EDUKASI
Khazanah

Covid-19, Albert Camus, dan Kematian yang Tertunda

Memori kelam tentang wabah Pes (Black Death) pada abad 14 di benua Eropa, telah memberikan pelajaran hidup istimewa pada umat manusia. Kehadirannya tanpa diundang dan tidak pandang bulu, kaya dan miskin, tua dan muda, anak-anak sampai yang lansia semuanya lenyap dan habis, sampai bumi harus penuh mayat dengan jumlah sekitar 1347.

Kemudian sekitar tahun 2002 muncul lagi, kawanan wabah ganas mematikan yanh di kenal SARS-Cov. Kehadirannya pun tampa kompromi, menelan nyawa manusia hinggaa sekitar 8.000 jiwa di seluruh dunia. Tragis!

Tak pelak, hadirnya wabah dalam sejarah hidup manusia telah memberikan memoar hitam, bahkan mengusik ketenteraman hidup, sebab kematian selalu menjadi mimpi buruk dan mengintai sehari-hari tanpa terputus. Rasa damai, sejahtera dan bahagia seolah hanya ilusi kehidupan, yang menjadi penawar kegelisahan manusia atas kehidupan yang malang.

Hari ini, masyarakat dunia harus dihadapkan pada nasib baru yakni munculnya wabah Covid-19. Wabah yang diprediksi kuat dari sejenis SARS-Cov, yang berasal dari Wuhan. Wabah ini tidak tanggung-tanggung mengutuk manusia pada kematian, penduduk dunia sudah terinfeksi kurang lebih mencapai 3.081.502 manusia, miris!.

Realita kematian memang tidak bercanda, ketika wabah Ganas Covid-19 menelan nyawa manusia di setiap harinya. Kematian seakan menjadi niscaya, bahwa manusia harus ada yang mati dan untuk sementara hidup.

Albert Camus dan Sampar

Albert Camus. Tokoh kelahiran Aljazair yang satu ini tidak usah diragukan lagi keluasan ilmunya, mulai filsafat, politik hingga sastra. Dengan beberapa bukunya yang lahir, memaksa pembacanya harus mengerutkan dahi karena kedalaman nilainya. Beliau juga peraih hadiah Nobel sastra tahun 1957 dengan judul: Sampar. Sebuah kisah heroik tentang eksistensi kehidupan manusia yang absurd.

Artikel Terkait  Penipuan-Penipuan HTI dalam Film 'Jejak Khilafah'

Keistimewaan lain, Albert Camus juga pejuang kebebasan, dan mengutuk segala bentuk penghilangan nyawa terhadap manusia, ata nama apapun!

Jadi tidak heran, jika latar belakang lahirnya pemikiran tersebut adalah pengalaman terdalam Albert Camus dari perjalanan hidupnya, ketika terlibat atas problem-problem masyarakat di kota kelahirannya. Yang kemudian menjadi ilham atas karya-karyanya yang hebat.

Suatu ketika Albert Camus pulang ke Kampung halamannya, untuk melakukan penelitian di daerahnya tentang wabah bernama Sampar atau Pes (Black Death) yang melanda kota Oran, salah satu kota yang menjadi bagian wilayah Aljazair.

Dalam usahanya, Albert Camus mulai mencari beberapa referensi dari kitab suci, sejarah penyakit di Yunani, tentang wabah penyakit yang sejenisnya, hingga berita terbaru tentang wabah Sampar atau Pes tersebut.

Di sisi lain, Albert Camus harus menanggung beban hidup yaitu penyakit bawaan yang tak bisa disembuhkan, tapi apa boleh buat karena menolak akan kebatilan, semangat dan gigihnya seorang Albert Camus tetap menjalani aktivitasnya sebagai intelektualnya.

Albert Camus menyusun magnum opus-nya yang kemudian mampu memberikan lilin untuk menerangi dengan sangat jeli problem-problem hati nurani manusia.

