EDUKASI
Orang Madura Mengasuh Anak

Cara Orang Madura Mengasuh Anak

Indonesia memiliki beraneka ragam suku dan budaya. Begitu pun dengan masyarakat yang mendiaminya memiliki berbagai latar belakang sosial berbeda, pendidikan dan ekonomi. Tentunya keanekaragaman ini juga berdampak pada berbedanya metode dan pola asuh orangtua dalam mendidik dan mengasuh anak anaknya. Misalnya pada sebagian suku Batak, anak dididik sangat keras sedari dini untuk menanamkan jiwa disiplin dan ketegasan didirinya. Pada suku Jawa hingga Madura, cara mengasuh anak, anak diajarkan tata bahasa dari yang kromo (halus) hingga yang ngoko (kasar), agar mereka tahu penempatan bahasa yang sesuai dengan lawan bicaranya. Pengasuhan masyarakat suku minang mengajarkan anaknya sedini mungkin untuk belajar ke ‘surau’ atau masjid, untuk memegang teguh keyakinan yang dipatri sejak dini.

Berdasarkan tata bahasa pola asuh, pola berarti gambaran yang dipakai dalam memberi contoh. Pola asuh orang tua merupakan pola perilaku yang diterapkan kepada anak bersifat relatif tetap, dari segi negatif maupun positif. Pola asuh yang ditanamkan berbeda, tentu hal ini tergantung pada cara pandang dari tiap orangtua. Secara harfiah, metode pola asuh ialah cara yang digunakan orangtua dalam menjaga, merawat dan mendidik anak yang konsisten dari waktu ke waktu.

Ada beberapa pola pengasuhan menurut  Baumrind dalam Santrock (2007) :

Pertama, pengasuhan otoritarian atau otoriter, yaitu gaya pengasuhan yang membatasi dan relatif memberikan hukuman pada anak. Orangtua mendesak anak untuk mengikuti arahan mereka serta menghormati pekerjaan dan upaya mereka. Orangtua yang otoriter menerapkan batas dan kendali yang tegas pada anak dan meminimalisir perdebatan verbal. Orangtua otoriter sering memukul anak, memaksakan aturan secara kaku tanpa menjelaskannya dan menunjukkan amarah pada anak.

Artikel Terkait  Wamenag Optimis Indonesia Bisa Jadi Negara Terdepan Produk Halal

Kedua, pengasuhan otoritatif atau gaya pengasuhan ini mendorong anak untuk mandiri namun masih menerapkan batas dan kendali pada tindakan mereka. Orangtua bersikap hangat dan penyayang terhadap anak, serta mengutamakan dialog dan diskusi. Orangtua yang otoritatif menunjukan kesenangan dan dukungan sebagai respon terhadap perilaku konstruktif anak. Orangtua juga mengharapkan perilaku anak yang dewasa, mandiri, dan sesuai dengan usianya.

Ketiga, pengasuhan yang mengabaikan. Gaya pengasuhan ini dicirikan dengan orangtua yang sangat tidak terlibat dengan kehidupan anak. anak yang memiliki orang tua yang mengabaikan merasa bahwa aspek lain kehidupan orangtua lebih penting daripada diri mereka.

Terakhir, pengasuhan yang menuruti (permisif), pada gaya pengasuhan ini, orangtua sangat terlibat dengan anak, namun tidak terlalu menuntut dan mengontrol mereka. Orangtua memberikan anak melakukan apa yang diinginkan.

Indonesia memiliki suka atau budaya yang beragam. Mulai dari Batak, Minangkabau, Melayu, Jawa, Sasak, Ambon dan lainnya. Ternyata disetiap daerah diketahui memiliki perbedaan pola asuh. Penelitian pola asuh yang dilakukan di Madura yang dilakukan oleh Kurniasari (2016), diperoleh data bahwa rata-rata orangtua yang berpendidikan dibawah dan sarjana dominannya menganut pola asuh demokrasi. Terlihat dari jawaban informan yang menyatakan bahwa orang tua memberikan kesempatan kepada anak untuk membicarakan mengenai apa yang ia inginkan serta merundingkan segala hal yang terjadi kepada keluarga. Namun, ada juga yang menganut paham otoriter. Disebut otoriter karena menurut orang tua yang sebagai informan menyatakan anak harus patuh terhadap peraturan yang dibuat meskipun anak tidak menyukainya. Serta orang tua tidak suka anak membantah perkataan yang orangtua tersebut lontarkan. Semua keputusan dan kekuasaan berada penuh di tangan orangtua. Memarahi dan bahkan memukul adalah hal wajar yang dilakukan orangtua supaya tidak terjadi pengulangan kesalahan yang sama.

Artikel Terkait  Kurikulum Sarjana Kedepankan Pembentukan Karakter

Namun, dalam temuan Karnadi (2019) didapatkan hasil penelitian pola asuh di Madura bahwa pada suku Madura menerapkan pola asuh otoriter dan permisif yang mana orangtua sangat keras kepada anak, tidak memberikan alasan yang jelas ketika marah, dan membiarkan perilaku anak. Ini disebabkan karena suku Madura adalah orang yang giat bekerja sehingga menjadikan mereka sibuk, karena itu membuat orangtua tidak memahami cara mendidik anak secara tepat.

Pola pengasuhan adat Jawa yang dikemukakan oleh temuan Baiduri dkk., (2019) memperlihatkan bahwa pola yang diterapkan untuk membentuk “seseorang Jawa” memegang dua prinsip penting, yakni hormat dan kerukunan. Sejak hamil orangtua suku Jawa dibekali kantong yang berisi rempah-rempah, gunting, pisau lipat yang dipercaya dapat menjauhkan dari roh-roh halus. Saat usia tujuh bulan ada ritual nujuh bulanan (tujuh bulanan) sebagai ritual selamatan. Masyarakat Jawa juga percaya dengan pantangan-pantangan yang tidak boleh dilanggar saat hamil. Keluarga Jawa juga akan mengajarkan nilai-nilai budaya Jawa yang memegang teguh dua prinsip penting nilai kejawen mengenai tata krama yakni hormat dan kerukunan. Sikap hormat tersebut terbagi lagi wedi, isin dan sungkan yang berarti takut, malu, dan sungkan.

Artikel Terkait  Menakar Posisi Corona Antara Adzab Atau Ujian

Menurut temuan Rengiwur, dkk (2015) ditemukan adanya perbedaan metode pola asuh yang diberikan pada anak laki-laki dan perempuan di Desa Batu Merah Kota Ambon. Masyarakat disana masih memegang nilai budaya yang teguh mengenai tradisi masyarakat setempat yang mana mengagungkan anak laki-laki, karena anak laki-laki akan meneruskan nama keluarga. Kehadiran anak pertama memang membahagiakan, namun kehadiran anak laki-laki selalu mereka harapkan guna melengkapi kehagiaan keluarga mereka. Masyarakat setempat menyatakan secara psikologis anak perempuan lebih dekat dengan orangtua, bahkan sering menyita waktu dan biaya, karena anak perempuan harus selalu terlihat bersih, cantik, terampil mengerjakan rumah guna untuk keahliannya jika hidup berkeluarga kelak.

Dapat disimpulkan bahwa setiap orangtua memiliki pola asuh yang berbeda kepada anaknya, hal tersebut dilatar belakangi oleh berbagai faktor, salah satunya budaya yang dianut oleh keluarga itu sendiri.

ARTIKEL LAIN