EDUKASI
Ki Ageng Selo: Karomah Leluhur Raja Jawa
Khazanah TOKOH

Karomah Ki Ageng Selo: Leluhur Raja Jawa yang Tangkas Menangkap Petir

Oleh Mahmud Nurhadi

Ki Ageng Abdurrahman Selo—atau lebih dikenal dengan nama Ki
Ageng Selo—hidup sezaman dengan  para Walisongo.
Beliau dipercaya masyarakat sebagai cikal bakal garis keturunan raja-raja di
tanah Jawa, seperti raja-raja Mataram, Surakarta, dan Yogyakarta. Ini karena Ki
Ageng Selo—menurut cerita dalam Babad Tanah Jawa—adalah keturunan langsung dari
Majapahit

Semasa hidupnya, beliau dikenal memiliki kemampuan menabuh
alat musik ganjur yang bisa menarik penduduk—dan disaat momen itulah Ki Ageng
Selo melakukan dakwah Islamnya. Selain itu, Ki Ageng Selo juga mendirikan
madrasah untuk mendidik masyarakat agar paham dan taat terhadap ajaran Islam.
Muridnya datang dari berbagai daerah dan macam-macam kalangan. Salah satunya Mas
Karebet—yang kelak menjadi Raja Pajang, Sultan Hadiwijaya.

Ki Ageng Selo diakui juga sebagai salah satu auliya’ yang
memiliki banyak karomah. Di antaranya yang melegenda terjadi ketika Raja Demak,
Sultan Trenggono masih hidup.

Pada suatu ketika, Ki Ageng Selo pergi ke sawah. Hari itu
langit diliputi awan yang sangat gelap. Tidak lama kemudian, hujan lebat pun
turun. Petir menyambar dengan ganasnya. Akan tetapi, Ki Ageng Selo tetap saja
mencangkul tanpa mempedulikannya.

Artikel Terkait  Pengaruh Sufisme di Indonesia

Tapi, sejurus kemudian datanglah petir yang langsung
menyambar tubuh Ki Ageng Selo. Namun, bukan fenomena manusia panggang yang
terjadi, melainkan fenomena manusia penangkap petir. Ki Ageng benar-benar
menangkap petir itu—yang ternyata setelah tertangkap berubah wujud sebagai
seorang pria tua.

Dengan cepat Ki Ageng Selo mengikat kakek-kakek tersebut ke
sebuah pohon dan melanjutkan mencangkul sawah. Setelah dirasa cukup, beliau
membawa kakek petir itu ke hadapan Sultan Trenggono.

Oleh sultan Trenggono, kakek petir itu dimasukkan ke dalam
jeruji besi yang kuat dan ditaruh di tengah-tengah alun-alun. Banyak orang yang
berdatangan untuk sekadar melihat wujud dari manusia petir ini. Di antara
mereka, terdapat seorang nenek yang membawa sebuah kendi.

Atas izin sultan, air itu diberikan kepada kakek petir. Setelah
itu, terdengarlah gemuruh yang memekakkan telinga. Bersamaan dengan itu,
lenyaplah sang kakek diikuti dengan hancurnya jeruji besi yang mengurungnya.

Artikel Terkait  Gerakan Pemuda Hindia Belanda: Budi Utomo, SI dan IP

Semua orang yang menyaksikan hal itu pun terkejut.

“Bagaimana bisa, makhluk yang bahkan bisa menghancurkan
jeruji besi semudah itu ditangkap begitu saja oleh Ki Ageng Selo?” pikirnya.
Dan kisah karomah ini pun masih dipercaya sampai sekarang.

Riwayat Ki Ageng Selo juga menyebut kalau beliau mempunyai
putra bernama Ki Ageng Enis, yang selanjutnya mempunyai putra bernama Ki Ageng
Pamanahan. Cucu Ki Ageng Selo ini menikah dengan putri sulung Kiai Ageng
Wanasaba, dan dianugerahi putera bernama Mas Ngabehi Loring Pasar atau Sultan
Sutawijaya, pendiri kerajaan Mataram.

Sebelumnya, Ki Ageng Enis juga sempat berguru pada Sunan
Kalijaga—satu angkatan dengan muridnya yang termasyhur yakni Jaka Tingkir. Ki
Ageng Enis lalu diminta bertempat tinggal di Dusun Lawiyan guna mengajarkan
agama Islam. Maka dari itu, putra terakhir Ki Ageng Selo ini akhirnya lebih
dikenal sebagai Ki Ageng Lawiyan.

Itulah salah satu cerita yang membuktikan betapa
berpengaruhnya keturunan Ki Ageng Selo dalam persebaran Islam di Pulau Jawa.
Garis keturunan Ki Ageng Selo diakui sebagai cikal bakal yang menurunkan raja
atau pimpinan.

Artikel Terkait  Ibn Battuta & Rihla: Panduan My Trip My Adventure dari Dunia Islam

Bukan hanya raja di Kesultanan Demak, Pajang, Mataram,
Yogyakarta, atau Surakarta, namun konon katanya, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur
juga jadi salah seorang keturunan Ki Ageng Selo. Banyaknya keturunan Ki Ageng
Selo yang menjadi orang besar, membuktikan bahwa tirakat yang beliau lakukan
demi anak dan cucunya menjelma berkah bagi semesta alam.

Wallahu a’lam bishowab..

Tulsian ini direpos dari DNK.ID

ARTIKEL LAIN