EDUKASI
Covid-19 dan PMII Sekarang
Pendapat

Covid-19 dan PMII Sekarang

Oleh Rifand NL

Sejak Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) membuat keputusan sama dengan pemerintah untuk memutus mata rantai Covid-19 (Surat Intruksi), dampaknya pada pengkaderan pun cukup signifikan. Di semester genap ini, sebenarnya komisariat atau rayon di penjuru nusantara telah mempersiapkan pelaksanaan pengkaderan level kedua (Pelatihan Kader Dasar:PKD) di PMII, kepanitiaan di bentuk sebulan jauh , mereka merinci kebutuhan dana, materi, dan narasumber, serta mobilisasi kader lulusan MAPABA (basic training), supaya kegiatannya matang mulai dari pra-sampai tahap pelaksanaannya.

Tapi wabah Covid-19 membuat lumpuh total, diskusi verbal, ngopi di warung-warung pinggir jalan, lingkaran intelektual, sampai PKD pun di tunda serentak. Dalam rangka mencegah penyebaran Covid-19 berakibat penghentian pergerakan PMII. Komisariat dan atau rayon yang setiap minggunya ada kajian rutin dengan berat hati di vakumkan.

Di sisi lain, Kampus meliburkan perkuliahan tatap muka, mahasiswa sontak riang gembira, medsos di penuhi stori yang sarat keceriaan, (seperti serasa ingin melepas penat dari setumpuk aktivitas kampus), stori WA ramai seketika dengan motif kegembiraan yang hampir sama. Sementara kebijakan kuliah daring mengarahkan mahasiswa kuliah secara virtul di rumah masing-masing.
Sorak-sorai kegembiraan memudar secepat kuliah online dimulai. Kuliah online justru semakin menambah bejimbun tugas-tugas. Mahasiswa bukannya tenang, malah ngambek, sampai viral pamflet ” Kampus Lockdown, Tugas Smackdown, Mahasiswa Down”

Psikologi mahasiwa Indonesia pada situasi ini di uji coba, seberapa tangguh merespon sesuatu yang sebelumnya jarang atau sama sekali tak pernah di terapkan [kecuali kampus dengan sistem yang sudah lama menerapkan e-learning). Sebagai tahap awal, ini lapangan adaptasi bagi mahasiswa, meski di samping seabrek tugas seakan-akan penjara dalam sekam, yang benar-benar mengurung total mahasiswa dari aktivitas kesehariannya.

Bagi pengurus komisariat dan rayon mereka harus mengambil alternatif lain, supaya kaderisasi tetap hidup. Hampir sejajar dengan penerapan kuliah online kampus, maka PMII juga memberlakukan diskusi online. Tapi lagi-lagi, ada problem yang karenanya harus mengundang keluhan dari kader-kader. Bisa di bayangkan, dari setiap kuliah online perharinya, dengan 2 sampai 3 mata kuliah sehari disertai tugas dari dosen setiap akhir mata kuliahnya. Maka bisa sehari penuh mahasiwa harus menyelesaikan tugas pada hari itu juga.

Artikel Terkait  Aksi Virtual Masyarakat Kawal Bantuan Pemerintah, Suarakan Kebenaran

Sehingga, tatkala PMII hadir dalam upaya melakukan kontinuitas pengkaderan [online], harus mendapat bagian kader yang sudah lelah, bosan, setelah di cecar tugas sehari penuh oleh dosen.

Pada kondisi ini, pengurus komisariat dan rayon mau tak mau harus memutar otak keras, mencari cara supaya pengkaderan berjalan efektif dan tidak lumpuh. Sebab, mengadakan perkumpulan, khawatir di dera aparat keamanan, yang sedari maklumat Kapolri turun, penjagaan di pusat kerumunan di jaga ketat. Bisa jadi dalam kesempatan serba terbatas ini, setiap pengurus mengarahkan kadernya, supaya melakukan dua hal, “membaca” dan “menulis.” Keduanya sebagai metabolisme yang tidak keluar dari jalur yang di anggap “matinya kaderisasi.” Atau menjadi penyambung lidah protokol kesehatan, yakni membantu pemerintah untuk disiplin menaati aturan “Social/Physical Distancing” pada pencegahan Covid-19. Katanya, upaya menjadi pahlawan, cukup rebahan.

Tak pelak, bahwa efek jaga jarak buntut wabah covid-19, sesungguhnya telah memutus mata rantai tradisi lisan yang menjadi jantung intelektualitas PMII. Menyentak tradisi, dimana tuntutan tradisi teks pelan-pelan kudu di jadikan alternatif.

