EDUKASI
Gerakan Pemuda Islam Hindia Belanda: Budi Utomo, SI dan IP
Khazanah

Gerakan Pemuda Hindia Belanda: Budi Utomo, SI dan IP

Kemerdekaan Indonesia bukanlah hadiah atau pemberian cuma-cuma dari penjajah. Kemerdekaan Indonesia merupakan hasil perjuangan panjang para pemuda Indonesia yang mendedikan dirinya melawan penjajahan. Terhitung sejak awal abad ke-20 pemuda Indonesia yang tersebar di berbagai negara tetangga mulai menyadari perlunya kebangkitan dan perjuangan dari cendekiawan muda untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Secara umum, perjuangan pergerakan nasional di Hindia Belanda dilatarbelakangi oleh kebijakan Politik Etis atau Politik Balas Budi. Belanda menyatakan bahwa pemerintah kolonial merasa bertanggungjawab secara moral atas kesejahteraan pribumi jajahannya. Pemikiran ini merupakan kritik terhadap politik tanam paksa. Kebijakan politik tersebut membuat perubahan yang cukup besar bagi bangsa Indonesia.

Salah satu kebijakan Politik Eti yaitu edukasi, membawa perubahan yang cukup besar bagi bangsa Indonesia. Berangkat dari kebijakan edukasi ini muncul para tokoh terpelajar Indonesia sebagai elit modern.

Singkatnya, politik etis di bidang edukasi, mengenalkan masyarakat pribumi terhadap pendidikan modern Barat (Belanda). Hal ini menjadi cikal-bakal terciptanya komunitas terdidik Indonesia.[1] Kebijakan balas budi ini membentuk strata sosial baru dalam struktur masyarakat.

Diterapkannya Politik Etis di awal abad ke- 20 M. sepintas mesti disyukuri karena telah membuka kesadaran berbangsa bagi rakyat Indonesia. Namun, hakikatnya, Politik Etis sebenarnya merupakan bentuk penjajahan kebudayaan yang halus sekali, yaiutu penggantian kebudayaan asli tanah jajahan dengan kebudayaan penjajah.

Politik etis telat melahirkan sekolah-sekolah untuk golongan pribumi di Hindia Belanda. Tujuannya adalah untuk memperoleh tenaga baru pegawai rendah yang bersedia digaji lebih murah dari pada tenaga bangsa-bangsa Belanda.

Banyaknya penduduk pribumi yang bersekolah telah menghasilkan kaum cerdik pandai dikalangan penduduk pribumi. Kaum cerdik pandai inilah yang mempelopori kesadaran kebangsaan, yaitu suatu kesadaran tentang perlunya persatuan dan kesatuan bangsa.

Dari kaum elit-terpelajar yang peduli dengan nasib bangsa Indonesia, membuat suatu gebrakan baru untuk perjuangan bangsa Indonesia. Perjuangan bangsa Indonesia yang dahulu memakai senjata, berubah pola yang kemudian dari pihak kaum pelajar ini melakukan perjuangan melalui pemikiran.[2]

Pembentukan organisasi pergerakan disadari betul oleh para aktivis terpelajar Indonesia. Mereka menyadari bahwa pemerintah kolonial yang memiliki organisasi yang rapi dan kuat tidak mungkin dihadapi dengan cara tradisional sebagaimana perlawanan rakyat sebelumnya.

  • Sekilas Tentang Budi Utomo
Artikel Terkait  Prof Oman Fathurahman: Nusantara Bukan Bagian dari Turki Utsmani

Perjuangan melalui organisasi telah menjadi wahana perjuangan dalam upaya melepaskan diri dari cengkraman penjajah Belanda dan menjadi pembeda dari perjuangan masa sebelumnya yang hanya mengandalkan kekuatan senjata.

Tanggal 20 Mei 1908 merupakan titik tolak, awal mula perjuangan melalui organisasi di Hindia Belanda waktu itu. Budi Utomo kemudian lahir sebagai organisasi pergerakan modern.

Budi Utomo (dapat disingkat BU) didirikan pada hari Rabu tanggal 20 Mei 1908 di Jakarta oleh para pelajar STOVIA yang digagas pertama kali oleh dr. Wahidin Sudirohusodo dan dr. Sutomo. Dr. Sutomo kemudian menjadi ketua BU yang pertama.

BU sendiri didirikan dengan latar belakang pertama kali berupa kampanye kerjasama antar para priyayi di pulau Jawa yang digagas pertama kali oleh dr. Wahidin Sudirohusodo. Pada awal perjalanan kampanyenya, tidak ada hasil yang signifikan walaupun terdapat hasil, seperti yang ada di Jawa Tengah berupa pembentukan “Dana Belajar”. Hingga pada akhirnya dr. Wahidin bertemu dengan dr. Sutomo, pelajar dari STOVIA yang kemudian membentuk organisasi BU.

