EDUKASI

Belajar Strategi Dakwah yang Memikat Nurani

Judul                : Tuhan Ada di Hatimu       

Penulis           : Husein Ja’far Al-Hadar      

Penerbit         : Noura Book    

Cetakan          : Juli, 2020

Tebal              : 203  halaman

ISBN               : 978-623-242-147-9

Presensi         : Abdul Warits*

 Mengemas dakwah Islam tentu harus disertai dengan etika yang baik. Sikap ini yang seringkali diabaikan oleh mayoritas umat hari ini. Mereka ingin berdakwah tetapi tidak memiliki strategi yang baik untuk masyarakat. Berdakwah harus dengan hati nurani yang baik dan diniatkan untuk umat semata.  Ini penting dilakukan agar niat yang baik bisa disertai dengan proses dan perbuatan yang baik pula. 

Buku ini mengulas secara detail bagaimana sikap sufistik harus disemai dalam hati setiap manusia, bukan hanya sebatas perbuatan formalitas semata tetapi hilang esensinya. Judul buku ini sebenarnya kutipan dari seorang sufi besar, Jalaludin Rumi, dalam kitab Masnawi,”aku mencari tuhan di masjid, gereja, dan kuil. Tapi, aku menemukan-Nya di hatiku,” kemudian dimodifikasi menjadi cuitan di Twitter sesuai dengan konteks foto yang beredar di media sosial (hal. 15). Begitulah Husein Ja’far Al-Hadar, penulis buku ini mengungkapkan latar belakang penulisannya.

Artikel Terkait  Melestarikan Ruhani di Tengah Pandemi

Salah satu nilai dakwah Rasulullah SAW yang disampaikan di dalam buku ini. Pertama, berikanlah kabar gembira bukan ketakutan. Kedua, permudah jangan persulit. Ketiga, mempersatukan bukan mencerai-beraikan. Ketiga metode tersebut jika diaktualisakan ke dalam kehidupan sehari-hari maka akan bernilai kebenaran karena sejatinya dakwah sudah bernilai kebenaran akan tetapi bagaimana menyampaikannya dengan metode yang baik itu adalah tugas kita bersama.

Jika anda mencari ustaz atau konten Islami, rasakan dengan hati. Jika setelah mendengarnya, anda jadi penuh ketakutan, hidup jadi sulit, dan jadi membenci sesama muslim atau sesama manusia, maka atas nama nabi tinggalkan ia! Mungkin yang disampaikan benar. Namun, anda berhak mendengarnya dari mulut yang baik dalam menyampaikannya. (hal. 59).

Selain berpatokan kepada Alquran, hadits, kisah para nabi, dan sahabat, buku ini juga mengutip beberapa kisah dan perkataan dari orang-orang shaleh seperti yang dikutip dalam buku ini adalah perkataan Gus Mus bahwa jangan sampai orang yang berdakwah kalah dengan kernet bus. Mereka mengajak dengan cara yang baik, merayu (hal. 178). Karenanya, seorang muslim diajarkan untuk radikal dalam pikiran bukan radikal dalam perbuatan. Selayaknya orang yang ingin berdakwah memiliki strategi-strategi jitu dalam menyampaikannya kepada masyarakat.

Artikel Terkait  Setelah Pesantren Berubah Wajah (Dari NU ke Wahabi)

Esai-esai mendalam di dalamnya juga merespon isu-isu realitas kekinian yang sedang terjadi di lingkungan kita. Seperti bagaimana kita sebagai bagian dari masyarakat dunia merefleksikan di balik hikmah gagalnya jamaah haji karena virus covid-19 yang sedang melanda dunia. Masjid bisa robohkan, kakbah bisa sepi, tapi hati manusia yang beriman akan abadi dalam ketaatan dan kecintaan pada-Nya. (hal. 16).

Perdebatan tentang kehalalan dan keharaman menikmati musik, dakwah dengan film dan lainnya. Karenanya, isu-isu terkini yang dibahas dalam buku ini adalah sesuatu yang membutuhkan dari orang-orang yang paham tentang agama  dan bisa meluruskannya. Karenanya, dibuku ini dijelaskan bahwa dakwah kita pun bukan modal tahu teks agama, tapi konteks masyarakat. Harus memberi solusi, bukan hanya menghukumi, harus bertahap bukan melahap, harus membaru bukan membentur, harus memahami bukan hanya mencakoki (hal. 177).

Artikel Terkait  Bom Itu Bernama Agama

Oleh sebab itu, untuk mencapai kebijaksanaan maka harus memenuhi tiga hal ini : kebenaran, kebaikan dan keindahan. Begitupun dalam menyampaikan dakwah kepada masyarakat. Tidak hanya nilai-nilai kebenaran saja, tetapi harus dikemas dengan nilai kebaikan dan keindahan.

Abdul Warits, Redaktur Pcnusumenep.or.id

ARTIKEL LAIN