Tradisi online, suatu metodik yang cara kerjanya adalah funsionalisasi cepat guna dan jarak jauh, ia ruang metodik berbeda dengan Impact yang berbeda pula daripada tradisi verbal. Pengaruh Covid-19, secara global mengarah pada penggunaan teknologi digital dengan tergopoh-gopoh bagi dunia pendidikan di indonesia. Pundi pundi intelektualitas pun di seret pada tradisi yang oleh PMII tidak mentradisi sepanjang kelahirannya. Sejatinya ini suatu problem paradigmatik. Di mana tingkat tradisi teks belum menjamur di tubuh PMII. Ambil contoh seperti tradisi menulis PMII, kepopuleran Fauzan Alfaz tak ada yang menandinginya dengan bukunya “PMII dalam Simpul-Simpul Sejarah Perjuangan.” Dimana tak satupun, kecuali beliau yang menulis dengan hebat setiap dinamika PMII secara nasional. Apalagi gerakan penulisan sejarah PMII lokal di daerahnya masing-masing. Belum mampu menjawab teorema tradisi teks yang dapat digunakan paten di PMII.

Artikel Terkait  Menanti Kontribusi Orang Kaya Atasi Pandemi Covid-19

Di PMII, setiap daerah memiliki fokus dan nilai paradigmatik yang berbeda, dan itu tak bisa dibuat sama sesuai kultur yang telah mendarah daging. Misalnya, PMII Kota Malang, kultur kaderisasi yang sistematis, dan terukur adalah laboratorium keilmuan yang di akui secara nasional. PMII Kota Jember, dalam hal advokasi siginifikan mengawal di kasus-kasus agraria secara berkelanjutan. Dan PMII yang berada di bawah naungan pesantren, tergolong mengatup pada ruang literasi yang karenanya tradisi teks menggeliat. Adapula, tradisi gerakan dan tulisan beriring, itu seperti di PMII Ciputat dan Jogjakarta dengan nilai kultural yang bisa jadi bermiripan.

Maka sebenarnya, duduk perkara mulai ketemu, basis PMII di daerah mengalami daya tangkap yang cepat, dan lambat. Kadang juga masih mengacak-acak dimana posisinya harus dijadikan “leading sector.” Daya imunnya di uji coba sampai mana ketahanan organisasi dan power intelektualnya sebagai organisasi pengkaderan. Karenanya, menjadi keharusan mata rantai keilmuan di seret ke dalam dengan menginjeksi soft skill secara bersamaan. Ini akan menjembatani dilema PMII merespon masa depan yang cepat berubah.

Era disrupsi membawa perubahan radikal bagaimana PMII kedepan harus melangkah dan melakukan perubahan. Akankah PMII hanya menjadi organisasi massa-ideologis, yang kredibilitasnya penampung dan basis ideologisasi saja. Atau mempertahankan citranya secara “totally” sebagai organisasi pengkaderan dengan eskalasi bidang-bidang baru. Ini yang setiap pengurus PMII harusnya rumuskan.

Artikel Terkait  Sepi Like Pengajian Daring Gagal, Kata Siapa?

Makanya, klasifikasi cepat dan lambat dalam merespon, ini di pengaruhi oleh metodik dan paradigmatik di masing-masing daerah dimana PMII berada. Kegagapan dalam merespon bukan aib yang harus di tutup rapat-rapat, atau kecepatannya pun tak boleh se radikal mungkin. Keduanya harus memenuhi eskalasi pergerakan kultural yang butuh memakan waktu.

Ini contoh, seperti kegagapan kader PMII sepanjang menerima pendidikan online [e-learning] di kampusnya. Komisariat dengan berkultur literasi, akan lebih mudah menjalani tumpukan tugas Karya Tulis Ilmiah-nya. Berbeda dengan kultur gerakan, maka kegagapan yang tergopoh-gopoh tak dapat dihindari.

Kedepan, ini diskursus yang perlu di perhatikan, sebab tatanan sosial dari berbagai lini kehidupan pasca pandemi covid-19 ini akan mengubah ke fase selanjutnya secara tak terduga. Sepertinya akan ada fragmen kehidupan manusia yang memusatkan pada penggunaan teknologi digital sebagai paltform hidup. lebih-lebih dunia pendidikan, bagaimana jadinya jika pendidikan tinggi mulai berevolusi pada digitalisasi. Di mana akan berbuntut pada proses kaderisasi di organisasi ekstra, termasuk PMII di dalamnya. Ini yang harus lebih hati-hati dan di persiapkan semenjak sekarang. Bagaimana manatap tatanan paradigmatik PMII menyongsong perubahan zaman.

Meskipun demikian, PMII senyatanya adalah organisasi yang senyawa dengan kultur apapun itu. Dengan taraf dan kondisi apapun, atmosfernya akan pelan-pelan menyesuaikan. Sehingga, adagium Arab “Sholih likulli zaman wal Makan.” PMII relevan di setiap zaman dan tempat akan tetap tumbuh subur

Kamis, 02 April 2020
Komisariat PMII Universitas Wiraraja

Author Profile

Rifand NL
Rifand NL
Ketua Komisariat PMII UNIJA Sumenep
Latest entries

ARTIKEL LAIN