Organisasi BU diawal perjuangannya lebih memfokuskan diri pada bidang pendidikan dan kebudayaan yang diwujudkan dengan cara mendirikan banyak sekolah. Sehingga dari itu BU dapat dipandang sebagai gerakan nasionalisme kultural. BU belum dapat menunjukkan sikap perjuangannya dalam bidang politik kala itu mengingat adanya larangan tegas untuk perkumpulan politik.

Cahyo Budi Utomo  menjelaskan bahwa aktivitas Perjuangan BU pada awalnya juga masih samar-samar, yaitu kemajuan bagi Hindia. Anggotanya pun masih terbatas. Tetapi munculnya organisasi ini telah menarik khalayak ramai. Karena itu dalam rentang waktu yang tidak lama setelah berdirinya, yakni antara bulan Mei hingga Oktober 1908 telah berdiri cabang-cabang BU di Bandung, Bogor, Magelang, Surabaya, Probolinggo, dan Yogyakarta.[3]

  • Organisasai Keislaman Serikat Islam (SI)

 Tidak lama setelah berdirinya BU, muncul pula organisasi-organisasi yang lebih aktif dan penting. Beberapa di antaranya bersifat keagamaan, yaitu Serikat Islam.

Sarekat  Islam  merupakan  salah  satu  contoh  organisasi  pergerakan  yang  bersifat keagamaan. Sarekat Islam yang disingkat SI didirikan pada 11 November 1912. Ketua pertama SI yang ada di Solo adalah H. Samanhudi. SI tumbuh dari organisasi yang mendahuluinya yakni Sarekat Dagang Islam yang didirikan tahun 1911. Sarekat Dagang Islam diketuai oleh R.M. Tirto Adisuryo. Ada pendapat lain mengenai awal mula berdirinya SI, yakni pada tahun 1906 dan Sarekat Dagang Islam satu tahun sebelumnya.

Artikel Terkait  Menegaskan Kembali Pengertian Khittah NU

Secara umum, didirikannya SI sendiri atas dasar latar belakang adanya halangan perdagangan Indonesia dari pedagang Tionghoa, penyebaran agama Kristen, serta berbagai adat di kerajaan-kerajaan Jawa yang dirasa telah tidak sesuai.

Menurut Sartono Kartodirdjo SI muncul dengan pola pergerakan yang berbeda dengan gerakan-gerakan sebelumnya, terutama BU. SI merupakan total, yang artinya tidak terbatas pada satu orientasi tujuan, tetapi mencakup berbagai bidang aktivitas, yaitu ekonomi, sosial, politik, dan kultural. Yang menarik dari gerakan SI ini adalah mereka menjadikan agama Islam berfungsi sebagai ideologi. Hal ini menjadikan SI sebagai gerakan revivalisme, yaitu kehidupan kembali kepercayaan dengan jiwa atau semangat yang berkobar-kobar.[4]

Dengan terkumpulnya berbagai aspek perjuangan dalam SI, maka SI juga  disebut gerakan nasionalis-demokratis-religius-ekonomis. Selain SI bercorak keislaman (dan gerakan Kristen yang diwakili pemerintah kolonial), pada dekade kedua dari abad ke-20 M ini muncul perhimpunan-perhimpunan bercorak keagamaan baru yang secara aktif merekrut para anggotanya dari segmen-segmen masyarakat kota yang tercerabut dari akarnya, mulai dari orang-orang Indonesia yang sedang mencari dukungan spiritual bagi proyek nasionalisme multikultural-nya, hingga para bangsawan Jawa yang menemukan medium baru untuk mengartikulasikan mistisisme Jawa-nya, dan juga para anggota inteligensia yang mengalami alienasi.

Namun menurut Yudi Latif sebagaimana  dituliskan dalam Inteligensia Muslim dan Kuasa, organisasi bercorak keagamaan Islam pertama yang muncul di Hindia Belanda adalah Jam’iat Khaer. Yaiutu organisasi yang mayoritas terdiri dari orang Arab yang tinggal di Hindia Belanda bahkan memiliki hubungan yang dekat dengan Turki Utsmani.

  • Organisasi Kepemudaan dari Keturuanan Indo-Belanda

Organisasi pergerakan yang memiliki identitas politik yang jelas pasca berdirinya BU adalah Indische Partij. Indische Partij (dapat disingkat IP) didirikan berawal dari gagasan Douwes Dekker atau nama lainnya yakni Danudirdja Setyabudhi, seorang Indonesia (peranakan Belanda).

