EDUKASI

Dahsyatnya Eksistensi Cinta dan Kasih Sayang

Judul               : Belajar Cinta dari Seekor Burung Pipit

Penulis           : Muhammad Bin Abu Bakar Al-Usfuri    

Penerbit         : Turos Pustaka

Cetakan          : Juli, 2019

Tebal              : 319 halaman

ISBN               : 978-623-7327-202

Cinta dan kasih sayang adalah dua kutub yang tidak bisa dipisahkan dalam diri seorang manusia. Tanpa keduanya hidup di dunia seakan memiliki perasaan hampa tiada tara. Bagaimana tidak, tuhan dengan segala belas kasih dan sayangnya memberikan nikmat dan kekuasannya pada alam raya ini, tanpa terkecuali. Begitupun hikmah yang  bisa kita petik dari kitab terjemahan sederhana ini.

Kitab terjemahan ini berisi sekumpulan hadits tentang cinta dan kasih sayang. Buku setebal 319 ini diawali dengan tema anjuran mengasihi ciptaaan Allah. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa hukum alam (sunnatullah) yang kita alami di dunia pasti akan terjadi. Contoh kecilnya ketika orang menyayangi segala makhluk yang ada di bumi, maka ia juga akan disayang oleh orang lain. Bahkan—sebagaimana penjelasan di dalam buku ini—akan disayangi oleh sang maha penyayang dan siapapun yang ada di langit. (hal.01)

Buku terjemahan ini dihadirkan bukan semata-mata hanya disuguhi dengan teks hadits semata, tetapi buku ini juga dilengkapi dengan hikmah dari cerita tentang kasih sayang sebagai bahan renungan kepada pembaca dan motivasi diri agar tetap berada dalam jalur cinta dan kasih sayang. Cerita-cerita tersebut tentu sangat menginpirasi kita dalam melakukan tindakan dan memperlakukan makhluk di dunia ini dengan penuh kasih sayang.

Artikel Terkait  Menyemai Sikap Kepedulian Kepada Sesama Sejak Remaja

 Kisah yang cukup menarik di dalam buku ini ketika Ali Bin Abi Thalib yang berangkat ke masjid untuk shalat berjamaah dan ditengah jalan dirinya bertemu dengan seorang kakek tua yang beragama Nasrani tetapi Ali Bin Abi Thalib tidak mendahului langkah kakek tersebut meskipun dirinya sudah kesiangan untuk shalat shubuh berjamaah. Ali baru tahu bahwa kakek tersebut adalah orang Nasrani karena setelah sampai di Masjid kakek tersebut tidak masuk ke dalam masjid. Bukan berarti Ali Bin Abi Thalib menghormati kakek tersebut karena Nasrani tetapi karena faktor usianya yang sudah tua renta.            

Dari peritiwa inilah, Allah kemudian memerintahkan malaikat Jibril untuk meletakkan sayapnya di punggung Rasulullah cukup lama sehingga Ali bin Abi Thalib memiliki cukup waktu untuk sholat shubuh bersama dengan Rasulullah. Tetapi, peristiwa tersebut membuat Ali bertanya kepada Rasulullah karena tidak biasanya Rasulullah melakukan hal yang demikian (memanjangkan rukuk). Itulah alasan Rasulullah yang disampaikan kepada Ali bin Abi Thalib. Bahkan, yang luar biasa ketika Allah memerintahkan Mikail untuk menahan sayapnya agar menahan gerak matahari tidak terbit karena menghormati kemuliaan sikap Ali kepada kakek tersebut. (hal. 15)

Artikel Terkait  Belajar Strategi Dakwah yang Memikat Nurani

Dari kisah ini, tentu kita bisa memahami bahwa tuhan lebih mengetahui tolak ukur kasih sayang seorang hamba sehingga Allah yang maha kuasa membalas kasih sayangnya dengan luar biasa. Sedangkan, dari kisah Ali ini kita bisa mengambil satu gagasan pokok supaya kita tidak mendahului dan menjaga hak-hak orang yang lebih tua, apapun dan bagaimanapun kondisinya. Inilah sekelumit kisah bahwa kasih sayang harus diberikan kepada semua makhluk tanpa terkecuali karena mereka juga berhak memperoleh hak-haknya untuk dikasihi dan dihormati.

Selain dilengkapi cerita dan hikmah-hikmah penggugah jiwa dalam bertindak kasih sayang, buku ini dilengkapi dengan teks asli hadits di dalamnya. Misalnya juga ada kisah Ibrahim bin Adham yang bekal rotinya dicuri oleh seekor burung gagak dan ia pun mengejar burung gagak tersebut hingga sampai ke pegunungan. Akhirnya ia menemukan seorang yang pedagang yang diikat dengan tambang lalu pedagang tersebut bercerita bahwa dirinya mendapatkan makanan roti dari seekor burung gagak dan selama tujuh hari Allah tidak membiarkan dirinya kelaparan. (hal. 62)

Artikel Terkait  Menimbang “Peremajaan Istilah” Bahasa Indonesia Di Kalangan Pemuda

Mendengar kisah ini Ibrahim bin Adham sadar dan menanggalkan baju-baju mewahnya, memerdekakan semua budaknya dan mewaqafkan semua tanah dan hartanya. Kisah ini menjadi singgungan kepada manusia agar saling berbagi kasih sayang kepada sesama dan sikap tawakal. Hal ini bisa kita ambil hikmahnya dari seekor burung gagak. Menyelami hadits dan kisah-kisah yang terkumpul di dalam buku ini akan semakin membuatkan kita intropeksi diri betapa cinta dan kasih sayang luar biasa jika diamalkan kepada sesama makhluk tuhan.  

 * Abdul Warits, Alumni PP. Annuqayah, Guluk-Guluk Sumenep

ARTIKEL LAIN