EDUKASI
I'tikad Nasionalisme Berawal dari Islam
Nasional

I’tikad Nasionalisme Indonesia dari Islam

“Di awal abad 20, ideologi-ideologi besar masuk ke Hindia Belanda dan kita akan menemukan nasionalisme, sosialisme, komunisme dan Islamisme. Pemerintah Belanda kaget kalau kita membaca buku Rut T Mcvie itu kemunculan komunis di Indonesia. Pemerintah Belanda kaget, tiba-tiba muncul sebuah organisasi besar berbasiskan Islam namanya Sarikat Islam bahkan sampai pemimpin Rusia Lenin mencatat bahwa di Timur telah muncul organisasi massa yang sangat besar, organisasi revolusioner,” kata Sejarawan Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia.

Lanjut Rizal, dan kita bisa memaknai kalau baca buku Mcvie itu bahwa ada gairah besar untuk menarik garis antara kaum putih, kaum sini dengan kaum sana kata Bung Karno. Akhirnya kelompok Islam mulai sadar bahwa ada efek-efek buruk dari eksploitasi kolonial walaupun misalnya muncul terhadap kelompok Cina tapi kita bisa melihat sebenarnya ini kemudian mengkristalisasi dalam bentuk pembentukan ideologi: Ideologi Islam dan ideologi lain yang menantang sifat dari radikalisme Islam. 

Artikel Terkait  Jamaah Haji di Saat Pandemi Tak Boleh Sentuh Ka’bah

“Nah waktu itu kita ketemu dalam konteks ini ideologi-ideologi kiri yang disebut sosialisme dan komunisme sehingga sampai seorang Cokroaminoto pun menurut saya tidak pernah membaca buku-buku sosialisme sampai harus menulis ‘Islam dan Sosialisme’ untuk memperlhatkan bahwa Islam pun punya tempat untuk masyarakat yang disebut sebagai wong cilik – orang kecil dan siap untuk melakukan pembelaan yang habis-habisan karena tempatnya yang istimewa di dalam ajaran Islam. Tapi kan orang kiri tidak percaya karena pada konteks historisnya Sarikat Islam itu lebih sering berkompromi, lebih sering mendekat kepada kekuasaan kolonial ketimbang kemudian muncul sebagai sebuah organisasi yang revolusioner kemudian pecahlah SI itu,” kata Rizal.

Artikel Terkait  Hambatan Perkembangan Pendidikan Indonesia

Dan di situ memang bisa kita lihat ada konflik yang sangat besar, ada faksi yang sangat besar dan kemudian perlu periode yang panjang untuk bertemu bahwa musuh bersama mereka adalah apa yang disebut sebagai kolonialisme Belanda itu.

“Dari dunia Islam seperti Rumah Cokro itu muncul tokoh-tokoh yang penting. Jadi melihat Islam sebagai awal rumah kemunculan nasionalisme Indonesia. Kita bisa melihat tokoh-tokohnya muncul dari dalam rumah yang namanya Sarikat Islam dan kemudian mereka harus rela bahwa rumah itu menjadi taman aneka bunga yang beraneka warna. Tapi bagaimanapun bahwa awal dari kemunculan warna-warna ideologis itu dari organisasi yang namanya Sarikat Islam. Terpecah dari pecahan itu melahirkan aspek baru yang menjawab pertanyaan terpenting di awal-awal abad ke 20 tentang ‘The age of ideologi’ pada masa-masa ideologis itu, ideologi apa yang akan menjadi basis dari negara yang kita imaginasikan di masa depan yang kemudian namanya disebut sebagai Indonesia.” -Sejarawan, JJ Rizal, Mizan Yutube.

ARTIKEL LAIN