Ia melihat adanya keganjilan dan diskriminasi perlakuan pemerintah kolonial terhadap keturunan Belanda murni dengan keturunan campuran. Namun begitu pandangannya diperluas lebih jauh, bahwa rakyat pribumi berhak menentukan nasib mereka sendiri serta menyadarkan rakyat akan bahaya eksploitasi kolonial.

Artikel Terkait  Karomah Ki Ageng Selo: Leluhur Raja Jawa yang Tangkas Menangkap Petir

Berangkat dari pemikiran ini maka Douwes Dekker memberikan solusi perlawanan berupa pendirian organisasi atau partij yang dapat menampung segala lapisan masyarakat. Berawal dari gagasan ini kemudian Douwes Dekker berkeliling dan mendapat dukungan dari Tjipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat yang kemudian mereka disebut sebagai tiga serangkai. Mereka pada akhirnya mewujudkan cita-cita perjuangan perlawanan dengan mendirikan Indische Partij pada 25 Desember 1912.[5]

Melihat dari aktivitas pergerakannya, sejak awal kemunculannya IP memang telah menunjukkan sikap politik radikalnya terhadap pemerintah kolonial. Tak heran kemudian pemerintah kolonial mengambil sikap tegas terhadap IP. Itulah sebabnya IP tak berumur panjang karena pemimpinnya dijatuhi hukuman buangan pada Agustus 1913. Walaupun tak berumur panjang, IP telah memberikan kata “Merdeka” secara terbuka dan konsep kebangsaan yang dikembangkannya telah berpengaruh terhadap perjuangan tokoh-tokoh perjuangan lain.

Bahkan menurut Cahyo Budi Utomo sendiri,  semangan dan keberanian Douwes Dekker telah mengilhami gerakan perlawanan secara terang-rerangan terhadap kolonialisme. Gerakan politik yang langsung menyerang pemerintah kolonial berhembus semakin kencang. Bahkan dalam riwayat yang disampaikan Budi Utomo Pecahnya Perang Dunia I juga semakin membuat pemerintah kolonial selalu berhati-hati terhadap segala macam gerakan politik yang muncul di Hindia Belanda (Indonesia).[6]

Organisasi-organisasi ini kemudian bergerak di kalangan masyarakat bawah, dan untuk yang pertama kalinya terjalin hubungan antara rakyat biasa dan para elit-terpelajar. Secara ideologis politis, identitas mereka tidak semua sama, secara garis besar mereka terfragmentasi ke dalam tiga kelompok yaitu Islam, nasionalis/sekular, dan komunis.

Singkatnya, masa pergerakan nasional yang terjadi pada awal abad ke- 20 M dapat diartikan sebagai pergerakan di seluruh wilayah Indonesia. Berasal dari berbagai kelompok, suku, budaya dan agama yang terhimpun dalam organisasi pergerakan dan bertujuan untuk memajukan bangsa dengan tujuan akhir merdeka dengan meliputi semua aspek kehidupan berupa semangat untuk memberdayakan ekonomi, pendidikan, sosial, politik dan budaya yang diwujudkan dalam bentuk perjuangan organisasi pergerakan nasional yang moderat atau radikal yang mau bekerjasama (kooperatif) atau tidak bekerjasama (non kooperatif) dengan pemerintah Hindia Belanda.


[1] Yudi Latif, Negara Paripurna: Historisitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2011), h. 6-16

[2] Yudi Latif, Inteligensia Muslim dan Kuasa: Genealogi Inteligensia Muslim Indonesia Abad Ke-20, (Jakarta: Yayasan Abad Demokrasi, 2012), h. 224.

[3] Cahyo Budi Utomo, Dinamika Pergerakan Kebangsaan Indonesia: Dari Kebangkitan Hingga Kemerdekaan, (Semarang: IKIP Semarang Press, 1995), h. h.52-54.

[4] Sartono  Kartodirdjo,  Pengantar  Sejarah  Indonesia  Baru:  dari  Kolonialisme  sampai Nasionalisme jilid 2, h. 107

[5] Marwati Djoenoed Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto (ed.), Sejarah Nasional Indonesia V…, h. 350.

[6] Cahyo Budi Utomo, Dinamika Pergerakan Kebangsaan Indonesia…, h. 75-76.

Author Profile

Ahmad Fairozi
Ahmad Fairozi
Mahasiswa Pascasarjana UNUSIA Jakarta

ARTIKEL LAIN