EDUKASI
Historiografi Islam di Nusantara
Khazanah Wacana

Historiografi Islam di Nusantara

Studi sejarah tentang masuknya Islam ke bumi Nusantara, setidaknya harus menuturkan tiga topik penting: tempat asal kedatangan Islam, para pembawanya dan waktu kedatangannya.[1] Sejauh ini, diskusi tantang kapan masuknya Islam ke Indonesia tidak pernah ada kesepakatan dari sejarawan. Shingga menimbulkan berbagai teori: abad ke-3 melalu teori Arab, abad k eke- teori Cina dan abad ke-13. Namun begitu, sejarawan cenderung percaya bahwa masuknya Islam ke Indonesia pada abad ke-7 berdasarkan Berita Tionghoa zaman Dinasti Tang. Berita itu mencatat bahwa pada abad ke-7, terdapat permukiman pedagang muslim dari Arab di Desa Baros, daerah pantai barat Sumatra Utara.[2]

Abad ke-13 Masehi lebih menunjuk pada perkembangan Islam bersamaan dengan tumbuhnya kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia. Pendapat ini berdasarkan catatan perjalanan Marco Polo yang menerangkan bahwa ia pernah singgah di Perlak pada tahun 1292 M. dan berjumpa dengan orang-orang yang telah menganut agama Islam. Bukti yang turut memperkuat pendapat ini ialah ditemukannya nisan makam Raja Samudra Pasai, Sultan Malik al-Saleh yang berangka tahun 1297 M. Jika diurutkan dari barat ke timur, Islam pertama kali masuk di Perlak, bagian utara Sumatra. Hal ini menyangkut strategisnya letak Perlak, yaitu di daerah Selat Malaka, jalur laut perdagangan internasional dari barat ke timur dan berikutnya ialah Kerajaan Samudra Pasai.[3]

Kapanpun Islam datang menyapa bangsa Nusantara, poin penting yang tidak boleh terlupakan dalam bahasan ini adalah bahwa kedatangan Islam sebagai Agama baru[4] di Nusantara, tentu membawa dampak yang turut memmengaruhi terhadap budaya dan kultur Nusantara. Dan sebaliknya, kultur budaya Nusantara akan memengaruhi terhadap implemintasi praktek-praktek keagaam yang sifatnya ijtihadi. Dari itulah  memungkinkan terjadinya pertukaran budaya, akulturasi timbal-balik antara Islam dengan budaya lokal yang pada selanjunya dipelajari status hukumnya dalam ushul fiqh, al-adah al-muhakkamah yang berarti adat dan kebiasaan suatu masyarakat, budaya lokal adalah sumber hukum dalam Islam.[5]

Artikel Terkait  Waspada Permainan HTI, Organ Politik Terlarang Berkedok Agama

Sebelum jauh beranjak pada pembahasan pertautan antara Islam dan budaya lokal Nusantara berserta berbagai aspeknya, penulis hendak memaparkan beberapa pendapat sejarawan tentang awal masuknya Islam di Indonesia.

  1. Islam Masuk ke Indonesia Pada Abad ke 7

Teori ini dikenal dengan berita Arab. Secara teoritis berita ini diketahui dari pedagang Arab yang melakukan aktivitas perdagangan dengan bangsa Indonesia. Pedagang Arab Telah datang ke Indonesia sejak masa kerajaan Sriwijaya (abad ke-7 M) yang menguasai jalur pelayaran perdagangan di wilayah Indonesia bagian barat termasuk Selat Malaka pada waktu itu. Hubungan pedagang Arab dengan kerajaan Sriwijaya terbukti dengan adanya para pedagang Arab untuk kerajaan Sriwijaya dengan sebutan Zabak, Zabay atau Sribusa.[6]

Pendapat ini dikemukakan oleh Crawfurd, Keyzer, Nieman, de Hollander, Syeh Muhammad Naquib Al-Attas dalam bukunya yang berjudul Islam dalam Sejarah Kebudayaan Melayu  dan mayoritas tokoh-tokoh Islam di Indonesia seperti Hamka dan Abdullah bin Nuh. Bahkan Hamka menuduh bahwa teori yang mengatakan Islam datang dari India adalah sebagai sebuah bentuk propaganda, bahwa Islam yang datang ke Asia Tenggara itu tidak murni.[7]

  • Islam Masuk Ke Indonesia pada Abad ke-11:

Satu-satunya sumber ini adalah diketemukannya makam panjang di daerah Leran Manyar, Gresik, yaitu makam Fatimah Binti Maimoon dan rombongannya. Pada makam itu terdapat prasati huruf Arab Riq’ah yang berangka tahun (dimasehikan 1082).[8]

  • Islam Masuk Ke Indonesia Pada Abad Ke-13:Catatan perjalanan Marcopolo menyatakan bahwa ia menjumpai adanya kerajaan Islam Ferlec (mungkin Peureulack) di Aceh, pada tahun 1292 M.K.F.H. van Langen, berdasarkan berita Tiongkok telah menyebut adanya kerajaan Pase (mungkin Pasai) di Aceh pada 1298 M.J.P. Moquette dalam De Grafsteen te Pase en Grisse Vergeleken Met Dergelijk Monumenten uit hindoesten, menyatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke 13.[9]Beberapa sarjana Barat seperti R.A Kern; C. Snouck Hurgronje; dan Schrieke, lebih cenderung menyimpulkan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-13, berdasarkan saudah adanya beberapa kerajaaan Islam di kawasan Indonesia.
Artikel Terkait  Kaum Sarungan dan Masyarakat Madura

