama seperti kebiasaan masyarakat madura yang mungkin bagi kita terasa janggal, namun normal dan umum bagi masyarakat Madura. Setiap daerah memiliki adat atau kebiasaan yang berbeda dan harus dihargai setinggi-tingginya, tidak boleh ada pihak lain yang mengucilkan atau mencelanya.Baca Juga  Memahami Sebab Kemerosotan Ummat

Artikel Terkait  Jaringan Intelektual Ulama Nusantara-Timur Tengah Abad XVII dan XVIII

Budaya sarungan harus dipertahankan khususnya di Madura, umumnya di Indonesi. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Prof. KH. Said Aqil Siroj dalam pidatonya berpesan kepada para santri atau kaum bersarung untuk mengembangkan tradisi kreatif, inovatif, dan berfikir kritis. “Saya berpesan, santri perlu terus mengembangkan tradisi kreatif, inovatif, dan berpikir kritis,” ujar Kiai Said dalam acara yang dihadiri para tokoh dan ulama tersebut.(Sumber Republika.co.id).

Pesan tersirat di dalamnya adalah teruntuk kaum sarungan agar tetap eksis dan mempertahankan adat yang ada disertai dengan kreativitas tanpa henti berpandang lurus seperti lurusnya sarung sutera, guna untuk mempererat silaturrahmi antar sesama dan berdiri dijalan yang benar. Pakaian boleh beda, namun hati kita harus sama satu tujuan yaitu mencapai ridha Allah. Wallahu a’lam bissawab.

Artikel Terkait  Etika Dakwah

Tulisan ini diamnil dari baladena.id

Pegiat Isu Sosial-Masyarakat Made In Madura Asli.

ARTIKEL LAIN