EDUKASI

Bijak Memahami Tren Media Sosial di Era Milenial

Judul               : Media Sosial Agama Baru Masyarakat Milenial          

Penulis           : Nurudin  

Penerbit         : Intrans Publishing   

Cetakan          : 2018

Tebal              : 184 halaman

ISBN               : 978-602-629-36-57

Presensi         : Abdul Warits*

 Media sosial telah menjadi kepentingan berbagai kalangan untuk mencapai berbagai tujuannya di berbagai ranah kehidupan seperti politik, ekonomi, budaya, seni, sosial dan lainnya. Media sosial hari ini memang menjadikan manusia bisa mengekpresikan sebebas-bebasnya kehendaknya. Di sisi lain, media sosial menjadi positif jika digunakan untuk mempromosikan produk-produk atau berbagai jenis bisnis lainnya. Akan tetapi, media sosial akan menjadi “keruh” ketika masyarakat hanya menciptakan hoaks yang menjadi epidemi terhadap pemikiran masyarakat Indonesia.

 Buku Media Sosial Agama Baru Mayarakat Milenial menjadi refleksi dan referensi dalam menyikapi media sosial hari ini  yang semakin menunjukkan perkembangannya setiap waktu. Buku ini merupakan kumpulan esai Nuruddin, penulis buku ini, dari sekian banyak karyanya yang dimuat di media massa cetak dan online. Semua esai yang dituliskan secara keseluruhan membahas tentang bagaimana gerak media yang ada di Negara Indonesia dibenturkan dengan beragam kasus-kasus aktual lainnya. Seperti media ketika dihadapkan dengan kontestasi politik, sikap independensi, etika dan lainnya.

Artikel Terkait  Menyemai Sikap Kepedulian Kepada Sesama Sejak Remaja

Gagasan yang menarik di dalam buku ini didasari dengan argumentasi yang sangat rasionalitas. Contoh kecilnya hoaks akan dianggap menjadi fakta yang tertunda. Bagaimana tidak, jika awalnya penyebarnya sengaja melempar hoaks kemudian terjadi perdebatan. Dalam perdebatan itu, akan ada pro dan kontra. Lalu, opini dimainkan. Kemudian aka nada usulan-usulan untuk penyelesaian sampai saling menantang di pengadilan. Dari sinilah hoaks itu bisa jadi benar sesuai fakta atau tidak (hal. 13). Inilah yang dimaksud bahwa hoaks adalah fakta tetapi masih tertunda.  

Fakta-fakta baru media  massa salah satunya bagaimana peran hanstag sebagai salah satu pemicu sekaligus menjadi pemersatu. Akan tetapi, gerakan hanstaq ini merupakan gerakan spontan masyarakat dari berbagai macam kepentingan. Sehingga hanstaq menjadi gerakan sosial masyarakat masa kini. Karenanya, kita tidak bisa memandang sebelah mata hanstaq yang ada di media sosial. Hanstaq bisa menjadi pisau bermata dua. Ia bisa membuat popularitas seseorang atau lembaga, mencari keuntungan dan lain-lain. Namun demikian, hanstaq juga menjadi aturan hukum sementara hakimnya adalah individu. Netizen bisa menghakimi orang lain atau lembaga tertentu hanya dengan hanstaq sehingga kemudian menjadi trending topic di jagat media massa. (hal. 35)

Artikel Terkait  Berjuang Didera Cobaan

Sebagai masyarakat terdidik, dalam menyikapi berbagai macam hanstaq yang bergentayangan saat ini seyogyanya kita harus menyikapinya sebagai sebuah gerak perkembangan teknologi komunikasi. Meski hanstaq tersebut seakan mengajak berperang pikiran dan emosi apalagi saat ada kontestasi politik di negeri ini. Jangan sampai hanya gara-gara hanstaq ini kemudian terjadi tindakan kekerasan di Negara Indonesia sampai bertumpah darah. Maka, hanstaq harus dibalas dengan hanstaq. Maka, masyarakat Indonesia bukan masih berada dalam budaya komentar tetapi lebih kepada budaya berpikir dan bekerja. Karena berpikir dengan jernih menghadapi media sosial akan lebih mematangkan seseorang dalam merespon sesuatu.

Menjamurnya media massa online hari ini menjadi tugas tersendiri bagi kaum terdidik agar tidak mudah diprovokasi oleh berbagai kepentingan. Karena realitanya, masyarakat kita dalam mengkonsumsi sebuah informasi memang berdasar kepada selective perception yaitu kecendrungan individu yang secara sadar akan mencari informasi yang bisa mendorong kecenderungan dirinya (bisa pendapat, sikap atau keyakinan). Sebab itulah, diperlukan sikap kritis dan tabayun (verivikasi) dalam menyerap fakta yang ada dalam sebuah berita. Karena media sosial telah menjadi alat penyebar luas hasrat manusia. Buku ini sangat baik dibaca bagi semua kalangan. Di dalamnya tidak hanya menyajikan kasus seputar media yang ada di negera Indonesia tetapi juga menyinggung bagaimana gerak media di luar negeri seperti di Amerika Serikat dan lainnya.

Artikel Terkait  Strategi Bangsa Mongol Mengguncang Dunia dan Kisah-Kisah Keruntuhannya

Salah satu rekomendasi yan ditawarkan di dalam buku ini agar media harus memberitakan sesuatu yang bermakna. Artinya, media tidak hanya memberitakan fakta linear tetapi fakta yang menyeluruh dan mencakup. Misalnya media memberitakan proses latar belakang, proses dan riwayatnya, dan mengaitkannya dengan yang lain. Dengan hal ini, maka media akan memiliki reputasi yang baik, tidak hanya sebatas sebagai alat komoditas fakta politik untuk tujuan-tujuan politik sesaat pula.  

ARTIKEL LAIN