EDUKASI
Jarang Ngaji Diri, Kaum Radikal Jadi Sok Suci

Jarang Ngaji Diri, Kaum Radikal Jadi Sok Suci

Oleh Ayik Heriansyah*

Radikal yang dimaksud di sini adalah dalam konteks sosial dan politik bukan teologis dan filosofis. Sebab radikalisme yang mendorong aksi terorisme tidak memiliki basis teologis dan filosofis yang memadai pada semua agama.

Kaum radikal berpendapat, realitas sosial dan politik sekarang, “salah”, karena itu harus “dibenarkan” secara mendasar dan menyeluruh dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Motivasi mereka mau mengubah realitas sosial politik sekarang menjadi suatu realitas yang ideal diambil dari ajaran agama yang mereka terima.

Kaum radikal menyimpan konsepsi dan persepsi diri yang ditanamkan saat proses indoktrinasi yang mereka terima dalam per-halaqah-an. Tersimpan di alam bawah sadar. Lalu doktrin-doktrin itu menjelma menjadi dogma yang terpancar dalam jiwa, mendarah daging dan mengeluarkan aura khas radikal yang termanifestasi waktu mengeluarkan berpikiran, ketika bicara dan dari sorot mata.

Konsepsi dan persepsi diri mereka sendiri yang paling mendasar adalah, tidak ada kebenaran dan keselamatan di luar kelompok mereka. Semua anggota kelompok pasti benar dan selamat dunia dan akhirat. Tanpa melihat amal orang per orang, pokoknya langsung masuk surga tanpa hisab.

Doktrin dan perkataan tokoh-tokoh mereka menjadi pemahaman (mafahim) dan standar (maqayis) yang digunakan untuk menilai orang dan kelompok lain. Terlepas benar atau salah doktrin dan perkataan tokoh-tokoh radikal, pendapat orang dan kelompok lain, pasti salah, yang kesalahannya tidak perlu didiskusikan lagi. Titik.

Artikel Terkait  Fikih Sosial; Dari Teosentris Hingga Sosio-antropologis

Untuk mengokohkan konsepsi dan persepsi diri mereka, kaum radikal banyak membahas orang dan kelompok lain serta pemerintah dengan perspektif mereka. Semakin banyak kesalahan orang dan kelompok lain serta pemerintah yang mereke temukan, semakin yakin akan kebenaran dan kesalamatan kelompok mereka.

  • oleh admin
    Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang juga merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqafah Jakarta, Prof. Dr. K.H. Said Aqil Siroj, mengungkapkan rahasia dan keutamaan yang terkandung dalam Surah Al […]
  • oleh admin
    K.H. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur terpilih menjadi Presiden setelah melalui pilpres yang dramatis di Sidang Umum MPR 1999. Ada cerita menarik sebelum Gus Dur menjadi RI 1. Kejadian ini dikisahkan oleh (alm) […]
  • oleh admin
    Belakangan, ada beberapa orang yang dianggap ulama diperkarakan secara hukum. Sebelum masuk ke perkara hukum, biasanya berita-berita tentang ulama tersebut viral di media sosial. Tentu tidak mudah menjadi viral. Kemungkinan pertama orang […]
  • oleh Redaksi Penasantri
    Aria Wiraraja atau Banyak Wide adalah nama seorang tokoh pemimpin pada abad ke-13 M di Jawa dan Madura. Dalam sejarah, ia dikenal sebagai pengatur siasat kejatuhan Kerajaan Singhasari, kematian Kertanagara, […]
  • oleh admin
    Oleh : Muhammad Ghufron* Pesantren sebagai institusi ilmu keagamaan tertua di Nusantara, sedari awal berdirinya membawa misi mencetak insan-insan yang berpengetahuan luas dengan berlandaskan akidah Ahlusunah wal Jama’ah. Salah satu […]

Kaum radikal banyak ngaji diri orang lain dan pemerintah dengan ilmu-ilmu syariat. Mereka lupa ngaji diri sendiri. Akibatnya borok-borok hati yang mengeluarkan darah hitam dan nanah busuk dalam diri mereka, tidak mereka sadari. Makin sering berdebat dengan pihak lain, dengan ilmu-ilmu syariat, makin tebal hijab yang menutupi borok-borok hati mereka.

Artikel Terkait  Meneladani Politik Kemanusiaan

Padahal ilmu yang sebenarnya adalah ilmu yang menjadi cahaya yang menerangi hati. Dengan cahaya itu, seseorang tahu apa saja borok, darah hitam dan nanah busuk yang menempel di hatinya. Ilmu yang menyibukkan orang untuk ngaji dirinya sendiri.

Kata Syaikh Ibnu ‘Athaillah: “Tempat terbitnya cahaya adalah hati dan sir. Cahaya yang tersimpan dalam hati sumbernya adalah cahaya yang datang langsung dari gudang-gudang kegaiban. Cahaya yang dengannya Dia menyingkapkan ciptaan-Nya kepadamu dan cahaya yang dengannya Dia menyingkapkan sifat-sifat-Nya kepadamu”

Konsepsi dan persepsi diri kaum radikal yang merasa paling suci, paling benar, paling syar’i, paling shahih dan paling rajih, sirna jika dihadapkan dengan sifat-sifat kesempurnaan Allah Swt. Syaikh Zarruq menerangkan, “jika kau disingkapkan kepada sifat-sifat-Nya, kau akan melihat kekurangan segala sesuatu dalam kesempurnaan-Nya.”

Artikel Terkait  Ambisi HTI di atas Ayat Konstitusi dan Ayat Suci

Sayangnya mereka jarang ngaji diri sendiri. Lebih sibuk ngaji diri orang lain dan pemerintah.

*Pengurus LD PWNU Jabar

Bandung, 12 Mei 2020

Author Profile

Ayik Heriansyah
Ayik Heriansyah
Ayik Heriansyah, Mantan Ketua HTI Babel, status hari ini sebagai Pengurus LD PWNU Jabar

ARTIKEL LAIN