Dalam perjalanan seorang eksistensialis seperti Albert Camus, akan kita temui gagasan-gagasan menggugah di dalam novelnya yang menceritakan tentang wabah bernama Sampar, dengan lakon seorang tokoh bernama Rembert, Paneloux, Cottard, dan Dokter Rieux. Di mana beberapa tokoh tersebut mempunyai spirit dan karakter berbeda-beda dalam cerita wabah sampar.

Artikel Terkait  3 Syarat Pendidikan Karakter Berjalan Efektif

Hidup adalah nasib. Paneloux, dengan pengalaman religiusitas hanya bersekongkol dengan agamaannya dan tidak ambil pusing, semuanya dilemparkan pada Sang Kudus, bahwa penyakit ini adalah ujian dari Tuhan yang harus diterima oleh umatnya.

Kemudian tokoh yang bernama Cottard, tokoh yang egois dalam menghadapi wabah ganas sampar tersebut, dia memilih menjadi orang yang tidak acuh dan tidak mau tahu, terserah masyarakatnya mau mati atau tidak, nasib-nasib mereka.

Cottard juga hanya mencari untung dibalik bencana sampar ini. Ada pula Rembet, tokoh ini sifatnya hampir mirip Cottard, walaupun pada akhirnya ikut terlibat menjadi relawan kemanusiaan.

Lantas bagaimana dengan sifat si Dokter Rieux? Tokoh ini didudukan oleh Albert Camus sebagai manusia paling damai dalam menghadapi hidupnya. Rieux dihadirkan sebagai seorang dokter, yang tugasnya membantu sepenuh hati para korban wabah sampar, dan menjadi saksi atas kekejaman Pes yang merenggut nyawa pasiennya.

Tentu, segala resiko menjadi tanggung jawabnya, bahkan tak jarang Rieux terkadang harus memberontak pada keadaan yang melanda pasiennya, karena banyaknya nyawa tak tertolong olehnya dan Mati.

Semua upaya yang dilakukan untuk menyembukan penyakit pasiennya, Dokter Rieux hanya bisa memperlambat penyakitnya atau menunda kematian pasien yang terjangkit wabah sampar ini. Di sisi lain dalam menjalankan tugasnya untuk kemanusiaan, Rieux terpukul hatinya karena dipaksa harus kehilangan istri tercintanya yang mati gara-gara penyakit sampar.

Artikel Terkait  Nasionalisme Kemanusiaan Ernest Douwes Dekker

Ternyata waktu masih berpihak pada manusia, wabah sampar mereda dan hilang. Dengan berakhirnya wabah Sampar ini, apakah Rieux sebagai relawan kemanusiaan dinyatakan menang melawan sampar? Tidak, Rieux hanya ingin menjadi saksi, menjadi bagian dari korban wabah sampar dan terlibat dalam perjalanan hidup manusia.

Dari perjalanan seorang Aktor bernama Rieux dalam cerita tersebut beserta tokoh lainnya, kita telah melihat sekilas sosok seorang Albert Camus, sebagai pengarang novel sampar.

Memang, Albert Camus adalah orang ateis radikal, orang yang menolak untuk terjerumus pada dogma ketuhanan. Tapi, semua itu adalah pilihan pribadi seorang Albert Camus yang tidak patut menjadi urusan publik. Toh Albert Camus juga tidak pernah mengucilkan orang karena agamanya.

Di tengah krisis kemanusiaan saat ini, menjadi penting dan tugas kita bersama untuk saling menjaga. Pesan moralnya, Albert Camus mau mengajak kita untuk sering-sering muhasabah diri, memaknai hidup sebagai bagian dari pada sosial masyarakat, dan bermanfaat untuk sesama menuju kesejahteraan bersama.

Benar, apa yang di katakan F. Budi Hardiman, dalam esainya tentang Albert Camus bahwa manusia adalah mati yang tertunda, dan manusia tidak bisa keluar dari nasib yang bernama kematian.

Author Profile

Sareadi
Sareadi

ARTIKEL LAIN