Terlepas dari kontofersi klarifikasi yang diberikan masing-masing sejarawan sebagaimana telah disebutkan, hal yang pasti adalan bahwa sebelum pengaruh Islam masuk ke Indonesia, bangsa Nusantara sudah melakukan kontak-kontak hubungan perdagangan dengan berbagai daerah luar daerah, baik dari Arab, Persia, India dan Tiongkok. Islam secara akomodatif, akulturatif dan sinkretis merasuk dan punya pengaruh di Arab, Persia, India dan Tiongkok. Melalui perdagangan itulah Islam masuk ke kawasan Indonesia. Dengan demikian bangsa Arab, Persia, India dan Tiongkok punya andil melancarkan perkembangan Islam di kawasan Indonesia.[10]

Di Jawa, Islam masuk melalui pesisir utara Pulau Jawa ditandai dengan ditemukannya makam Fatimah binti Maimun bin Hibatullah yang wafat pada tahun 475 Hijriah atau 1082 Masehi di Desa Leran, Kecamatan Manyar, Gresik. Dilihat dari namanya, diperkirakan Fatimah adalah keturunan Hibatullah, salah satu dinasti di Persia. Di samping itu, di Gresik juga ditemukan makam Malik Ibrahim dari Kasyan (satu tempat di Persia) yang meninggal pada tahun 822 H atau 1419 M. Agak ke pedalaman, di Mojokerto juga ditemukan ratusan kubur Islam kuno. Makam tertua berangka tahun 1374 M. Diperkirakan makammakam ini ialah makam keluarga istana Majapahit.


[1] Azyumardi Azra, Jaringan Ulama:  Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII. (Bandung: Mizan, Cet. II, 1995), h. 24.

[2] Sjamsudduha, Penyebaran dan Perkembangan Islam-Katolik-Protestan di Indonesia, (Surabaya: Usaha Nasional, Cet. II, 1987), h. 20-21.

Artikel Terkait  Ambisi HTI di atas Ayat Konstitusi dan Ayat Suci

[3] Abdurrahman Mas’ud, Dari Haramain ke Nusantara: Jejak Intelektual Arsitek Pesantren, (Jakarta: Kencana, 2006), hlm. 55.

[4] Kedatangn Islam dikatakan sebagai “agama baru” lantaran jauh sebelum Islam datang masayarakat Nusantara sudah mengenal Agama selengkapnya baca di Ririn Darini, Sejarah Kebudayaan Indonesia Masa Hindu Buddha, (Yogyakarta: Penerbit Ombak,2016), h.13-14

[5] Nurcholish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban: Sebuah Telaah Kritis Tentang Masalah Keimanan, Kemanusiaan dan Kemodernan, (Jakarta: Paramadina, Cet. IV, 2000), h. 550.

[6] Kerajaan Sriwijaya di Asia Tenggara dalam upayanya memperluas kekuasaannya ke Semenanjung Malaka sampai Kedah dapat dihubungkan dengan bukti-bukti prasasti 775, berita-berita Cina dan Arab abad ke-8 sampai ke-10 M. hal ini erat hubungannya dengan usaha penguasaan selat Malaka yang merupakan kunci bagi bagi pelayaran dan perdagangan internasional.

[7] Busman Edyar, dkk (Ed.), Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Pustaka Asatruss, 2009), h. 207.

[8] Lihat, Agus Sunyoto, Atlas Walisongo; Buku Pertama yang Mengungkap Wali Songo Sebagai Fakta Sejarah, (Jakarta, Pustaka IIMaN, 2016), h. 56.

[9] P.A. Hosein Djadjadiningrat, “Isalam di Indonesia” dalam Kennet Morgan, dk., Islam Djaan Mutlak, terj, Abu Salamah, dkk., (Jakarta, PT. Pembangunan, 1962), h. 99-140. Bandingkan juga denegan Ayzumardi Azra, Islam Nusantara: Jaringang Global dan Lokal, (Bandung Mizan, 202), h. 20-21.

[10] Dalam data tentang bangsa Nusantara, Agus Sunyoto menjelaska  bahwa Nusantara telah dikenal oleh dunia luar sejak abad 1-6 SM (pada masa pemerintahahan kekaisaran Wang Ming) yang oleh Tiongkok disebut Huang-tse. Selengkapnya tentang pengaruh Cina, Idia,-Persia,  dan bahkan hubungan dagang antara masayarakat Nusantara denga dunia luar dapat dibaca pata Agus Sunyoto, Atlas Wali Songo, h.19-38. Dandingkan juga dengan Ahmad Al-Usairy,  Sejarah Islam, Sezak Zaman Nabi Adam  Hingga Abad XX, (Jakarta: Akbar Media, 2003), h. 336.

Author Profile

Ahmad Fairozi
Ahmad Fairozi
Mahasiswa Pascasarjana UNUSIA Jakarta

ARTIKEL LAIN