EDUKASI
Begadang

Begadang dalam Pandangan Islam

Begadang termasuk bagian hidup muslim yang diatur dalam agama. Agama islam adalah agama yang mewajibkan pemeluknya untuk selalu beribadah kepada Allah Subhanahu Wa ta’ala. Ya, kalimat ini berasal dari Surah Adz-Dzariyat ayat 56. Manusia dan Jin diciptakan untuk beribadah.

Tentu tidak terbatas pada ibadah umum seperti shalat.

Ambil contoh, seorang muslim yang menjaga waktunya dalam hal kemanfaatan dan tidak melanggar aturan Allah, juga merupakan bentuk ibadah. Rasullah menyatakan bahwa meninggalkan yang tidak bermanfaat adalah kebaikan muslim. Berikut adalah redaksi dari hadist tersebut;

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ

Artinya : “Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat” (H.R. at-Tirmidzi).

Muslim yang menjaga waktu dalam kebermanfaatan yang diridhoiNya, juga merupakan tanda hati yang sehat. Tanda hati yang sehat diikuti dengan ucapan lisan, tindakan hati berupa kehendak, dan pergerakkan anggota tubuh untuk beribadah kepadaNya. Apabila hati tersebut memiliki komando yang baik, maka tentara yang lain, yakni anggota tubuh akan melakukan hal yang baik pula. Namun, apabila hati tidak menjadi komando yang baik, niscaya kegiatan kegiatan yang dilakukan akan jauh dari kata manfaat.

Artikel Terkait  Dasar Hentikan Shalat Jumat Sebab Virus Corona

Ulama biasanya menyebutnya hati yang sakit. Hati yang terkadang cenderung ke arah hati yang sehat, dan terkadang cenderung ke arah hati yang mati. Allah telah berfirman dalam Surah Al-Hajj:52-54 mengenai klarifikasi hati.

Muslim berhati sakit akan terbiasa dengan hal-hal tidak bermanfaat. Hati tersebut tidak bisa menilai dengan baik akibat dari apa yang anggota tubuhnya kerjakan.

Contohnya adalah kegiatan begadang tidak bermanfaat. Begadang pada anak muda, identik dengan kegiatan-kegiatan yang kurang atau bahkan tidak bermanfaat sama sekali. Seperti menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk bermain game onlineMenghabiskan waktu hampir 1 jam lamanya hanya untuk minum secangkir kopi, atau bahkan ikhtilath.Tentunya, hati yang sakit tidak akan menyadarinya.

Artikel Terkait  Rahasia Turunnya Lailatul Qadar Menurut Gus Baha

Hukum Begadang Dalam Islam

Hukumnya boleh asal tidak melanggar syari’at . Dalam hal ini, kita patut mencontoh teladan ulama Salaf. Datang dari kitab, Siyar A’laamin Nubalaa’, Kisah Fudhail bin Ghazwan dan 3 temannya cukup menjadi contoh yang baik bagaimana melek yang seharusnya. 3 temannya tersebut adalah Ibnu Syubrumah, al-Harits bin Yazid al-Alaki, al-Mughirah, dan Qa’qa bim Yazid.

Mereka berjaga dengan kegiatan diskusi tentang Fiqih. Diskusi itu mereka lakukan hingga adzan shubuh tiba. Lalu, apakah berjaga harus membahas tentang agama saja ?. Tentu tidak.

Islam bukanlah agama yang tidak menerima perubahan yang baik dan benar. Justru setiap perubahan yang baik dan benar pada masa sekarang, adalah berkat anjuran ahli agama terdahulu. Ulama-ulama kontemporer memahami keterangan itu dengan baik.

Artikel Terkait  Ulama India Perbolehkan Ganti Hewan Kurban dengan Uang

Syaikhul Islam Ibnu Taimmiyah rahimahullah mengatakan, “Begadang yang sesuai dengan syari’at, berupa shalat, berdzikir, membaca, menulis, atau bervariasi sesuai dengan keragaman manusia”.

Keterangan Syaikhul Islam Ibnu Taimmiyah ini memberikan kita gambaran jelas bahwa berjaga sejatinya boleh. Syarat utamanya adalah tidak melanggar ketetapan Allah. Ulama menjelaskan bahwa inilah berjaga yang syar’i;

  • Tidak membuat seseorang meninggalkan shalat shubuh (di masjid bagi yang laki-laki)
  • Isi dengan kegiatan yang bermanfaat.
  • Jika harus berkumpul dengan non-muhrim, maka jagalah pandangan, dan bawa teman yang lain untuk dapat saling mengingatkan.
  • Tidak menimbupkan mudharat yang menimpa tubuh, seperti masuk angin

ARTIKEL LAIN